JAKARTA, KOMPAS — Mesin-mesin pencetak buku di kawasan Senen, Jakarta, hampir setiap hari memproduksi buku-buku bajakan tanpa seizin pemilik hak cipta. Produksi ini berjalan dari transaksi bisnis yang dilakukan secara terang-terangan antara pemesan dan pencetak buku. Investigasi Kompas mengungkap, industri gelap tersebut bertransformasi menjadi mesin uang dengan omzet miliaran rupiah setiap bulan.
Pada 2019, Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) pernah melakukan survei terhadap 11 dari 1.600 anggotanya. Hasilnya, total kerugian belasan penerbit akibat pembajakan buku mencapai Rp 116,050 miliar. Tren kerugian ini semakin besar karena praktik pembajakan makin marak dan masif.
Proses pembajakan buku ini, antara lain, terlihat di lantai atas gedung tanpa nama di kawasan Bungur, Senen, Jakarta Pusat. Pada Selasa (14/4/2026), Kompas menemui seorang lelaki di tempat itu untuk menanyakan biaya mencetak buku Reset Indonesia. Setelah mengambil penggaris dan mengukur buku pesanan Kompas, sambil membuka satu demi satu halaman buku, lelaki berinisial R itu mengatakan, ”Ini (kertasnya) book paper.”
Lelaki berkaus oblong itu kembali mengambil penggaris dan mengukur buku berjudul Reset Indonesia. Ia mengambil telepon seluler dan menghitung estimasi biaya yang dibutuhkan untuk mencetak 400 buku. ”Rp 29.000 per buku. Makin banyak, makin murah. Makin dikit, makin mahal,” kata R seraya menjelaskan, untuk mencetak pesanan buku, diperlukan file buku yang akan dicetak. ”File-nya saja. Kami tidak urusan sama kontennya,” katanya.
R menunjukkan contoh pelat yang digunakan mencetak buku. Ia juga memperlihatkan beberapa contoh file buku berupa dokumen PDF (Portable Document Format) yang tersimpan di aplikasi percakapannya.
Percetakan R termasuk besar dibandingkan dengan percetakan lain di kawasan Bungur. Di sepanjang Jalan Kalibaru Timur IV, Bungur, ada puluhan hingga ratusan percetakan skala kecil hingga besar. Tempat percetakan R terlihat ramai. Di lantai satu, sejumlah orang mengoperasikan mesin cetak. Di ruangan itu terlihat tumpukan buku, kertas, serta beberapa mesin cetak.
R mengklaim menjalin kerja sama dengan tiga penerbit buku. Saat ini, ada 30 judul buku yang sedang dalam proses percetakan. R cepat mengenali kualitas contoh buku yang disodorkan Kompas. R tak mempersoalkan buku itu bajakan atau bukan, ia melayani permintaan penggandaan buku dari mana pun.
Kawasan Bungur cukup dikenal pedagang buku, termasuk Ripto, bandar buku bajakan di Pasar Senen, Jakarta. Kepada Ripto, tim Kompas memesan 100 eksemplar buku bajakan Reset Indonesia. Lelaki bertopi itu meminta waktu untuk menghubungi kenalannya. ”Tanya orang yang punya. Kalau kami, kan, ambil doang,” katanya.
Transaksi berlangsung seperti jual beli buku biasa, wajar seperti transaksi dagang pada umumnya. Kompas menerima konfirmasi pesanan selayaknya pembeli reguler. Sementara itu, Ripto mengaku margin yang diambil kecil, hanya Rp 2.000 sampai Rp 3.000. Adapun dari 100 eksemplar buku yang dipesan Kompas, dia mematok tarif Rp 22.000 per buku. Harga buku di toko Ripto bakal berubah menjadi Rp 35.000 per buku jika membeli satuan. Menurut Ripto, harga buku bajakan bisa lebih murah jika memesan dari Solo, Jawa Tengah, atau Surabaya, Jawa Timur.
Meski Solo dan Surabaya disebut murah, Ripto menyebut percetakan di Jakarta, tepatnya kawasan Bungur, sebagai sumber utama stok buku bajakannya. Petunjuk dari Ripto turut diakui Andre (38), nama lain salah satu pelaku yang terlibat dalam rantai produksi buku bajakan. Andre dalam rantai bisnis pembajakan buku bertugas membuat file master buku bajakan sebelum dicetak.
Bos yang bekerja sama dengan Andre memiliki percetakan skala besar di kawasan Bungur. Percetakan itu mampu memproduksi hingga 15.000 eksemplar buku. ”Itu habis (terjual) cuma dalam seminggu,” kata Andre.
Skala itu menghasilkan perputaran uang yang jauh melampaui bisnis pinggiran. Andre mengklaim, percetakan besar di Bungur bisa meraup keuntungan hingga Rp 1 miliar per bulan dari bisnis buku bajakan. Namun, Kompas belum berhasil memverifikasi angka tersebut.
