Ketika Dolar Mengganas dan Rupiah Kehilangan Napas

kumparan.com
8 jam lalu
Cover Berita

Beberapa hari lalu saya sempat terkejut ketika harus membeli dolar Amerika untuk satu keperluan pribadi. Biasanya selisih kurs tidak terlalu terasa, tetapi kali ini angka di layar money changer membuat saya berhenti beberapa detik. Nilai tukar rupiah yang sebelumnya masih di kisaran Rp16 ribuan kini mendekati Rp17.600 per dolar AS. Dalam hitungan singkat, biaya yang harus dikeluarkan melonjak cukup signifikan.

Bukan hanya saya yang merasakan dampaknya. Banyak pelaku usaha impor, mahasiswa yang membayar pendidikan luar negeri, hingga masyarakat yang membeli barang berbasis dolar kini mulai merasakan tekanan yang sama. Pelemahan rupiah bukan lagi sekadar angka di layar Bloomberg atau berita ekonomi, melainkan sudah menyentuh psikologi publik dan denyut ekonomi sehari-hari.

Rupiah di Tengah Tekanan Geopolitik Global

Dalam artikel The Jakarta Post berjudul “Govt undecided on response to rupiah decline” karya Deni Ghifari, terbit 13 Mei 2026, dijelaskan bahwa rupiah sempat menyentuh level Rp17.557 per dolar AS. Angka ini menjadi salah satu titik terlemah sejak krisis moneter Asia 1998. Artikel tersebut juga menyebut bahwa tren depresiasi menguat sejak pecahnya perang AS-Israel melawan Iran pada 28 Februari 2026.

Situasi ini memperlihatkan bahwa nilai tukar rupiah sesungguhnya tidak berdiri sendiri. Ia sangat dipengaruhi arus geopolitik, sentimen pasar global, harga energi, dan persepsi investor terhadap stabilitas ekonomi nasional. Ketika perang Timur Tengah memanas, investor global cenderung menarik dana dari emerging markets seperti Indonesia lalu memindahkannya ke aset aman seperti dolar AS dan obligasi Amerika.

Fenomena ini sesuai dengan teori flight to quality dari ekonom internasional Barry Eichengreen, yakni ketika dunia mengalami ketidakpastian, modal global akan bergerak menuju instrumen yang dianggap paling aman. Dalam konteks hari ini, dolar AS masih menjadi “safe haven” utama dunia.

Akibatnya, tekanan terhadap rupiah menjadi berlapis. Pertama, keluarnya modal asing dari pasar obligasi dan saham Indonesia. Kedua, meningkatnya kebutuhan dolar untuk impor energi dan pembayaran utang luar negeri. Ketiga, psikologi pasar yang mulai khawatir terhadap kemampuan pemerintah menjaga stabilitas fiskal dan moneter.

Tidak heran bila artikel tersebut juga menyoroti kebingungan pemerintah terkait aktivasi Bond Stabilization Framework (BSF), yakni skema pembelian kembali obligasi negara untuk menjaga stabilitas pasar surat utang.

Pelemahan Rupiah dan Luka Lama Ekonomi Indonesia

Bagi Indonesia, pelemahan rupiah selalu membawa trauma historis. Krisis 1998 menjadi pengingat paling pahit bagaimana nilai tukar yang runtuh dapat menjalar menjadi krisis sosial dan politik.

Tentu kondisi hari ini berbeda. Cadangan devisa Indonesia masih relatif kuat. Bank Indonesia juga lebih independen dibanding era Orde Baru. Namun bukan berarti risiko dapat diremehkan.

Ekonom pemenang Nobel Joseph Stiglitz pernah menjelaskan bahwa negara berkembang sering kali rapuh karena terlalu tergantung pada arus modal global jangka pendek. Ketika modal asing masuk, ekonomi terlihat kuat. Tetapi saat modal keluar, fondasi ekonomi langsung terguncang.

Indonesia masih memiliki problem klasik itu. Struktur ekonomi nasional belum sepenuhnya berbasis industri bernilai tambah tinggi. Ketergantungan pada impor bahan baku, impor energi, dan pembiayaan asing masih cukup besar.

