Kota yang Semakin Panas dan Pentingnya Oase Hijau di Tengah Permukiman

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Dalam beberapa tahun terakhir, apakah kalian merasa udara semakin panas? Baru bergerak sedikit saja rasanya gerah dan langsung berkeringat. Banyak orang kini lebih memilih tetap di dalam rumah. Untung ada aplikasi online: tinggal klik, makanan datang tanpa harus keluar menghadapi terik matahari.

Namun pernahkah kita membayangkan, jika sekarang saja panasnya sudah seperti ini, bagaimana sepuluh atau dua puluh tahun mendatang? Apakah anak-anak kita masih bisa bermain nyaman di halaman rumah? Atau jangan-jangan mereka harus selalu membawa payung hanya untuk menghindari sengatan matahari?

Pertanyaan berikutnya, sebenarnya apa yang menyebabkan kondisi ini terjadi? Sebagian orang menyebut karena lapisan ozon menipis, sebagian lagi mengaitkannya dengan perubahan iklim dan semakin padatnya kawasan perkotaan. Apa pun penyebabnya, satu hal yang jelas: kota-kota kita sedang menghadapi suhu yang semakin tidak nyaman.

Lalu, adakah cara sederhana yang bisa kita lakukan untuk membantu meredam panas perkotaan?

Kebun Rumah Tangga dan Kebun Komunitas

Mungkin tidak banyak yang menyadari bahwa selama ini kita sebenarnya memiliki “pendingin alami”, yaitu pepohonan dan tanaman yang tumbuh di pekarangan rumah maupun lahan kosong di tengah permukiman.

Kebun-kebun kecil itu memang terlihat sederhana, tetapi keberadaannya membantu menciptakan iklim mikro yang lebih sejuk. Pohon dan tanaman mampu menyerap panas, memberikan keteduhan, sekaligus mengurangi pantulan panas dari beton dan aspal perkotaan.

Dalam konteks perkotaan, kebun rumah tangga dan kebun komunitas sesungguhnya merupakan bagian dari ruang terbuka hijau. Di berbagai negara maju, terutama di Eropa, ruang terbuka hijau semakin dipandang penting sebagai bagian dari pembangunan kota berkelanjutan. Tidak hanya berfungsi memperindah kota, tetapi juga mendukung kesehatan mental, penyediaan pangan, keanekaragaman hayati, hingga pengendalian suhu lingkungan.

Hasil penelitian Armansyah dkk. (2022–2025) di Kota Palembang, Bandung, dan Denpasar menunjukkan bahwa kegiatan berkebun berbasis rumah tangga maupun komunitas mulai semakin berkembang di kawasan perkotaan.

Di tengah hiruk-pikuk kota, kebun-kebun tersebut menjadi semacam oase hijau. Tidak jarang masyarakat sekitar menjadikannya tempat “healing tipis-tipis” untuk melepas penat dari rutinitas perkotaan.

Menariknya, banyak kebun komunitas kini diintegrasikan dengan berbagai aktivitas sosial. Ada yang dilengkapi saung, pondok berkumpul, hingga kafe sederhana di tengah kebun. Suasana yang sejuk dan nyaman membuat tempat seperti ini diminati berbagai kalangan, mulai dari anak muda hingga lansia.

Di Bandung, misalnya, terdapat kebun komunitas yang sekaligus menjadi ruang kreatif anak muda. Mereka menyeduh kopi, bermain gitar, dan bernyanyi bersama di tengah suasana hijau kebun.

Sementara di Denpasar, beberapa kebun komunitas memadukan kegiatan berkebun dengan pelatihan keterampilan dan seni bagi anak-anak sekolah. Kebun bukan lagi sekadar tempat menanam, tetapi juga ruang belajar sosial dan ekologis.

Hal serupa juga terjadi pada kebun rumah tangga. Banyak orang memanfaatkan pekarangan rumah sebagai ruang relaksasi. Sekadar memandangi tanaman atau membersihkan rumput liar ternyata mampu memberikan efek menenangkan setelah lelah beraktivitas.

