Setelah mencapai tujuan tertentu atau menyelesaikan tugas yang berat, wajar jika kamu ingin memberi apresiasi untuk diri sendiri. Nah, tindakan untuk menyenangkan diri sendiri ini dikenal dengan sebutan self reward.
Self reward memang sering dianggap sebagai cara sederhana untuk menjaga mood dan menghargai diri sendiri. Bentuknya bisa macam-macam, mulai dari liburan sampai checkout barang-barang yang sudah lama diincar.
Meski tujuannya positif, self reward terkadang juga bisa kelewat batas tanpa disadari. Momen ini sering memunculkan dorongan impulsif untuk membeli barang yang sebenarnya nggak terlalu dibutuhkan.
Situasi semacam ini tentunya sering dialami banyak orang, termasuk beberapa teman kumparanWOMAN. Nah, ingin tahu bagaimana pengalaman self reward mereka? Yuk, simak ceritanya di bawah ini!
Pengalaman Self Reward teman kumparanWOMANBentuk self reward yang biasanya dilakukan teman kumparanWOMAN Fani (28) adalah membeli barang yang sudah lama diimpikan. Baginya, ada rasa puas dan senang tersendiri ketika akhirnya bisa mendapatkan sesuatu setelah bekerja keras atau melewati hari-hari yang melelahkan.
Di sisi lain, Fani juga mengaku pernah beberapa kali terjebak dalam pembelian impulsif, terutama saat melihat banyak promo atau diskon. “Tapi jadi pemborosan saat membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan, cuma beli karena mumpung diskon,” ujarnya.
Menurut Fani, godaan promo dan potongan harga memang sering membuat seseorang merasa harus segera checkout barang sebelum kehabisan kesempatan. Padahal, setelah barang datang, nggak semuanya benar-benar terpakai atau memberikan manfaat dalam jangka panjang.
teman kumparanWOMAN Annisa (28) juga punya cara sendiri untuk melakukan self reward. Ia biasanya memilih belanja online sebagai bentuk healing saat berhasil melewati momen penting dalam hidup.
“Ada occasion-nya misal baru naik gaji, baru resign, baru lulus, baru kelar skripsi, berhasil presentasi depan BOD, abis stres ngadepin deadline panjang,” katanya.
Namun, ketika frekuensi self reward mulai terlalu sering atau dilakukan berkali-kali dalam waktu dekat, menurutnya hal itu sudah mengarah pada pemborosan.
Annisa sendiri mengaku jadi lebih boros karena menuruti rasa FOMO atau takut ketinggalan tren. Padahal, keinginan belanja itu sering muncul hanya demi mendapatkan rasa senang sesaat atau dorongan dopamin dalam tubuh.
Seperti dikutip dari Cleveland Clinic, dopamin merupakan zat kimia di otak yang berkaitan dengan rasa senang, puas, dan motivasi. Karena itu, aktivitas seperti belanja online bisa memunculkan perasaan bahagia sementara yang membuat seseorang ingin mengulanginya lagi dan lagi.
Dari cerita di atas, bisa dipahami bahwa self reward sebenarnya bukan hal yang salah selama dilakukan dengan sadar dan sesuai kebutuhan. Sesekali memanjakan diri memang bagus untuk menjaga mood, tetapi tetap penting untuk mengenali batas agar kebiasaan tersebut nggak berubah jadi pemborosan.
Temukan beragam cerita istimewa dari ribuan perempuan hebat lainnya, gabung komunitas teman kumparanWOMAN di kum.pr/tkwoman1





