Perluas produksi, Sumedang kembangkan ubi Cilembu via kultur jaringan

antaranews.com
19 jam lalu
Cover Berita
Sumedang (ANTARA) - Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, terus mengembangkan Ubi Cilembu sebagai komoditas unggulan daerah melalui inovasi kultur jaringan guna memperluas produksi dan meningkatkan daya saing pasar.

Kepala DKPP Sumedang Tono Suhartono di Sumedang, Senin, mengatakan pengembangan Ubi Cilembu dilakukan secara terintegrasi dari sektor hulu hingga hilir.

“Pengembangan Ubi Cilembu ini terus kita dorong di hulu melalui kultur jaringan dan juga hilirisasi agar bisa memperluas produksi sekaligus meningkatkan daya saing pasar,” katanya.

Ia menjelaskan Ubi Cilembu merupakan komoditas khas Sumedang yang memiliki rasa manis menyerupai madu setelah dipanggang, sehingga menjadi pembeda utama dibandingkan ubi jalar lainnya.

Menurut Tono, karakteristik tersebut menjadi potensi besar agar Ubi Cilembu mampu bersaing di pasar global.

Tono mengatakan pengembangan saat ini dilakukan melalui teknologi kultur jaringan untuk memperluas budidaya tanpa sepenuhnya bergantung pada kondisi tanah asal Cilembu.

Ia menyebutkan uji coba telah dilakukan di sejumlah wilayah dengan melibatkan kelompok tani dan aparat kewilayahan, termasuk penanaman sekitar 5.000 bibit di 26 titik kerja sama.

Sentra produksi Ubi Cilembu di Kabupaten Sumedang tersebar di empat kecamatan utama, yakni Pamulihan, Rancakalong, Tanjungsari, dan Sukasari dengan total luas lahan lebih dari 462 hektare.

Sementara itu, Desa Cilembu sebagai wilayah asal tercatat memiliki sekitar 229 hektare lahan budidaya dengan produksi rata-rata mencapai 1.600 hingga 1.900 ton per tahun.

Tono mengatakan produktivitas Ubi Cilembu di Sumedang berkisar 15 hingga 20 ton per hektare dan dapat mencapai 40 ton per hektare dalam kondisi optimal.

Meski memiliki potensi besar, pengembangan komoditas tersebut masih menghadapi tantangan berupa ketergantungan pada kondisi tanah tertentu serta fluktuasi produksi akibat faktor cuaca.

“Selain itu, tantangan kita adalah menjaga kontinuitas produksi karena permintaan pasar terus meningkat,” katanya.

Ia mengungkapkan permintaan Ubi Cilembu untuk kebutuhan produk olahan dan ekspor mencapai 12 hingga 40 ton per bulan sehingga kontinuitas produksi menjadi faktor penting dalam pengembangan komoditas tersebut.

Selain penguatan budidaya, Pemerintah Kabupaten Sumedang juga mendorong hilirisasi melalui pengembangan produk UMKM seperti bakpia ubi yang memanfaatkan rasa manis alami tanpa tambahan gula.

“Ubi Cilembu ini bisa diolah menjadi berbagai produk, termasuk bakpia tanpa gula tambahan karena sudah manis alami,” ujarnya.

Tono menambahkan pengembangan Ubi Cilembu diharapkan mampu memperkuat ketahanan ekonomi petani sekaligus menjadikan komoditas tersebut sebagai unggulan berkelanjutan Kabupaten Sumedang.

Baca juga: Mengenal nutrisi ubi cilembu

Baca juga: Diplomasi "ubi cilembu" ala TNI di Afrika


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Budi Daya Ikan Masih Manual, UNM Siapkan AI untuk Dongkrak Akuakultur Modern
• 11 jam lalurepublika.co.id
thumb
Bea Cukai: Pantai Timur Sumatera Masih Jadi Gerbang Utama Masuknya Sabu ke RI
• 7 jam lalukumparan.com
thumb
Kemenbud Tetapkan 430 Cagar Budaya Peringkat Nasional
• 27 menit laludetik.com
thumb
Monkey Malaria Mulai Meningkat, Seberapa Besar Risikonya di Perkotaan?
• 6 jam lalukumparan.com
thumb
Selama Libur Panjang, Stasiun Bojonegoro Layani Lebih dari 9 Ribu Penumpang
• 8 jam laluberitajatim.com
Berhasil disimpan.