Pelayaran kapal-kapal kemanusiaan yang tergabung dalam Global Sumud Flotilla (GSF) kembali mendapat rintangan. Kali ini, ada dua kapal GSF yang dicegat, yakni kapal Borales dan Osgurluk.
Di kapal itu, ada sejumlah WNI. Dua di antaranya adalah jurnalis Republika Bambang Noroyono (Abeng) dan Thoudy Badai (Ody). Republika pun sudah memuat berita "Laporan Terakhir Jurnalis Republika Sebelum Diculik IDF".
"Jadi sejak sekitar pukul tiga dini hari sampai jam empat, karena pada saat itu baik Abeng maupun Ody bilang, oke kita sudah di perairan bebas, di perairan internasional. Jadi dari tim Global Sumud Flotilla internasionalnya bilang kalau sudah di perairan internasional di Laut Mediterania, itu besar kemungkinan kapal Israel bisa intercept (cegat) lebih cepat," kata Wakil Pimpinan Redaksi Republika, Stevy Maradona, Senin (18/5).
Pihak Republika lalu memantau keberadaan kapal jurnalisnya itu. Sekitar pukul 11.oo WIB, kapal yang ditumpangi Abeng memunculkan peringatan adanya kapal perang yang melintas di dekat mereka.
Lalu, pada pukul 14.00 WIB, Abeng mengirimkan video SOS. Video ini berisi narasi bahwa ia ada dalam posisi ditahan otoritas Zionis Israel, dan meminta pemerintah untuk membebaskannya.
Video itu tidak dibuat saat itu. Melainkan video protokol, yang harus dibuat oleh para peserta atau penumpang GSF, menghadapi situasi rawan.
"Oke, Abengnya sudah kirim video SOS bahwa ada kemungkinan, karena sudah melihat ada perahu mendekat maupun apa, jadi dia kirim video SOS. Jadi memang ada protokolnya yang sudah dilatih dari Global Sumud Flotilla Internasional," kata Stevy.
Namun, Stevy belum mendapat video dari Ody. Ia juga mengisyaratkan bahwa ada orang Indonesia lain, sesama jurnalis yang juga dicegat Israel.
"Yang kita tunggu justru yang dari Ody, sama yang dari Andre, sama yang dari tiga orang lagi, karena sampai sekarang kita belum dapat video SOS-nya mereka," ucap Stevy.
Permintaan Bantuan dari KapalSementara itu, di jaringan grup WhatsApp para peserta GSF mengkonfirmasi pencegatan dan penculikan ini.
Dari grup itu, beredar pesan agar semua teman, keluarga hingga pejabat pemerintahan mengambil sikap untuk memastikan keselamatan mereka.
"Contact your embassies, consulate, elected officials, and governments. Demand urgent intervention to protect the participants, crew, and volunteers. Confirm their safety, secure legal and consular access, and uphold their rights," kata Stevy membacakan pesan dari grup tersebut.
Belum Bisa Pastikan Posisi Abeng dan OdyStevy juga belum bisa memastikan posisi Abeng dan Ody. Apakah Abeng tertahan di kapal, atau dibawa ke Israel.
"Yang kita masih pertanyakan adalah, ketika di-intercept, apakah orangnya stay di kapal, hanya stay di situ, atau dibawa ke kapal perangnya, stay di kapal perangnya, atau dibawa ke kapal perang, ataupun dibawa dengan kapal kecilnya, ditarik sampai ke wilayah Israel, atau pulau terdekat, atau ke Turki, dibalikin atau apa," kata Stevy.
Ia juga sudah membuka kontak kepada Kemlu. Namun belum ada jawaban pasti.
"Kalau dari kantor sih dalam 2 jam terakhir kita terus kontak-kontakan sama Kemlu-nya juga. Cuma memang kita ngerti susahnya karena nggak ada di lapangan. Dan kita juga ngerti bahwa di kapal pun dari teman-teman di mana, teman-teman relawan juga, mereka udah ada protokol," tutup Stevy.
Pernyataan Sikap RepublikaKami mengecam keras tindakan intersepsi yang dilakukan militer Zionis Israel terhadap kapal misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla di perairan internasional. Tindakan ini pelanggaran serius terhadap hukum internasional, prinsip kemanusiaan universal, serta kebebasan sipil warga dunia yang membawa bantuan bagi rakyat Palestina di Gaza.
Para relawan datang bukan membawa senjata, melainkan solidaritas, obat-obatan, bantuan logistik, dan suara nurani dunia untuk warga sipil Palestina yang selama berbulan-bulan menghadapi blokade, kelaparan, dan agresi tanpa henti.
Dalam rombongan terdapat sembilan relawan asal Indonesia, termasuk dua jurnalis Republika Bambang Noroyono dan Thoudy Badai yang menjalankan tugas jurnalistik dan kemanusiaan. Keselamatan mereka menjadi perhatian serius kami.
Kami berdiri bersama para relawan kemanusiaan dunia. Dan kami menolak segala bentuk kriminalisasi terhadap misi kemanusiaan di perairan internasional.
Pemimpin Redaksi Republika
Andi Muhyiddin
Kemlu KecamKementerian Luar Negeri (Kemlu) Republik Indonesia mengecam militer Israel, yang mencegat rombongan misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) di perairan Siprus, Mediterania Timur. Pada rombongan ini, turut pula sejumlah WNI, yakni 2 jurnalis Republika Bambang Noroyono (Abeng) dan Thoudy Badai (Ody) serta perwakilan Rumah Zakat Andi Angga Prasadewa.
"Kementerian Luar Negeri mengecam keras tindakan Militer Israel yang telah mencegat sejumlah kapal yang tergabung dalam rombongan misi kemanusiaan internasional Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 di sekitar perairan Siprus, Mediterania Timur," kata Jubir Kemlu, Yvonne Mewengkan, lewat keterangannya, Senin (18/5).