Ketika rupiah melemah, efek domino segera terasa:

Harga barang impor naik

Biaya produksi industri meningkat

Inflasi terdorong naik

Daya beli masyarakat melemah

Beban utang pemerintah dan swasta dalam dolar meningkat

Bahkan masyarakat kecil pun akhirnya ikut terkena dampaknya. Harga pangan, elektronik, obat-obatan, hingga ongkos transportasi perlahan terdorong naik karena banyak komponen ekonomi Indonesia masih terhubung dengan dolar.

Yang menarik, pelemahan rupiah kali ini juga terjadi ketika pertumbuhan ekonomi domestik sebenarnya tidak dalam kondisi kolaps. Ini menunjukkan bahwa faktor eksternal global kini jauh lebih dominan dibanding sebelumnya.

Learning Point: Indonesia Tidak Bisa Terus Bergantung pada “Cuaca Global”

Ada pelajaran besar yang seharusnya dipetik Indonesia dari episode ini.

Pertama, ketahanan ekonomi nasional tidak cukup hanya mengandalkan stabilitas makro di atas kertas. Indonesia membutuhkan transformasi ekonomi yang lebih mendalam: industrialisasi serius, penguatan manufaktur, hilirisasi yang nyata, serta pengurangan ketergantungan impor strategis.

Kedua, diversifikasi mitra dagang dan sistem pembayaran internasional harus dipercepat. Ketergantungan berlebihan pada dolar AS membuat ekonomi domestik sangat rentan terhadap gejolak geopolitik dunia. Langkah penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan regional sebenarnya sudah dimulai, tetapi implementasinya masih terbatas.

Ketiga, koordinasi pemerintah dan bank sentral harus solid. Dalam artikel Deni Ghifari tersebut terlihat adanya sinyal berbeda antara otoritas fiskal dan moneter terkait langkah stabilisasi. Pasar keuangan sangat sensitif terhadap inkonsistensi komunikasi. Sedikit keraguan saja bisa memicu kepanikan investor.

Keempat, Indonesia harus belajar bahwa kekuatan ekonomi modern bukan hanya soal angka pertumbuhan, tetapi juga soal ketahanan menghadapi guncangan global. Negara yang kuat bukan negara yang tak pernah diterpa badai, melainkan negara yang memiliki fondasi cukup kokoh ketika badai datang.

Ironisnya, di tengah pelemahan rupiah, sebagian elite masih sibuk membangun pencitraan pertumbuhan ekonomi tanpa cukup serius membahas kualitas fundamentalnya. Padahal masyarakat mulai merasakan langsung bahwa nilai tukar bukan isu abstrak ekonom kampus, melainkan penentu harga hidup sehari-hari.

Rupiah yang melemah hari ini seharusnya menjadi alarm nasional. Bukan untuk panik, tetapi untuk sadar bahwa Indonesia tidak bisa terus menggantungkan stabilitas ekonominya pada “cuaca global”. Sebab selama fondasi ekonomi belum benar-benar mandiri, setiap perang di Timur Tengah, setiap kenaikan suku bunga The Fed, dan setiap kepanikan pasar dunia akan selalu mengguncang dapur rakyat Indonesia.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
BYD Resmi Luncurkan M6 DM Berteknologi PHEV, Cek Spesifikasinya!
• 8 jam lalubisnis.com
thumb
Anak Buah Gubernur NTT Pecat Pegawai KONI yang Puluhan Tahun Mengabdi
• 16 jam lalukompas.id
thumb
Koalisi Pemerintah Gaduh, Alasan Anwar Ibrahim Ingin Bubarkan Parlemen Malaysia
• 16 jam laluviva.co.id
thumb
Marc Klok Pastikan Persib Aman Usai Insiden Suporter di Parepare: Ini Kado Spesial untuk Bobotoh
• 16 jam lalubola.com
thumb
Jakarta Timur Macet Parah usai Libur Panjang, Jalan Basuki Rahmat Jadi Titik Terpadat
• 20 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.