FAJAR, SEMARANG –Penunjukan Widodo Cahyono Putro sebagai pelatih anyar PSIS Semarang ternyata bukan hanya membuka babak baru di kursi kepelatihan. Lebih dari itu, keputusan tersebut kini menghadirkan “bola panas” besar yang akan menentukan arah kebangkitan Mahesa Jenar musim depan: siapa striker asing utama yang akan dipilih Widodo?
Dan nama-nama yang muncul bukan pemain sembarangan.
Mulai dari Gustavo Tocantins, Everton Nascimento, hingga Carlos Fortes kini ramai dikaitkan dengan PSIS.
Masing-masing membawa karakter, cerita, dan potensi berbeda.
Namun justru di situlah tantangan terbesar Widodo dimulai.
PSIS tidak sekadar membutuhkan striker yang bisa mencetak gol. Mereka membutuhkan sosok yang mampu menjadi wajah baru kebangkitan klub setelah terdegradasi ke Championship.
Target promosi membuat posisi penyerang asing menjadi sangat krusial.
Dan dari semua nama yang beredar, Gustavo Tocantins mungkin menjadi opsi paling “mewah”.
Striker asal Brasil milik PSS Sleman itu baru saja dinobatkan sebagai pemain terbaik Championship 2025/2026 setelah tampil luar biasa bersama Super Elja.
Statistiknya bahkan terasa gila untuk ukuran kompetisi kasta kedua.
Sebanyak 24 gol dan 10 assist menjadi bukti bahwa Tocantins bukan sekadar striker biasa. Ia bukan hanya finisher, tetapi juga pemain yang mampu membangun permainan dan membuka ruang bagi rekan setimnya.
Menariknya lagi, kontraknya bersama PSS akan habis pada akhir Mei 2026.
“Jujur, saya belum tahu soal masa depan karena kontrak saya habis pada Mei ini,” ujar Tocantins.
Pernyataan itu langsung membuat banyak klub mulai bergerak memantau situasinya, termasuk PSIS Semarang.
Apalagi secara karakter, Tocantins cocok dengan filosofi permainan Widodo yang menyukai penyerang aktif dan agresif dalam transisi menyerang.
Meski demikian, merekrut Tocantins jelas tidak akan mudah.
PSS Sleman tentu tidak ingin kehilangan pemain terbaik mereka begitu saja, terlebih sang striker sendiri masih membuka keinginan bertahan.
“Tentu saya ingin tetap berada di sini (PSS), tetapi juga harus ada persetujuan dari klub,” katanya.
Di sisi lain, opsi yang lebih realistis justru bisa mengarah kepada Everton Nascimento.
Nama ini memiliki hubungan emosional dan taktikal yang kuat dengan Widodo. Everton adalah mantan anak asuhnya di Garudayaksa FC dan dikenal sebagai striker yang memahami gaya permainan sang pelatih.
Bukan hanya itu, Everton juga punya sejarah besar di sepak bola Indonesia setelah pernah membawa PSM Makassar meraih gelar Super League.
Pengalaman itu membuatnya memiliki mental kompetitif yang sangat dibutuhkan PSIS dalam perburuan promosi.
Jika Widodo ingin membangun tim dengan adaptasi cepat, Everton bisa menjadi pilihan paling aman karena chemistry keduanya sudah terbentuk sejak sebelumnya.
Namun ada satu nama lain yang mungkin paling emosional bagi suporter PSIS: Carlos Fortes.
Striker asal Portugal itu pernah menjadi pujaan publik Stadion Jatidiri saat memperkuat PSIS pada musim 2023/2024. Dengan postur tinggi, duel udara kuat, dan gaya bermain penuh tenaga, Fortes menjadi salah satu striker asing paling berkarakter yang pernah dimiliki Mahesa Jenar dalam beberapa musim terakhir.
Selama membela PSIS, Fortes mencetak 10 gol dan satu assist dari 20 pertandingan.
Catatan itu membuat namanya masih sulit dilupakan Panser Biru maupun Snex.
Kini rumor kepulangannya mulai menghangat kembali.
Meski saat ini bermain di Vietnam bersama SLNA FC setelah sempat merantau ke kasta kedua Liga China, Fortes mengaku tidak menutup peluang kembali ke Semarang.
“Untuk saat ini masih sebatas rumor,” ujar Fortes saat dihubungi melalui pesan Instagram, Sabtu (16/5/2026).
Pernyataan itu memang belum menjadi sinyal pasti, tetapi cukup untuk membuat spekulasi semakin liar.
Secara karakter, Fortes menawarkan sesuatu yang berbeda dibanding Tocantins maupun Everton. Ia lebih kuat sebagai target man klasik—tipe striker yang mampu menjadi titik tumpu serangan dan memaksa pertahanan lawan bermain lebih dalam.
Masalahnya, Widodo kini harus menentukan arah permainan PSIS lebih dulu sebelum memilih siapa striker utama mereka.
Jika ingin bermain cepat dengan pressing agresif, Tocantins tampaknya menjadi opsi ideal.
Jika ingin stabilitas dan adaptasi cepat, Everton bisa menjadi jawaban.
Tetapi jika PSIS ingin menghadirkan figur dengan kedekatan emosional kuat bersama suporter sekaligus ancaman fisik di lini depan, Carlos Fortes jelas sulit diabaikan.
Dan di situlah letak “bola panas” sebenarnya.
Sebab keputusan Widodo nanti bukan hanya soal memilih striker asing, tetapi juga menentukan identitas baru PSIS Semarang dalam upaya kembali ke Super League.
Kini publik Semarang tinggal menunggu: siapa yang akan menjadi ujung tombak revolusi Widodo C Putro?





