Di tangan sejumlah warga, tumpukan barang tak terpakai bisa menjelma produk yang bernilai, mulai dari wayang berbahan botol plastik, mainan edukatif dari limbah kayu, hingga media tanam dari kertas bekas. Inilah ide kreatif warga yang mengubah limbah jadi anugerah.
Jika kertas bekas biasanya berakhir di tempat sampah, Riska Fadilla Sari (33) justru berinovasi dengan menjadikannya media tanam. Co-Founder dan Chief Executif Officer (CEO) Seed Paper Indonesia ini mengolah kertas bekas menjadi tempat benih tanaman. Melalui media itu, sayuran seperti bayam bisa tumbuh.
Ide kreatif ini lahir akhir 2019. ”Waktu itu saya sedang menyelesaikan skripsi. Ternyata, banyak sekali kertas bekas dari revisi skripsi saya dan teman-teman. Saya lalu berpikir untuk mendaur ulang kertas ini supaya tidak banyak sampah,” kenang Riska kepada Kompas, Selasa (5/5/2026).
Menurut alumnus Fakultas Hukum Universitas Mpu Tantular ini, berkas revisi skripsi yang tidak terpakai hingga dokumen organisasi yang sudah bertahun-tahun kerap kali hanya teronggok di tempat sampah. Ada juga yang dicacah, dibakar, hingga dijual ke pengepul barang rongsokan.
Padahal, kertas bekas itu masih punya nilai lebih. Sebagai mahasiswa pencinta alam di kampus, Riska ingin mengolah kertas itu menjadi produk ramah lingkungan. ”Akhirnya, saya menemukan unggahan (di media sosial) kalau kertas bisa jadi media tanam. Ini adalah ide menarik,” ujarnya.
Konsep itu, katanya, tidak berbeda jauh dengan pelajaran sekolah tentang menanam bibit kecambah di kapas. ”Saya coba kulik bagaimana mengolah kertas bekas menjadi media tanam. Setelah percobaan hingga 36 kali, akhirnya jadilah seed paper (kertas benih),” kenang Riska.
Proses pembuatan seed paper mirip dengan daur ulang kertas. Awalnya, kertas dihancurkan dan direndam hingga menjadi bubur kertas. Setelah itu, kertas dicetak manual dengan pola kertas yang ditambah benih. Terakhir, media tanam ini dijemur 3-5 hari untuk menumbuhkan benihnya.
”Pembuatannya 100 persen natural, tanpa tambahan bahan kimia,” ujarnya. Tidak semua benih cocok untuk ditanam di seed paper itu. Sejauh ini, bayam yang paling mudah tumbuh sedangkan tanaman lainnya, seperti cabai dan tomat membutuhkan perawatan dengan pemberian pupuk.
Setelah menemukan formula yang tepat, Riska pun mencoba menjual produknya melalui medsos. ”Ternyata, yang suka duluan itu malah orang luar (Indonesia). Orderan pertama kami itu dari Singapura. Mungkin mereka penasaran, kok bisa di kertas ada tanaman,” ungkapnya.
Selain media tanam, Riska juga mengeksplorasi produk ramah lingkungan lainnya yang berbahan kertas bekas. Ia membuat undangan pernikahan, kartu nama, kartu ucapan, hingga label gantungan baju. Tidak hanya konsumen perorangan, pemilik merek pakaian pun mulai tertarik.
Pada 2021, Riska memutuskan keluar dari pekerjaannya sebagai pegawai kantoran dan fokus mengembangkan seed paper. ”Bisa dibilang (usaha) ini cukup menjanjikan. Memang ini tergolong produk yang masih baru, tetapi enggak semua orang bisa bikin ini,” ujarnya.
Kini, dalam sebulan, ia bisa memproduksi hingga 1.500 lembar A3 kertas benih dan 10.000 produk turunan dari kertas bekas. Riska kerap dibantu oleh empat orang untuk produksi, dari mahasiswa hingga tetangganya di Duren Sawit, Jakarta Timur. Jika pesanan banyak, pekerjanya bakal bertambah.
