Bisnis.com, JAKARTA - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan membuang semua "hadiah" yang diberikan saat dirinya berkunjung ke China pada beberapa waktu lalu.
Hadiah tersebut berupa telepon seluler sekali pakai, kartu identitas, pin, dan perangkat elektronik.
Dalam sebuah laporan menyebutkan bahwa delegasi Presiden Trump membuang semua barang yang digunakan di China saat bersiap untuk naik Air Force One.
Kemudian melansir Seoul Economic Daily, membuang semua barang yang "diberikan" saat berada di China adalah tindakan preventif untuk menjaga keamanan negara.
Hal tersebut menjauhkan pemerintah AS dari kemungkinan praktik pemasangan alat penyadap atau kode berbahaya.
Standar yang jauh lebih ketat berlaku juga untuk kunjungan ke Rusia. Keamaan yang diperketat juga menjadi alasan mengapa unggahan media sosial Trump berkurang secara signifikan selama kunjungan ke China.
Baca Juga
- Harga Minyak Dunia Melesat Usai Trump Ancam Iran soal Negosiasi Damai
- Setelah Donald Trump, China Bersiap Menyambut Vladimir Putin
- "Oleh-oleh" Donald Trump setelah Berkunjung ke China menurut Analis
Namun beberapa pihak menafsirkan bahwa pembuangan ini memiliki makna di luar sekadar tindakan keamanan.
Terlepas dari jadwal diplomatik intensif selama tiga hari dua malam, kedua pihak gagal menghasilkan pernyataan bersama atau kesepakatan khusus, dan tidak ada hasil yang jelas yang dicapai pada isu-isu kunci seperti Taiwan, perdagangan, dan Iran.
Oleh-oleh Kenegaraan Trump setelah Pulang dari China
Analis LA Times Michael Wilner menganalisis beberapa "oleh-oleh" yang dibawa Donald Trump dari China. Pertama adalah julukan baru.
Saat Presiden Trump meninggalkan Beijing pada hari Jumat, media sosial Tiongkok kembali memunculkan julukan yang familiar untuk presiden tersebut.
Menurut laporan LA Times, media sosial China menyebut Trump sebagai Chuan Jianguo yang artinya "Sang Pembangun Bangsa".
Namun menurut analis LA Times, julukan itu bukan dimaksudkan sebagai pujian.
Bangsa yang sedang dibangunnya, menurut Tiongkok, bukanlah Amerika Serikat, melainkan bangsa mereka sendiri, melalui serangkaian kesalahan yang tidak disengaja namun mahal yang dilakukan Trump di dalam dan luar negeri.
Masih menurut laporan tersebut, Trump disebut pulang dengan tangan hampa. Sebab Beijing menolak untuk menawarkan kesepakatan atau konsesi yang berarti kepada Trump.
Hal ini menandakan kepercayaan mereka yang tak terbantahkan akan kemunduran Amerika.
Pernyataan pemerintah Tiongkok di media lokal yang menyatakan hal tersebut sampai kembali ke Trump saat ia berangkat, yang membuat presiden tersebut kesal, kata seorang pejabat AS.
Tetapi Gedung Putih mendapatkan klarifikasi dari pihak Tiongkok yang disebut cukup menenangkan Trump. Amerika hanya mengalami kemunduran di bawah Presiden Biden, kata mereka.
Di sisi lain, laporan itu juga menyebut bahwa pemerintahan Trump berpendapat bahwa perjalanan itu sukses, karena telah mengamankan tampilan rekonsiliasi dan kemitraan yang dicari presiden setelah bertahun-tahun permusuhan yang semakin berbahaya.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan dirinya dan Presiden China Xi Jinping telah mencapai sejumlah kesepakatan dagang yang fantastis, tanpa menjelaskan lebih lanjut, saat memulai dialog di hari kedua kunjungannya ke Beijing, Jumat.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah prediksi kesepakatan dagang yang meliputi pembelian besar-besaran komoditas pertanian AS oleh China.
Dalam pernyataan pembukanya, Trump mengatakan dia dan Xi memiliki posisi yang sama terkait perlunya mengakhiri perang di Iran dan membuka Selat Hormuz.
"Kami membahas begitu banyak hal lain kemarin dan kami sepertinya sudah saling sepakat," kata Trump.





