Bisnis.com, JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih bergerak dalam tekanan di tengah sentimen pasar menantikan Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada pekan ini. Bahkan, ada peluang BI mengerek BI Rate dari level saat ini 4,75%.
Tim riset OCBC Sekuritas mengatakan rupiah juga mengalami tekanan signifikan. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tercatat berada di level Rp17.648 atau melemah dibandingkan posisi penutupan perdagangan pekan lalu.
Pelaku pasar kini menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada pekan ini.
"Dengan pelemahan rupiah yang cukup tajam, pasar memperkirakan Bank Indonesia akan menaikkan suku bunga sebesar 25 bps dalam RDG minggu ini guna menjaga stabilitas nilai tukar," ujar tim riset, Senin (18/5/2026).
Saat ini, suku bunga BI-7 Day Reverse Repo Rate (BI7DRRR) berada di level 4,75%.
Selain keputusan suku bunga Bank Indonesia, investor juga akan mencermati rilis risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC Minutes) Amerika Serikat untuk mencari petunjuk arah kebijakan moneter The Fed ke depan.
Baca Juga
- Bos BEI Jelaskan Biang Kerok IHSG Anjlok, Sejalan Bursa Global
- Prabowo Panggil Bos Danantara, Menkeu hingga Gubernur BI Saat Rupiah Hingga IHSG Turun
- IHSG Ditutup Melemah, Saham TLKM-PTBA Masih Perkasa
Menurut tim OCBC Sekuritas, pelaku pasar global masih dibayangi kekhawatiran terhadap memanasnya tensi geopolitik karena belum tercapainya gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran. Kondisi tersebut memicu lonjakan harga energi dan meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap risiko inflasi global hingga potensi stagflasi.
Kekhawatiran itu semakin meningkat setelah Amerika Serikat melaporkan inflasi sebesar 3,8% yang didorong oleh kenaikan harga energi. Situasi tersebut membuat harga minyak dunia bertahan di atas US$105 per barel.
Bagi Indonesia yang masih berstatus net importir minyak, lonjakan harga minyak berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap perekonomian domestik. Selain meningkatkan beban impor energi, kondisi ini juga berisiko memperlebar defisit transaksi berjalan dan menekan stabilitas nilai tukar rupiah.
Tekanan terhadap rupiah yang menembus level Rp17.600 per dolar AS turut dibarengi kenaikan yield obligasi pemerintah. Kondisi ini mengindikasikan adanya aliran dana asing keluar dari pasar keuangan domestik seiring meningkatnya aversi risiko global.
Pada penutupan perdagangan Senin (18/5/2026), IHSG terkoreksi cukup dalam sebesar 1,9% ke level 6.599 dan memperpanjang tren bearish yang telah berlangsung dalam beberapa waktu terakhir.
Tekanan jual terjadi hampir di seluruh sektor. Sektor transportasi menjadi yang paling terpukul setelah anjlok 6,2%, disusul sektor basic industry yang turun 5,2% serta sektor industrial yang melemah 3,2%.
Koreksi tajam tersebut turut dipengaruhi aksi jual pada sejumlah saham big caps seperti DSSA, TPIA, BBRI, dan AMMN yang menjadi penekan utama pergerakan indeks.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





