Ancaman Ebola Jadi Alarm Kerusakan Ekologi dan Krisis Lingkungan Dunia

suarasurabaya.net
4 jam lalu
Cover Berita

Wabah penyakit menular kembali menjadi ancaman serius dunia. Setelah hantavirus belum sepenuhnya tertangani, kini virus Ebola kembali muncul dan menelan korban jiwa. Sedikitnya 88 orang dilaporkan meninggal dunia akibat wabah yang kembali merebak di kawasan Afrika.

Ari Baskoro pengajar senior Divisi Alergi-Imunologi Klinik FK Unair/RSUD Dr. Soetomo Surabaya mengingatkan, kemunculan wabah Ebola harus menjadi alarm serius bagi dunia terkait dampak kerusakan lingkungan dan perubahan ekologi global.

Menurut Ari Baskoro, munculnya kembali Ebola setelah ancaman hantavirus menunjukkan bahwa dunia tengah menghadapi kompleksitas baru dalam persoalan kesehatan global yang berkaitan erat dengan krisis lingkungan.

“Kerusakan ekologi berpotensi mengganggu homeostasis alam dan memicu munculnya patogen berbahaya,” kata Ari Baskoro, Selasa (10/5/2026).

Ia menjelaskan, Republik Demokratik Kongo dan Uganda kembali menjadi episentrum wabah Ebola yang telah menelan sedikitnya 88 korban jiwa.

Kondisi tersebut mendorong Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan status Kedaruratan Kesehatan Masyarakat yang Menjadi Perhatian Internasional atau Public Health Emergency of International Concern (PHEIC).

Meski belum masuk kategori pandemi, Ari menilai status tersebut menunjukkan bahwa Ebola merupakan ancaman serius karena memiliki tingkat penularan dan fatalitas yang sangat tinggi.

Virus Ebola sendiri merupakan penyakit zoonosis atau penyakit yang menular dari hewan ke manusia. Ari Baskoro mengatakan kelelawar menjadi salah satu inang alami berbagai virus mematikan, termasuk Ebola.

Dalam kajian yang merujuk pada publikasi ASM Journals 2025, ia menyebut kelelawar mampu menyimpan sedikitnya 28 famili virus tanpa mengalami sakit.

Namun, menurut Ari, kerusakan habitat akibat deforestasi dan ekspansi pembukaan lahan berisiko meningkatkan penyebaran virus dari satwa liar ke manusia.

“Jika situasi lingkungan berubah optimal sesuai kehidupannya, patogen tersebut dapat bangkit kembali dan memicu wabah,” ujar Ari Baskoro.

Ia menilai deforestasi, kebakaran hutan, dan eksploitasi lingkungan secara masif dapat mengganggu keseimbangan ekosistem dan memunculkan penyakit menular baru atau Emerging Infectious Diseases (EIDs).

Fenomena tersebut, lanjutnya, sebelumnya juga dikaitkan dengan munculnya berbagai wabah global seperti SARS, Covid-19, virus Nipah, Zika, hingga hantavirus.

Ari Baskoro juga menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan ekologi untuk mencegah perpindahan virus dari satwa liar ke manusia.

Dalam tulisannya, ia menggambarkan secara simbolik bagaimana kelelawar sebenarnya berupaya “mengisolasi” berbagai virus berbahaya di habitat alaminya. Namun ketika habitat itu rusak dan satwa mengalami stres, risiko penyebaran virus menjadi lebih besar.

“Wabah penyakit sejatinya bukan sekadar persoalan biologis, tetapi juga konsekuensi dari eksploitasi lingkungan yang tidak terkendali,” kata Ari.

Ia pun mengingatkan bahwa proyek pembukaan lahan skala besar, termasuk di kawasan hutan tropis, perlu memperhatikan risiko ekologis dan kesehatan jangka panjang.

Menurut Ari Baskoro, bumi yang mengalami kerusakan akan terus mencari keseimbangan baru melalui hukum alam, termasuk melalui munculnya berbagai penyakit menular.

“Bumi yang sakit selalu merespons mengikuti hukum alam dalam bentuk homeostasis atau keseimbangan baru,” ujarnya. (saf/faz)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Menjaga Kedaulatan Negara, Prabowo Serahkan 6 Pesawat Tempur Rafale dari Perancis ke TNI
• 19 jam lalukompas.tv
thumb
Dinkes Yogyakarta Imbau Masyarakat Waspadai Hantavirus, Ini Kelompok yang Berisiko
• 1 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Harga Minyak Mentah Indonesia Tembus 117,31 Dolar AS per Barel, Konflik Timur Tengah Jadi Pemicu
• 5 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Trump Tunda Serangan Militer ke Iran
• 2 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Di Atas Kertas Persib Bisa Juara, tapi Bung Ropan Ingatkan Borneo FC Siap Manfaatkan Blunder Maung Bandung
• 5 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.