Namun, gambaran dari jaringan distribusinya memperkuat dugaan skala yang besar. Misalnya, jika harga buku bajakan di percetakan berkisar Rp 18.000 sampai Rp 29.000 per eksemplar, margin keuntungan pedagang buku rata-rata Rp 5.000 per buku. Artinya, jika satu pedagang buku bisa menjual minimal 1.500 eksemplar buku dalam sebulan, mereka sudah mendapat keuntungan Rp 7,5 juta setiap bulan.
Selain Ripto, bandar yang cukup punya nama di kalangan pedagang buku adalah Suwarno. Ia merupakan pemasok buku-buku bajakan ke kawasan Blok M, Jakarta, dan sejumlah kota di Indonesia. Seperti bandar lain, Suwarno punya kaki tangan tukang setting, percetakan, dan pengecer buku bajakan.
Ali, nama lain mitra Suwarno, menyebut sang bandar memiliki mesin cetak industri senilai ratusan juta rupiah yang mampu menyamai kualitas cetakan penerbit resmi. Pada 2025, Suwarno terseret kasus hukum karena diduga terlibat pembajakan buku Sirah Nabawiyah. Atas perbuatannya, pihak penerbit PT Aqwam Media Profetika dan Suwarno melakukan penyelesaian damai. Penyelesaian yang dimediasi Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya ini meminta Suwarno membayar denda Rp 180 juta. ”Dia pemain paling besar di sini (Jakarta),” kata Ripto.
Kompas mengonfirmasi tuduhan ini kepada Suwarno, Rabu (29/4/2026), lewat sambungan telepon. Suwarno mengaku pedagang buku senior. Maka, banyak pedagang buku di Jakarta mengenalnya. Ia juga mengakui sebagai salah satu pemasok buku-buku ke Kwitang dan Blok M. Namun, ia membantah sebagai pembajak buku skala besar karena margin keuntungan paling besar Rp 500.000 per hari.
Besarnya skala produksi buku bajakan diakui penerbit yang menjadi korban. Mizan, salah satu penerbit mayor Indonesia, memperkirakan Laskar Pelangi, yang telah mereka cetak 1 juta eksemplar, sudah digandakan pembajak dua kali lipatnya. ”Buku ini di tangan pembajak, kami perkirakan sudah dicetak 2 juta kali,” kata GM Business Development Mizan Syahrir Amir.
Menurut Syahrir, penerbit resmi rata-rata mencetak 300–500 eksemplar per judul, pembajak bisa mencetak 15.000 eksemplar, tiga puluh kali lipatnya, dan menghabiskannya dalam seminggu. Buku-buku bajakan itu kemudian dikirim ke seluruh Indonesia, seperti Sulawesi, Kalimantan, dan Sumatera.
Pendiri Penerbit Patjarmerah, Windy Ariestanty, memahami logika produksi itu. Buku Reset Indonesia bajakan yang bisa dijual kurang dari Rp 50.000 tiap buku sudah pasti dicetak dalam jumlah banyak.
Menurut Windy, buku-buku terbitannya yang dibajak, oleh para pembajak dibuat dengan kualitas yang sangat buruk. Foto-fotonya buram, kualitas kertasnya jelek, sepertinya sengaja dibuat begitu untuk menekan ongkos produksi. ”Buku-buku bajakan itu dibuat untuk dijual, bukan untuk dibaca,” kata Windy.
Menanggapi temuan Kompas, Pengurus Pusat Ikapi memastikan kerugian pembajakan buku pada angka miliaran rupiah per tahun. Pada 2019 saja, merujuk hasil survei terhadap 11 dari 1.600 anggota Ikapi saat itu, total kerugian belasan penerbit itu mencapai Rp 116,050 miliar.
”Itu hanya puncak gunung es. Kalau dibandingkan dengan jumlah anggota Ikapi pada saat itu, es yang tersembunyi mungkin lebih dari dua pertiganya. Di bawah permukaan lautan itu adalah peta penerbit yang tidak tersurvei atau juga tidak menindaklanjuti,” kata Ketua Umum Ikapi Arys Hilman Nugraha, Senin (4/5/2026).
Menurut Arys, para penerbit tahu buku mereka dibajak. Namun, sebagian besar penerbit merasa tidak ada gunanya melapor dan menelusuri kasus pembajakan itu. ”Mereka khawatir akan kehilangan lebih banyak lagi,” ujar Arys.
Kepala Subdirektorat Penindakan dan Penyidikan Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum Ahmad Rifadi mengatakan, penegakan hukum pembajakan buku, sesuai Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta, termasuk delik aduan. Penegakan hukum baru bisa berjalan kalau ada pengaduan dari penulis atau penerbit. ”Tetapi, pengaduan itu masih kurang,” kata Ahmad, Selasa (21/4/2026).




