REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ketegangan geopolitik dunia kembali meningkat. Perang Ukraina belum berakhir, Laut China Selatan terus memanas, Timur Tengah berulang kali bergejolak, sementara Amerika Serikat, Rusia, dan China saling membaca langkah dengan penuh kehati-hatian.
Dunia perlahan memasuki fase baru persaingan kekuatan besar, fase ketika dominasi global Amerika mulai menghadapi tantangan serius dari kebangkitan Beijing dan semakin eratnya hubungan China–Rusia.
- Trump Pergi, Putin akan Datang, Pertama Kali China Terima Pemimpin AS-Rusia di Bulan yang Sama
- Bisa Gotong Semua Jenis Rudal, Ini Ngerinya Kapal Perang Siluman Rusia, AL Amerika Wajib Waspada
- AS-Eropa Merinding, Rudal Setan II Rusia Mampu Lumat Mereka dalam Puluhan Menit
Tiga tulisan dari media internasional, Center for Strategic and International Studies (CSIS), RIA Novosti, dan Defense News, menunjukkan gambaran yang saling berkaitan mengenai perubahan besar tersebut.
Ketiganya berbicara tentang satu hal yang sama: dunia sedang bergerak menuju persaingan jangka panjang antara Amerika Serikat dan poros China–Rusia, bukan hanya dalam bidang militer, tetapi juga industri, teknologi, intelijen, dan pengaruh politik global.
.rec-desc {padding: 7px !important;} Apa Benar Amerika Siap Perangi China?Analis pertahanan Amerika Seth G. Jones memulai pembahasannya dengan pertanyaan yang sangat penting: apakah Amerika benar-benar siap menghadapi perang besar melawan China?
Alih-alih menunjukkan rasa percaya diri, Jones justru menggambarkan kekhawatiran besar di tubuh militer Amerika sendiri. Ia menilai persediaan amunisi Amerika sebenarnya sudah lama tidak cukup untuk menghadapi perang berkepanjangan melawan China. Perang Iran, menurutnya, memperlihatkan betapa cepat stok rudal dan sistem pertahanan udara Amerika bisa terkuras.
“Militer AS telah kekurangan amunisi yang cukup untuk konflik berkepanjangan melawan China selama bertahun-tahun,” tulis Jones.
Bagi masyarakat umum, kekuatan militer sering diukur dari kecanggihan senjata. Namun Jones menegaskan bahwa perang modern tidak hanya ditentukan oleh teknologi, melainkan juga kemampuan industri memproduksi senjata dalam jumlah besar dan cepat. Amerika memang masih memiliki teknologi militer paling maju, tetapi perang besar membutuhkan kapasitas produksi yang stabil dan tahan lama.
Jones menjelaskan bahwa beberapa rudal penting Amerika membutuhkan waktu produksi hingga tiga atau empat tahun. Artinya, jika konflik besar benar-benar pecah, Washington berisiko mengalami masalah serius dalam menjaga pasokan senjata.
Pandangan itu memperlihatkan perubahan besar dalam cara Amerika melihat China. Jika dahulu Beijing dipandang sebagai mitra dagang sekaligus pesaing ekonomi, kini China dilihat sebagai ancaman strategis yang mampu menandingi kekuatan industri dan militer Amerika.




