JAKARTA, KOMPAS — Buku elektronik atau e-book bajakan yang diperjualbelikan di internet terindikasi bersumber dari kebocoran dokumen dan hasil produksi ulang. Metadata yang melekat pada format digital itu mengungkap jejak asal buku.
Metadata dokumen berformat PDF (Portable Document Format) dan Epub (Electronic Publication) menyimpan riwayat pembuatan dokumen digital, modifikasi, serta penanda khas kreatornya. Buku Filosofi Teras karya Henry Manampiring, misalnya. Buku ini ditemukan di hampir semua koleksi e-book bajakan dengan harga Rp 3.000 hingga Rp 10.000 per dokumen.
Untuk membuktikan praktik ini, Kompas membeli salah satu berkas digital itu dari bundelan e-book bajakan yang dijual akun @ruangbacaaa.id di Instagram. Akun dengan 18.000-an pengikut di Instagram itu mengklaim punya koleksi 43 juta e-book dari bidang keuangan hingga agama. ”Lifetime access, garansi akses ulang jika file hilang,” tulis akun itu di unggahan promosinya, Sabtu (2/5/2026).
Promo Rp 49.000 untuk koleksi penuh e-book itu mengantarkan ke dokumen digital yang dikirim lewat surel [email protected]. E-book bajakan Filosofi Teras tersimpan di antara koleksi e-book pilihan pemilik akun.
Serial Artikel
Pembajak Buku Bunuh Intelektualisme Indonesia
Jaringan pembajak buku merampas hak ekonomi penulis, memangkas produksi buku baru, dan meruntuhkan ekosistem literasi. Praktik ini membunuh intelektualitasme.
Dengan perangkat pemrograman ExifTool, Kompas mendeteksi e-book Filosofi Teras itu dibuat pada 25 Februari 2019 dengan bantuan aplikasi Quartz PDFContext. Benda digital itu pernah dimodifikasi pada 10 Juni 2021. Dari metadata ini, Filosofi Teras dibajak secara digital tiga bulan setelah buku itu diterbitkan pada 26 November 2018.
Dari katalog milik surel hev***@gmail.com itu, Filosofi Teras dan ribuan e-book bajakan diduplikasi dan dibagikan ulang lewat laman berbagi dokumen berbasis torrent, seperti Z-Lib, Anna’s Archive, dan sejenisnya. Banyak buku dari penulis dan penerbit Indonesia yang dilindungi hak cipta juga dibagikan di sana.
Saat Kompas menanyakan dari mana saja sumber e-book, admin mengaku menghimpun dari berbagai sumber di internet dan berlangganan di situs penyedia e-book berbayar. ”Cukup bayar sekali saja ke kami, pembaca bisa mengakses bacaan dari koleksi kami,” ucap admin itu.
Dari tautan itu, ada folder berisi 1.500 buku beragam judul serta folder dengan ratusan koleksi lainnya. Terdapat pula folder kumpulan koleksi sastra. Sementara beberapa versi buku Filosofi Teras ikut bercampur aduk di sana.
Akun medsos X Lia juga menjual salah satu versi e-book bajakan Filosofi Teras dari aplikasi Telegram. E-book bajakan senilai Rp 10.000 yang diproduksi pada Februari 2019 itu salah satu yang laris di pasaran. Dari jejak transfer di Telegram, Lia mendapat sekitar Rp 50.000 per pekan hanya dari berjualan e-book. ”E-book ini juga banyak dijual orang lain. Memang sudah bocor di internet,” katanya.
Berdasarkan penelusuran, e-book Filosofi Teras yang beredar di internet saat ini terdiri atas dua versi. File yang pertama beredar dibuat 25 Februari 2019, sedangkan versi kedua dibuat 29 Maret 2019. Salah satu berkas digital itu dijual lewat tautan daring oleh akun ”XXXXrigenz” di media sosial. Setelah transaksi dengan QRIS, akun itu membagikan folder buku bajakan lewat tautan Google Drive dengan alamat surel [email protected].
Dari pelacakan metadata, e-book Filosofi Teras versi kedua dibuat Maret 2019 dan dimodifikasi November 2021. Kreator dokumen ini terindikasi memotret satu per satu halaman dengan aplikasi CamScanner dan memodifikasi tata letak halaman dengan iText. Terdapat penanda pada dokumen bajakan yang dibuat kreator bertuliskan ”HerviBook” di tiap halaman e-book.
Saat mendapatkan e-book bajakan Filosofi Teras lain dan melacak jejaknya di internet, ternyata e-book yang sama memiliki kesamaan metadata. Semua e-book itu dibuat dengan CamScanner pada 2019 dan disertai penanda ”HerviBook”.
Lewat pencarian di internet, Kompas mendapatkan puluhan tautan daring yang membagikan e-book Filosofi Teras versi itu secara gratis. Dari dokumen e-book ilegal itu, dipastikan jejak metadatanya serupa dengan penanda sama. E-book versi kedua dengan watermark ”HerviBook” terindikasi lebih banyak beredar di internet dibandingkan versi pertama. Analisis terhadap 22 sumber tautan e-book Filosofi Teras bajakan di internet mengindikasikan dokumen yang identik.
Terkait itu, Henry Manampiring kecewa dengan ulah pembajak buku. Ia mengibaratkan pembajak sebagai komplotan pencuri yang mengambil hak banyak orang. ”Saat ini, literasi masih menjadi tantangan di Indonesia. Sekalinya buku laris, terus dibajak, sedih banget,” ungkapnya.
Bahkan, Henry sempat mendengar beberapa info tentang penerbit lain yang mencoba memasukkan karyanya ke Google Play untuk dijual ulang.
Selain Filosofi Teras, ditemukan delapan e-book bajakan dengan penanda ”HerviBook” yang beredar di internet. Sebagian koleksi itu bocor di laman berbagi dokumen dan dapat diunduh gratis. Saat melacak metadata dari e-book berpenanda ”HerviBook”, terdapat keterangan dokumen-dokumen itu hasil scan sebuah katalog bacaan digital.
Kendati begitu, tidak ada jejak yang menunjukkan eksistensi HerviBook secara digital pada tahun-tahun sebelumnya. Sejumlah e-book tersebut diduga adalah katalog yang bocor di internet lalu diperjualbelikan.
Dari ribuan koleksi bajakan, Kompas menemukan penanda dokumen internal perusahaan, yaitu Digital Publishing/KG-2/SC. Temuan penanda ini salah satunya di e-book Atomic Habits dari James Clear yang populer di pasaran.
Chief Editor Gramedia Pustaka Utama Andi Tarigan mengatakan, penanda itu mengindikasikan dokumen yang bocor dari lingkungan internal Gramedia. Sebelumnya, Andi mengetahui sempat ada kebocoran buku-buku digital dari kerja sama pihak ketiga.
”Buku digital kami, kan, didistribusikan ke pihak ketiga, seperti perpustakaan dan sebagainya. File yang ada watermark-nya waktu itu sempat diinvestigasi, bocornya dari pihak ketiga,” ujarnya.
Terkait itu, Gramedia telah memutus kemitraan dengan pihak ketiga yang diketahui membocorkan e-book ke publik. Sistem dari Gramedia berupaya mencegah agar e-book dari aplikasi internal tidak bocor secara luas ke publik.