Ada juga warga yang menjual kertas bekas ke Seed Paper dengan harga Rp 1.500-Rp 2.000 per kilogram. Harga ini lebih tinggi dibandingkan tempat rongsokan yang menawarkan harga Rp 1.000 per kg. Pihaknya juga bekerja sama dengan sejumlah sekolah untuk mengajarkan pengolahan kertas bekas.
”Orang mungkin berpikir kalau ini cuma daur ulang kertas bekas. Namun, dari praktik kecil ini kita bisa menciptakan dampak yang luas, enggak cuma buat lingkungan, tetapi juga masyarakat,” ujarnya.
Inovasi tak biasa juga muncul dari Achmad Adias Wijaya (36), warga Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Melalui Artdias Gallery miliknya, Adias mengolah limbah kayu menjadi mainan edukatif hingga dekorasi rumah. Ide ini lahir pada 2018 ketika melihat limbah kayu dari industri mebel yang kurang dimanfaatkan.
”Intinya, jika ingin membuat produk, carilah apa yang melimpah di daerah sendiri karena pasti harganya lebih murah dan sumber dayanya banyak. Di Pasuruan itu, industri furnitur banyak, termasuk limbah kayunya,” ujarnya. Umumnya, limbah kayu hanya dijadikan kayu bakar di sana. Serbuk kayu, misalnya, hanya dijual Rp 5.000 untuk 50 kg.
Adias pun mulai mengolah kayu sisa produk furnitur menjadi mainan edukatif, seperti puzzle, mobil-mobilan, hingga rumah-rumahan. Ia juga membuat produk seperti jam dinding kayu dan kursi. Uniknya, pembeli diminta mewarnai dan merangkai bagian mainan itu.
”Jadi, ada aktivitasnya sehingga orangtua dan anak bisa lebih dekat,” ujar bapak dua anak ini. Tidak sekadar membuat produk, Adias juga menjalin kolaborasi dengan fasilitas penitipan anak (daycare) hingga sekolah untuk menggelar workshop pembuatan produk dari kayu bekas.
Bahkan, Adias memilih mengundurkan diri dari karyawan kantoran untuk fokus mengembangkan idenya. Kini, ia selalu mendapatkan orderan dari wilayah Surabaya, Jakarta, dan kota lainnya. ”Pernah dapat orderan banyak sekali, saya kolaborasi dengan 10 orang dari komunitas kayu,” ujar Adias.
Ternyata produk dari limbah kayu memiliki nilai tinggi dan mendapatkan apresiasi.
Produknya dijual dari harga Rp 35.000 hingga lebih dari Rp 200.000. Pernah dalam suatu pameran, seorang pelanggan kaget karena harga produk rumah-rumahan hanya Rp 35.000. ”Dia mau beli Rp 60.000. Saya bilang, jangan karena modalnya sangat sedikit, dari limbah kayu,” ujarnya.
Ia pun bertanya alasan pelanggan yang berusia di atas 50 tahun itu ingin membeli dengan harga tinggi. ”Dia menjawab, karya seperti ini harus diapresiasi. Di situ saya berpikir, ternyata produk dari limbah kayu memiliki nilai tinggi dan mendapatkan apresiasi,” ujar sarjana pertanian Universitas Brawijaya, Malang, ini.
Ide mengubah limbah jadi berkah juga datang dari Budi Anggoro (43), warga Kota Yogyakarta. Pengurus Bank Sampah Pa-Q-One (dibaca pakiwan) di Kelurahan Gedongkiwo, Kecamatan Mantrijeron, ini menyulap botol plastik bekas air mineral menjadi kerajinan wayang.
”Bank sampah kami kan nonprofit. Jadi, harus punya produk kalau ingin (operasionalnya) jalan. Salah satu caranya, kami membuat upcycle (pengolahan kembali barang bekas menjadi produk bernilai),” ungkap Budi. Ia kemudian coba membuat wayang dari botol plastik bekas.
