Pemerintah kini mendorong pengolahan tumpukan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) menjadi Bahan Bakar Minyak (BBM) terbarukan melalui teknologi pirolisis, yaitu dengan menguraikan material organik dengan suhu tinggi.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan atau Zulhas mengatakan selama ini pengolahan sampah lebih banyak difokuskan menjadi energi listrik melalui proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL).
“Kalau sebelumnya sampah diolah menjadi energi listrik, sekarang kita dorong timbunan sampah di TPA diubah menjadi BBM terbarukan melalui teknologi pirolisis,” kata Zulhas usai Rakortas di di kantor Kemenko Pangan, Jakarta Pusat, Selasa (19/5).
“Yang (sampah) tinggi-tinggi itu akan diolah menjadi BBM. Namanya teknologinya pirolisis. Artinya, proses sampah tidak lagi sebagai beban,” tambahnya.
Zulhas memastikan program tersebut akan dijalankan bersama kementerian dan lembaga terkait berbarengan dengan pelaksanaan PSEL, yang seluruhnya ditargetkan rampung pada 2027 hingga 2028.
Zulhas mengungkapkan lokasi yang disiapkan saat ini terdapat enam titik, di antaranya Jakarta, Bandung, dan Bali.
“Ada 6 (lokasi). Ada di Bantargebang, ada di Bandung, ada di Bali,” terang Zulhas.
Sementara itu, CIO Danantara, Pandu Sjahrir, menjelaskan nantinya akan ada skema berbeda antara pengolahan sampah baru dan sampah lama. Sampah baru akan diolah melalui skema PSEL, sedangkan timbunan sampah lama yang sudah menggunung akan menggunakan teknologi tersendiri seperti pirolisis untuk dijadikan BBM.
“Yang paling besar kan Jakarta salah satunya. Nanti akan ada sampah lama yang udah menggunung itu. Itu akan menggunakan teknik sendiri (untuk jadi BBM),” terang Pandu saat ditemui usai Rakortas di Kemenko Pangan.