Selain menghasilkan bunga, buah, dan sayuran, pohon-pohon yang ditanam di sekitar rumah juga membantu mengurangi panas. Kanopi tanaman mampu menghalangi sinar matahari langsung masuk ke rumah sehingga suhu lingkungan menjadi lebih nyaman.

Menuju Kota Sirkular

Manfaat kebun perkotaan pada skala rumah tangga dan komunitas sebenarnya memberikan gambaran besar tentang bagaimana kota masa depan seharusnya dibangun.

Jika praktik-praktik kecil ini diperluas, maka kebun perkotaan dapat menjadi bagian penting dalam strategi adaptasi terhadap udara panas di perkotaan. Di sinilah konsep Circular City atau Kota Sirkular menjadi relevan.

Secara sederhana, Kota Sirkular merupakan konsep pembangunan kota yang mengintegrasikan prinsip keberlanjutan, seperti mengurangi limbah, memanfaatkan kembali sumber daya, serta memulihkan lingkungan alam ke dalam sistem perkotaan. Konsep ini mencakup berbagai aspek, mulai dari tata bangunan, energi, transportasi, hingga bioekonomi perkotaan.

Konsep tersebut menjadi penting karena kawasan perkotaan saat ini mengonsumsi sebagian besar sumber daya dan energi dunia. Artinya, kota tidak bisa lagi dibangun hanya dengan logika beton, aspal, dan pembangunan fisik semata. Kota juga membutuhkan ruang hidup ekologis.

Karena itu, budaya berkebun di perkotaan perlu dihidupkan kembali, terutama pada skala rumah tangga dan komunitas. Bahkan di kawasan dengan kepadatan tinggi, fungsi ekologis sebenarnya tetap dapat diintegrasikan melalui desain bangunan hijau dan ruang tanam vertikal.

Sesungguhnya, gerakan ini bukanlah hal baru bagi masyarakat Indonesia. Kita berasal dari tradisi agraris yang sangat dekat dengan aktivitas berkebun dan bercocok tanam. Persoalannya, budaya tersebut perlahan mulai menjauh dari kehidupan perkotaan modern.

Padahal, banyak lahan kosong di tengah permukiman yang sebenarnya bisa diubah menjadi ruang hijau produktif, daripada hanya menjadi tempat sampah atau semak belukar.

Kota Denpasar memberikan contoh menarik. Melalui peran kepala banjar, masyarakat didorong mengubah lahan kosong menjadi kebun produktif. Pemilik lahan diajak berdiskusi untuk memanfaatkan lahannya, baik melalui pinjam pakai, sewa, maupun sistem bagi hasil.

Model seperti ini sebenarnya dapat diterapkan di banyak kota lain melalui RT, RW, maupun komunitas lokal. Sebab kadang kala masyarakat memiliki keinginan untuk berkebun, tetapi tidak memiliki dukungan sosial maupun kelembagaan untuk memulainya.

Pada akhirnya, kebun perkotaan memang terlihat sebagai kegiatan sederhana. Namun kemampuan kita menjadikannya sebagai kebiasaan dan budaya adalah sesuatu yang sangat penting.

Sebab apa yang kita lakukan hari ini akan menentukan seperti apa wajah kota kita di masa depan.

Akankah kota-kota kita tetap memiliki oase hijau? Atau justru kehilangan ruang teduh yang membuat manusia nyaman untuk hidup di dalamnya?


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Meutya Hafid Tegaskan Tak Ada Transfer Data Kependudukan RI ke AS
• 22 jam laludisway.id
thumb
Komisi XI DPR Desak Gubernur BI Mundur usai Rupiah Melemah
• 19 jam laludisway.id
thumb
Kemlu Kecam Tentara Israel Sandera WNI termasuk Wartawan
• 7 jam lalukatadata.co.id
thumb
Menkeu Jamin Anggaran Alutsista hingga Makan Bergizi Gratis Tak Ganggu APBN
• 23 jam lalumatamata.com
thumb
Sumedang Kembangkan Ubi Cilembu Lewat Kultur Jaringan
• 11 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.