Selain melihat teknik pengolahan botol plastik ini dari Youtube, Budi juga mempelajari cara itu dari seorang perajin yang telah lebih dulu menekuni kerajinan serupa di Yogyakarta, yakni Sardi Beib. Barulah pada akhir 2023, ia mulai memproduksi wayang dari botol plastik ukuran 1,5 liter.
Menariknya, Budi tidak hanya membuat karakter pewayangan tradisional, tetapi juga tokoh dari film Hollywood, seperti Hulk hingga Captain America. Peminat karyanya pun datang dari beberapa kota di Indonesia hingga luar negeri, seperti Australia, India, hingga Amerika Serikat.
Lebih dari itu, Budi telah meningkatkan nilai jual botol plastik bekas ukuran 1,5 liter hingga menjadi Rp 20.000 per kg. Padahal, di tingkat pengepul, harga botol bekas ukuran serupa mencapai Rp 4.500 per kg. ”Orang-orang juga jadi lebih tertarik belajar wayang,” ungkapnya.
Tidak berakhir di produk, Budi pun bekerja sama dengan dinas kebudayaan setempat untuk menggelar pelatihan pembuatan wayang dari plastik bekas di sejumlah sekolah. Apalagi, bahan baku wayang gampang dicari. Begitu pun dengan alat produksinya, yang mudah didapatkan.
”Namun, dari sini kita belajar budaya hingga pendidikan lingkungan. Saya akan terus membuat wayang seperti ini sampai saya sudah enggak sanggup lagi,” ujar Budi.
Berbagai inovasi berbasis limbah itu tidak tumbuh sendirian. Dukungan pendampingan hingga akses pasar menjadi faktor penting agar ide sosial warga dapat berkembang dan berkelanjutan Salah satu dukungan itu datang dari program Community Link #JadiNyata 2025 yang digelar CIMB Niaga.
Program ini merupakan bagian dari inisiatif tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL/CSR) CIMB Niaga yang digelar sejak 2018. Tujuannya, untuk mendorong inovasi dan partisipasi masyarakat dalam mengatasi tantangan sosial, ekonomi, dan lingkungan.
Pada 2025, terdapat lebih dari 500 pendaftar ide sosial dari beberapa daerah. Setelah melalui proses seleksi dan penjurian ketat, terpilihlah tiga ide sosial terbaik. Selain Budi dan Adias, ada juga Prayogi Harry Widharta dari Probolinggo, yang memproduksi kerajinan tangan berbahan dasar kulit kerang.
Adapun Riska menjadi pemenang di kategori ekonomi sirkular. Kategori lainnya untuk sains, teknologi, rekayasa, dan matematika diraih oleh Daniyah Deluca dari Semarang dengan ide Kakarobot, start up di bidang robotika untuk membantu anak-anak berbakat.
Para pemenang memperoleh pendanaan, pendampingan intensif selama satu tahun, serta akses pasar dan jaringan kolaborasi CIMB Niaga untuk mewujudkan keberlanjutan ide sosialnya. Berbagai dukungan itu diharapkan dapat mengantisipasi tantangan modal hingga pemasaran.
”Kami percaya bahwa ide sosial yang lahir dari masyarakat adalah fondasi penting untuk membangun masa depan yang lebih inklusif. Melalui Community Link, kami berkomitmen mendampingi para pemenang dalam mewujudkan mimpinya,” ujar Direktur Compliance, Corporate Affairs, & Legal CIMB Niaga Fransiska Oei dalam rilis beberapa waktu lalu.
Jalal, Chairperson of Advisory Board Social Investment Indonesia, lembaga konsultan yang fokus pada investasi sosial dan keberlanjutan, menilai, program TJSL perusahaan, termasuk perbankan, tidak terlepas dari berbagai faktor. Salah satunya, upaya menjaga reputasi baik korporasi.
Ia mendorong agar program sosial perusahaan harus berdampak langsung kepada masyarakat, bukan sekadar program sementara, dan punya nilai berkelanjutan. ”Jika kondisi masyarakat yang merasakan program itu membaik, kinerja perusahaan juga pasti meningkat,” ujar Jalal.





