Jakarta (ANTARA) - Dokter sekaligus Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) DR. Dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp.Kardio (K) mengingatkan fenomena El Nino “Godzilla” berpotensi memicu berbagai gangguan kesehatan pada anak, mulai dari dehidrasi, heat stroke, hingga penyakit akibat krisis air bersih.
“Fenomena El Nino Godzilla ini bisa memicu kekeringan ekstrem dan juga kenaikan suhu yang juga ekstrem. Apalagi ketika diperparah dengan iklim global, maka dampaknya bisa cukup serius bagi anak-anak kita,” kata Piprim dalam webinar daring, Selasa.
Ia mengatakan anak-anak merupakan kelompok usia yang sangat rentan terhadap perubahan cuaca ekstrem.
Baca juga: Rekomendasi IAKMI untuk menjaga kesehatan selama fenomena El Nino
Menurut dia, suhu panas berkepanjangan dapat meningkatkan ancaman dehidrasi dan heat stroke pada anak. Selain itu, krisis air bersih akibat kekeringan juga berisiko memicu penyakit berbasis air atau waterborne disease.
Adapun heat stroke adalah kondisi darurat ketika suhu tubuh meningkat sangat tinggi akibat paparan panas berlebihan atau dehidrasi, sehingga tubuh tidak mampu lagi mendinginkan diri.
“Beberapa wilayah mungkin anak terpaksa minum dari air yang kotor, kemudian akibatnya bisa terjadi penyakit-penyakit akibat air atau waterborne, seperti diare, dysentri, typhoid (tifus),” ujarnya.
Baca juga: Khofifah ingatkan BPBD siap siaga hadapi fenomena Godzilla El Nino
Piprim juga menyoroti potensi peningkatan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat cuaca panas ekstrem. Di sisi lain, genangan air hujan yang muncul secara sporadis disebut dapat memicu ledakan populasi nyamuk penyebab demam berdarah dengue (DBD).
“Oleh karena itu, sebagai dokter anak, maka kita perlu mewaspadai hal ini dan orang tua juga perlu diberikan pengetahuan yang cukup terhadap perubahan cuaca terkait dengan El Nino ini,” katanya.
Ia mengimbau para orang tua untuk memastikan kebutuhan cairan anak tetap terpenuhi, terutama saat beraktivitas di luar rumah.
Baca juga: BMKG prediksi Godzilla El Nino picu kemarau lebih panjang di Jambi
“Jangan tunggu haus untuk aktivitas di luar rumah. Tolong dikenakan topi atau pelindung kepala. Kalau bisa, lebih banyak di dalam rumah,” ujar Piprim.
Selain itu, ia meminta pemerintah menjadikan akses air bersih dan ketahanan pangan sebagai prioritas nasional di tengah ancaman El Nino.
“Isu El Nino ini bukan sekadar perubahan lingkungan biasa, tetapi juga perlu kita perhatikan dengan isu masalah kesehatan pada anak-anak,” katanya.
Baca juga: Kepadatan penduduk di kota besar jadi penyumbang peningkatan suhu
Berdasarkan situs resmi Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum yang diakses Selasa, Fenomena El Nino “Godzilla” merupakan sebutan umum yang merujuk pada kondisi El Nino super kuat yang bisa memicu perubahan cuaca ekstrem, terutama kemarau panjang. Para ahli menyebut, fenomena ini bukan hal baru, tapi levelnya jauh lebih intens dibanding El Nino biasa.
Secara sederhana, El Nino adalah fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian ekuator. Ketika suhu ini meningkat drastis, pola angin dan pembentukan awan berubah, sehingga wilayah seperti Indonesia justru mengalami penurunan curah hujan. Akibatnya, musim kemarau bisa datang lebih cepat, lebih panjang, dan lebih kering dari biasanya.
Baca juga: Tindakan yang perlu dilakukan saat terkena "heat stroke"
“Fenomena El Nino Godzilla ini bisa memicu kekeringan ekstrem dan juga kenaikan suhu yang juga ekstrem. Apalagi ketika diperparah dengan iklim global, maka dampaknya bisa cukup serius bagi anak-anak kita,” kata Piprim dalam webinar daring, Selasa.
Ia mengatakan anak-anak merupakan kelompok usia yang sangat rentan terhadap perubahan cuaca ekstrem.
Baca juga: Rekomendasi IAKMI untuk menjaga kesehatan selama fenomena El Nino
Menurut dia, suhu panas berkepanjangan dapat meningkatkan ancaman dehidrasi dan heat stroke pada anak. Selain itu, krisis air bersih akibat kekeringan juga berisiko memicu penyakit berbasis air atau waterborne disease.
Adapun heat stroke adalah kondisi darurat ketika suhu tubuh meningkat sangat tinggi akibat paparan panas berlebihan atau dehidrasi, sehingga tubuh tidak mampu lagi mendinginkan diri.
“Beberapa wilayah mungkin anak terpaksa minum dari air yang kotor, kemudian akibatnya bisa terjadi penyakit-penyakit akibat air atau waterborne, seperti diare, dysentri, typhoid (tifus),” ujarnya.
Baca juga: Khofifah ingatkan BPBD siap siaga hadapi fenomena Godzilla El Nino
Piprim juga menyoroti potensi peningkatan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat cuaca panas ekstrem. Di sisi lain, genangan air hujan yang muncul secara sporadis disebut dapat memicu ledakan populasi nyamuk penyebab demam berdarah dengue (DBD).
“Oleh karena itu, sebagai dokter anak, maka kita perlu mewaspadai hal ini dan orang tua juga perlu diberikan pengetahuan yang cukup terhadap perubahan cuaca terkait dengan El Nino ini,” katanya.
Ia mengimbau para orang tua untuk memastikan kebutuhan cairan anak tetap terpenuhi, terutama saat beraktivitas di luar rumah.
Baca juga: BMKG prediksi Godzilla El Nino picu kemarau lebih panjang di Jambi
“Jangan tunggu haus untuk aktivitas di luar rumah. Tolong dikenakan topi atau pelindung kepala. Kalau bisa, lebih banyak di dalam rumah,” ujar Piprim.
Selain itu, ia meminta pemerintah menjadikan akses air bersih dan ketahanan pangan sebagai prioritas nasional di tengah ancaman El Nino.
“Isu El Nino ini bukan sekadar perubahan lingkungan biasa, tetapi juga perlu kita perhatikan dengan isu masalah kesehatan pada anak-anak,” katanya.
Baca juga: Kepadatan penduduk di kota besar jadi penyumbang peningkatan suhu
Berdasarkan situs resmi Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum yang diakses Selasa, Fenomena El Nino “Godzilla” merupakan sebutan umum yang merujuk pada kondisi El Nino super kuat yang bisa memicu perubahan cuaca ekstrem, terutama kemarau panjang. Para ahli menyebut, fenomena ini bukan hal baru, tapi levelnya jauh lebih intens dibanding El Nino biasa.
Secara sederhana, El Nino adalah fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian ekuator. Ketika suhu ini meningkat drastis, pola angin dan pembentukan awan berubah, sehingga wilayah seperti Indonesia justru mengalami penurunan curah hujan. Akibatnya, musim kemarau bisa datang lebih cepat, lebih panjang, dan lebih kering dari biasanya.
Baca juga: Tindakan yang perlu dilakukan saat terkena "heat stroke"





