Di kota-kota besar seperti Jakarta, banyak orang makin sibuk dengan rutinitas harian. Jangankan untuk bertemu orang baru, sekadar bersosialisasi dengan teman saja rasanya tak punya cukup waktu dan energi. Keresahan inilah yang dirasakan Gladys Santoso dan Meda Kawu bersama rekan mereka, Jusuf Winardi.
Thrid space ini didefinisikan Gladys sebagai ruang di antara rumah (first place) dan kantor (second space), yakni tempat ketika orang bisa datang tanpa membawa beban peran atau ekspektasi.
Dari keresahan itulah, Gladys, Meda dan Jusuf sepakat membangun komunitas yang bisa menjadi third space bagi siapa pun. Maka lahirlah komunitas Nyanyi Bareng Jakarta (NBJ). Konsep komunitas ini yakni mengajak semua orang, meski nggak saling kenal, untuk bertemu, berkumpul dan kemudian bernyanyi bersama.
Kenapa harus komunitas singing with strangers, sih?
Justru menurut Meda, di sinilah letak keseruannya. Third space yang terbuka bagi siapapun, harus punya kegiatan yang juga bisa diikutin oleh siapapun, semua orang dari beragam kalangan. Nah menurut Meda, salah satu kegiatan yang bisa dilakukan semua orang adalah bernyanyi.
“Kami punya satu impian sederhana, yaitu mengajak semua orang dengan level nyanyi setinggi dan serendah apapun untuk ngumpul dan nyanyi bareng. Karena semua orang yang bisa ngomong pasti bisa nyanyi, tinggal di-tweak sedikit aja,” ujar Meda antusias.
Berangkat dari Keterbatasan, Tumbuh karena KebutuhanAwalnya, NBJ berjalan dengan sangat sederhana. Meda dan Gladys mengaku mereka tidak punya panggung atau fasilitas yang lengkap. Bahkan, mereka harus memanfaatkan apa yang ada untuk memulai.
“Saya bawa box pilates dari rumah untuk jadi panggung,” cerita Meda sembari terbahak. Meda bilang, mereka lebih memilih untuk langsung jalan tanpa menunggu semuanya siap. “Karena kita percaya the power of limitation tuh bisa create creative juice makin gede. Jadi kita maju aja, pokoknya jalan aja dulu,” tambahnya.
Gayung bersambut, repons publik ternyata sangat positif. Sejak awal NBJ memulai kegiatannya dan diposting di sosial media, banyak orang yang langsung penasaran dan tertarik untuk ikutan.
Dalam waktu singkat, jumlah peserta meningkat dari puluhan menjadi ratusan orang. Pertemuan demi pertemuan terus bertambah besar seiring semakin banyak orang yang tahu tentang NBJ.
"Terakhir tembus 700 peserta,” ujar Meda.
Respons ini diakui Gladys terasa bittersweet. Bitter karena terbukti mereka benar soal minimnya third space di kota besar, soal banyak orang nyatanya butuh berkomunitas. Sweet sebab Gladys menyadari NBJ kini jadi solusinya.
“Mungkin bukan karena kita paling bagus di awal, tapi karena kita menghadirkan solusi,” ujar Gladys. Banyak orang yang merasa butuh ruang untuk berkumpul tanpa tekanan. NBJ hadir sebagai tempat di mana siapa pun bisa ikut, termasuk mereka yang merasa tidak bisa bernyanyi.
Menariknya, latar belakang para pendirinya sendiri mencerminkan semangat tersebut. Meda merupakan penyanyi dan vocal coach, begitu juga dengan Jusuf yang menguasai bidang musik. Sementara Gladys tidak datang dari dunia tarik suara. Ia justru memiliki pengalaman di bidang event.
“Kalau Meda memang semua darahnya adalah bernyanyi, aku bukan penyanyi, tapi aku suka bikin event,” ujar Gladys. Perbedaan ini saling melengkapi. Meda dan Jusuf membangun sisi musikal, sementara Gladys memastikan pengalaman komunitasnya berjalan dengan baik.
Ruang Aman untuk Terhubung dan BertumbuhSeiring berjalan, NBJ tidak hanya menjadi tempat bernyanyi. Banyak peserta datang sendiri, lalu pulang dengan pengalaman baru. Interaksi yang terjadi di dalamnya membuat orang merasa lebih dekat satu sama lain.
Energi di NBJ juga terasa datang dari dua arah. Tidak hanya dari penyelenggara ke peserta, tapi juga sebaliknya. Hal ini yang membuat Gladys dan Meda tetap semangat meski sedang lelah.
“Kadang kita lagi capek banget, tapi begitu di NBJ, energinya datang bukan cuma dari kita, tapi dari orang-orang yang haus untuk nyanyi. Itu contagious,” kata Meda.
“Ada juga yang bilang lagi sedih, tapi pas ikut NBJ jadi seneng lagi. Itu yang menurut aku jadi penyemangat kami karena kami sadar apa yang kami lakukan berdampak bagi orang lain,” tambah Gladys.
Cerita-cerita ini yang akhirnya membuat Gladys dan Meda semakin yakin bahwa apa yang mereka bangun masih sangat relevan dengan kebutuhan generasi muda saat ini. Yakni tentang pentingnya berkomunitas.
Bagi Gladys dan Meda, ada kekuatan dalam komunitas dan kebersamaan. Sebab dalam komunitas, orang bisa saling mendukung dan merasa tidak sendirian. Lewat komunitas juga, seseorang bisa belajar, bertumbuh, bahkan 'sembuh'.





