Pada Mei 2026, armada misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0, yang terdiri dari sejumlah kapal dengan tujuan menembus blokade Israel menuju Gaza, dicegat oleh militer Israel di perairan internasional dekat wilayah Siprus, Mediterania Timur.
Operasi intersepsi militer ini berlangsung pada siang hari dan melibatkan empat kapal perang Israel yang memerintahkan seluruh kapal dalam armada untuk mematikan mesin.
Kapal-kapal yang ditangkap antara lain Amanda, Barbaros, Josef, dan Blue Toys. Total kapal yang disita mencapai sepuluh unit dari armada keseluruhan.
Dalam penangkapan tersebut, sembilan warga negara Indonesia (WNI) yang berada di kapal-kapal tersebut turut ditahan. WNI-WNI ini termasuk relawan dan jurnalis yang ikut dalam misi kemanusiaan tersebut.
Profil dan Peran WNI yang DitangkapDalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0, sebanyak sembilan Warga Negara Indonesia turut serta sebagai bagian dari rombongan internasional yang bertujuan menyalurkan bantuan kemanusiaan ke rakyat Palestina di Jalur Gaza.
Delegasi ini dilembagakan oleh Global Peace Convoy Indonesia (GPCI), yang merupakan bagian dari inisiatif nasional dalam mendukung misi kemanusiaan internasional. Keikutsertaan jurnalis dari media besar seperti Republika menandakan pentingnya pelaporan secara langsung terhadap situasi di wilayah konflik.
Di antara sembilan WNI yang ditangkap terdapat dua jurnalis dari media Republika, bernama Bambang Noroyono alias Abeng dan Thoudy Badai. Kedua jurnalis tersebut menjalankan tugas jurnalistik sekaligus kemanusiaan, mendokumentasikan kondisi warga sipil Palestina di Gaza.
Para WNI tersebut antara lain adalah:
-
Herman Budianto Sudarsono, GPCI - Dompet Dhuafa (Kapal Zapyro)
-
Ronggo Wirasanu, GPCI - Dompet Dhuafa (Kapal Zapryro)
-
Andi Angga Prasadewa, GPCI - Rumah Zakat (Kapal Josef)
-
Asad Aras Muhammad, GPCI - Spirit of Aqso (Kapal Kasr-1)
-
Hendro Prasetyo, GPCI - SMART 171 (Kapal Kasr-1)
-
Rahendro Herubowo, GPCI - iNewsTV, Berita1, CNN (Kapal Ozgurluk)
-
Andre Prasetyo Nugroho, Tempo (Kapal Ozgurluk)
-
Thoudy Badai Rifan Billah, Republika (Kapal Ozgurluk)
-
Bambang Noroyono, Republika (Kapal BoraLize)
Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI) mengecam keras tindakan intersepsi yang dilakukan oleh militer Israel terhadap kapal-kapal dalam Global Sumud Flotilla (GSF).
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Yvonne Mewengkang menegaskan bahwa Kemlu terus berkomunikasi intensif dengan perwakilan diplomatik Indonesia di Ankara, Kairo, dan Amman guna memastikan perlindungan serta percepatan proses pemulangan WNI yang ditahan.
"Kami akan terus menjalin komunikasi dengan berbagai pihak terkait untuk memperoleh informasi terkini mengenai kondisi para WNI, sekaligus menyiapkan langkah kontingensi, termasuk fasilitasi pelindungan dan percepatan proses pemulangan apabila diperlukan,” terang Yvonne kepada awak media saat ditemui Senin (18/6/2026).
Baca Juga:Indonesia Kecam Penangkapan WNI serta Pencegatan Kovoi Kemanusiaan Global Sumud Flotilla di Gaza Oleh Israel
Kemlu juga menegaskan pentingnya koordinasi dengan berbagai pihak terkait untuk mendapatkan informasi terkini mengenai kondisi para WNI dan menyiapkan langkah kontingensi dalam menghadapi dinamika situasi yang cepat berubah. Keselamatan dan pelindungan WNI tetap menjadi prioritas utama pemerintah Indonesia.
Pemerintah Indonesia melalui Kemlu menuntut agar pemerintah Israel segera melepaskan seluruh kapal dan awak misi kemanusiaan yang ditahan. Tindakan intersepsi yang dilakukan dianggap pelanggaran serius terhadap hukum internasional terutama prinsip kebebasan navigasi di perairan internasional dan hukum humaniter internasional yang menjamin penyaluran bantuan kemanusiaan.
Indonesia juga menolak segala bentuk kriminalisasi terhadap misi kemanusiaan yang berlayar di perairan internasional yang semestinya dilindungi dalam konvensi internasional. Penyaluran bantuan kepada rakyat Palestina melalui misi tersebut harus dijamin kelanjutannya agar tidak menimbulkan penderitaan lebih lanjut.
Latar Belakang Misi Global Sumud FlotillaGlobal Sumud Flotilla merupakan sebuah inisiatif internasional yang terdiri dari ratusan aktivis dari berbagai negara yang berlayar dengan tujuan menentang blokade Israel terhadap Jalur Gaza dan menyalurkan bantuan kemanusiaan.
Armada yang berangkat dari distrik Marmaris, Türkiye, pada pertengahan Mei 2026 terdiri atas 54 kapal dengan beragam ukuran dan penyokong fasilitas kemanusiaan.
Blokade yang dilakukan Israel terhadap Gaza telah berlangsung sejak 2007, yang mana menciptakan kondisi kelaparan, kekurangan obat, dan penderitaan masyarakat sipil yang terus berlanjut akibat agresi dan pembatasan yang diberlakukan.
Misi ini hadir sebagai bentuk solidaritas internasional demi membantu warga Gaza yang membutuhkan dukungan darurat.
Baca Juga:BI Optimis Dollar Kembali Normal dengan Strategi Fiskal oleh Pemerintah