Kemlu mendata, ada 10 kapal yang ditangkap. Antara lain; Amanda, Barbaros, Josef dan Blue Toys. Informasi ini disampaikan oleh Global Peace Convoy Indonesia (GPCI).
Kapal Josef ditumpangi Andi Angga, sementara itu, Kemlu masih mencari tahu dan memastikan kapal yang dinaiki Abeng.
"Kapal yang membawa jurnalis Bambang Noroyono sampai saat ini masih dicoba dihubungi untuk mengetahui status dari kapal termasuk Saudara Bambang Noroyono di kapal tersebut," kata Yvonne.
"Situasi di lapangan masih sangat dinamis dan kemungkinan perkembangan tetap perlu diantisipasi," imbuh Yvonne.
Kemlu mendesak agar mereka dibebaskan. Tak hanya WNI saja, tapi semua yang ditahan oleh Israel.
"Kementerian Luar Negeri RI mendesak Israel untuk segera melepaskan seluruh kapal dan awak misi kemanusiaan internasional yang ditahan, serta menjamin kelanjutan penyaluran bantuan kemanusiaan kepada rakyat Palestina sesuai hukum humaniter internasional," kata Yvonne.
Saat ini, Kemlu berupaya lewat berbagai cara untuk membebaskan para WNI itu. Mereka berkoordinasi dengan KBRI Ankara, KBRI Kairo, dan KBRI Aman untuk menyiapkan langkah antisipatif demi memastikan keselamatan dan percepatan proses pemulangan mereka.
"Kemlu RI juga terus menjalin komunikasi dengan berbagai pihak terkait untuk memperoleh informasi terkini mengenai kondisi para WNI, sekaligus menyiapkan langkah kontingensi, termasuk fasilitasi pelindungan dan percepatan proses pemulangan apabila diperlukan. Pelindungan WNI akan terus menjadi prioritas utama Pemerintah Indonesia di tengah situasi yang berkembang sangat cepat," tutup Yvonne.
Komisi I DPR juga KecamWakil Ketua Komisi I DPR Sukamta mengecam tindakan Israel yang disebut menangkap sekitar 100 aktivis dalam misi kemanusiaan menuju Jalur Gaza, termasuk dua jurnalis Republika, Bambang Noroyono (Abeng) dan Thoudy Badai (Ody).
Ia mendorong pemerintah Indonesia agar lebih tegas mendesak Dewan Keamanan PBB dan Amerika Serikat untuk membantu membebaskan para aktivis dan jurnalis tersebut.
Sukamta mengatakan penangkapan terhadap para aktivis dan jurnalis itu terjadi setelah Israel mencegat armada bantuan kemanusiaan yang tengah menuju Gaza di perairan internasional. Menurut dia, tindakan tersebut tidak sejalan dengan upaya berbagai pihak yang tengah mendorong perdamaian di Timur Tengah.
“Saya mengecam ulah Israel ini. Saya mendukung pemerintah RI lebih tegas untuk mendesak DK PBB dan AS melobi Israel agar membebaskan para aktivis dan jurnalis Republika tersebut,” kata Sukamta dalam keterangannya, Senin (18/5).
Sukamta menilai Israel seharusnya menghormati berbagai proses diplomasi yang tengah diupayakan untuk meredam konflik di kawasan.
Menurut dia, langkah Israel mencegat armada bantuan kemanusiaan justru menjadi manuver yang kontraproduktif terhadap upaya perdamaian.
“Israel memang memiliki track record yang buruk soal kepatuhan terhadap perjanjian dan hukum internasional. Tapi dengan adanya Board of Peace (BoP) yang diinisiasi Presiden Trump, seharusnya sikap Israel juga setidaknya sejalan dengan upaya BoP untuk mewujudkan perdamaian di Palestina,” ujar Sukamta.
Sukamta juga menegaskan bahwa aktivitas jurnalistik dan misi kemanusiaan seharusnya tetap mendapat perlindungan hukum internasional, bahkan dalam situasi perang maupun konflik bersenjata.
“Instrumen hukum internasional yang ada seharusnya sudah cukup untuk mendesak Israel membebaskan para aktivis dan jurnalis serta membuka blokade bantuan kemanusiaan” tegas dia.
MUI: BebaskanMengomentari hal tersebut, Ketua Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional MUI Sudarnoto Abdul Hakim mengecam keras peristiwa tersebut.
"Atas nama MUI saya ingin menegaskan bahwa tindakan Israel yang menghalangi langkah kemanusiaan melalui kapal Sumud Flotilla termasuk penculikan wartawan Republika yang ikut serta dalam misi ini adalah tindakan yang memalukan," kata Sudarnoto, lewat keterangan tertulisnya, Senin (18/5).
Bagi Sudarnoto, langkah ini justru mencerminkan sikap Israel yang begitu takut atas aksi-aksi kemanusiaan. Sebab, Israel takut hal ini memicu perlawanan global yang lebih luas.
"Penculikan kepada wartawan Republika dan kepada siapa pun yang berusaha menembus blokade Israel untuk misi kemanusiaan ini diyakinkan akan memperbesar perlawanan global kepada Israel," kata Sudarnoto.
Sementara itu, Sudarnoto juga mengingatkan pemerintah Indonesia untuk mengambil langkah-langkah perlindungan bagi warga negaranya.
"Kepada pemerintah Indonesia saya juga mendorong langkah-langkah terukur untuk melindungi seorang warga negara yang diculik Israel, jangan biarkan ditahan oleh Israel, membebaskan sekaligus melakukan pembelaan riil kepada Palestina hingga merdeka," kata Sudarnoto.





