Bisnis.com, JAKARTA – Pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) akan dipengaruhi oleh ekspektasi pasar mengenai hasil pertemuan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang digelar 19-20 Mei 2026.
Dalam RDG terakhir, BI menahan suku bunga acuan di level 4,75% dan kali ini diperkirakan bank sentral akan menaikkannya. Kebijakan ini yang akan dinantikan pasar dan menjadi sentimen pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG).
Chief Economist and Head of Fixed Income Research BRI Danareksa Sekuritas Helmy Kristanto mengatakan keputusan BI nanti akan mempertimbangkan kondisi rupiah yang melemah signifikan. Sampai dengan 18 Mei 2026, nilai tukar rupiah telah melemah 4,6% secara year to date.
"Berdasarkan metrik Purchasing Power Parity (PPP) dan Real Effective Exchange Rate (REER) menunjukkan bahwa rupiah semakin undervalued, tekanan eksternal yang terus bertahan mengindikasikan bahwa pelemahan ini mungkin tidak lagi semata-mata disebabkan oleh mispricing yang bersifat siklikal," ujarnya, dikutip Selasa (19/5/2026).
Helmy melihat kondisi ini dapat menandakan adanya pergeseran bertahap pada keseimbangan struktural nilai tukar rupiah, sehingga memerlukan kebijakan penyeimbang yang lebih terkoordinasi dari para pemangku kepentingan guna memulihkan kepercayaan pasar, menjaga ekspektasi, dan mencegah tekanan lebih lanjut terhadap rupiah.
"Oleh karena itu, kami menilai probabilitas kenaikan suku bunga oleh Bank Indonesia kini meningkat cukup signifikan," jelasnya.
Meski BI kemungkinan masih akan mengutamakan intervensi valas, lanjut dia, penyerapan likuiditas melalui SRBI dan stabilisasi pasar obligasi dinilai akan perlu diambil sebagai langkah awal. Menurutnya, pelemahan rupiah yang terus memburuk saat ini meningkatkan kebutuhan akan respons melalui kenaikan suku bunga acuan untuk menjaga ekspektasi dan memulihkan kepercayaan pasar.
Dalam riset terpisah, BRI Danareksa Sekuritas mencatat pada pelemahan 1,85% IHSG perdagangan Senin (18/5) kemarin, terdapat net sell asing sebesar Rp460 miliar di pasar reguler.
Analis menilai bahwa tekanan pasar masih dipengaruhi kenaikan yield US Treasury di kisaran 4,6%, penguatan dolar AS, serta pelemahan rupiah ke area Rp17.680 yang mendorong capital outflow dari pasar emerging market. Pasar juga mencermati potensi peninjauan indeks FTSE Russell yang dapat meningkatkan volatilitas saham domestik.
Sementara secara teknikal, IHSG masih berada dalam fase konsolidasi bearish, namun kondisi oversold membuka peluang technical rebound jangka pendek. Analis memperkirakan IHSG pada perdagangan Selasa (19/5) akan berada di rentang 6.500-6.720.
"IHSG diproyeksikan bergerak pada rentang support 6.500 dan resistance 6.720, dengan fokus pasar tertuju pada keputusan suku bunga Bank Indonesia di tengah tekanan nilai tukar rupiah," tulis analis.
Dalam kondisi seperti ini, analis merekomendasikan buy atas sejumlah saham untuk trading harian. Saham-saham tersebut adalah OASA dengan target harga Rp432-Rp458, AUTO dengan target harga Rp2.680-Rp2.750, dan HUMI dengan target harga Rp194-Rp208. Analis juga merekomendasikan sell untuk saham SIDO dengan target harga Rp382.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.



/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fphoto%2Fori%2F2026%2F05%2F18%2F9db4439b-86b7-40f0-97bb-990516c2af4b.jpg)

