Ekonom Senior Beberkan Bagaimana Cara Habibie Turunkan Keperkasaan Dolar di Hadapan Rupiah

wartaekonomi.co.id
15 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Ekonom senior dari INDEF, Didik J. Rachbini membocorkan bagaimana cara Presiden B. J. Habibie menurunkan pelemahan rupiah.

Didik menyebut contoh bagaimana pemulihan kepercayaan (trust) dan reformasi institusi mampu memperkuat nilai tukar rupiah secara signifikan.

Menurut Didik, pada masa krisis 1998, rupiah sempat menyentuh level terlemah Rp16.800 per dolar AS. Namun dalam waktu relatif singkat, di bawah kepemimpinan Habibie, rupiah berhasil menguat hingga Rp6.500 per dolar.

"Didik Rachbini, yang saat itu menjadi anggota Tim Reformasi Nasional bidang Ekonomi berdasarkan Keppres Habibie, menilai keberhasilan tersebut bukan semata karena kebijakan teknis ekonomi, melainkan karena pemulihan kepercayaan publik dan dunia usaha,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa Habibie, meski awalnya diragukan karena dianggap bagian dari Orde Baru, berhasil membangun kepercayaan melalui komitmen nyata terhadap reformasi. Langkah-langkah yang diambil antara lain melakukan amandemen UUD 1945 dengan penekanan pada pendidikan (20 persen APBN), kesehatan, otonomi daerah, dan pemilu langsung.

Kemudian, membebaskan pers dari sensor, membebaskan tahanan politik, serta mempercepat pemilu dan melakukan restrukturisasi dan rekapitalisasi perbankan, termasuk pembentukan BPPN dan merger menjadi Bank Mandiri.

"Lalu juga memberikan independensi kepada Bank Indonesia melalui UU No. 23 Tahun 1999 serta membentuk UU Anti-Monopoli dengan bantuan ahli dari Jerman," katanya.

Menurut Didik, semua reformasi tersebut berhasil mengembalikan kepercayaan masyarakat, dunia usaha, dan investor internasional. Akibatnya, kepanikan mereda dan rupiah pun menguat.

Ia menambahkan bahwa krisis 1998 pada dasarnya adalah krisis kepercayaan dan krisis institusi, bukan sekadar krisis ekonomi teknis. Karena itu, pemulihan kepercayaan menjadi kunci utama.

Saat ini, Didik melihat masalah rupiah yang kembali melemah juga disebabkan oleh faktor kepercayaan dan lemahnya institusi.

Ia mendukung rencana Presiden Prabowo Subianto untuk melakukan deregulasi birokrasi, namun menekankan perlunya reformasi institusi yang lebih komprehensif dan berkelanjutan seperti yang dilakukan era Habibie.

"Reformasi institusi yang komprehensif akan memberikan sinyal positif bagi pasar dan dunia usaha, sehingga investasi meningkat, ekspor lebih kuat, dan cadangan devisa bertambah,” pungkas Rektor Universitas Paramadina tersebut.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pramono: Kantor Kecamatan Kebayoran Baru Harus Jadi Rumah Rakyat
• 18 jam lalumetrotvnews.com
thumb
KPP DEM Kecam Aksi Intersep Israel hingga Berujung Penculikan Jurnalis dan Aktivis WNI
• 16 jam laludisway.id
thumb
Pembangunan Sekolah Rakyat Sumut Dikebut
• 3 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Anggaran Naik Jadi Rp 75 Juta, Pemkot Tangsel Targetkan Bedah 329 RTLH pada 2026
• 19 jam lalukompas.com
thumb
Indonesia dan 9 Negara Kecam Israel, Tuntut Pembebasan Aktivis Global Sumud
• 20 jam laluokezone.com
Berhasil disimpan.