Cuaca Ekstrem Masih Berlanjut, Komisi VIII DPR Ingatkan BNPB Hal Ini

jpnn.com
2 jam lalu
Cover Berita

jpnn.com, JAKARTA - Anggota Komisi VIII DPR, Muhamad Abdul Azis Sefudin, mengingatkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) agar memperkuat langkah antisipasi menghadapi cuaca ekstrem yang masih terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia.

Dia menilai pola penanganan bencana tidak bisa lagi hanya berfokus pada respons setelah kejadian, melainkan harus dibangun melalui sistem antisipasi yang aktif dan terukur sejak awal.

BACA JUGA: BNPB Upayakan Pinjaman Luar Negeri Untuk Kebutuhan Anggaran Pencegahan Bencana

“Penanganan bencana tidak bisa lagi bersifat reaktif. Negara jangan baru bergerak setelah korban berjatuhan atau kerusakan meluas. Antisipasi harus diperkuat sejak awal ketika potensi cuaca ekstrem mulai terdeteksi,” ujar Azis.

Menurut politisi PDIP itu, intensitas bencana hidrometeorologi yang terus berulang dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan bahwa ancaman cuaca ekstrem kini tidak lagi bersifat musiman.

BACA JUGA: Siap-siap! Puluhan Ribu Aset Rumah Second Bakal Dilelang

Oleh karena itu, dia meminta pemerintah pusat dan daerah harus memiliki pola kerja yang lebih cepat, adaptif, dan siaga dalam menghadapi potensi bencana.

“Situasi sekarang menunjukkan bahwa ancaman bencana bisa terjadi kapan saja dan di banyak wilayah secara bersamaan. Karena itu pola kerja penanganannya juga harus berubah, tidak bisa lagi menunggu keadaan memburuk baru bergerak,” seru Azis.

BACA JUGA: Liff Hadirkan Facial 30 Menit, Cocok Untuk Kaum Urban yang Sibuk

Legislator asal Dapil Jawa Barat III ini menilai monitoring cuaca ekstrem harian perlu dilakukan secara lebih agresif melalui koordinasi yang kuat antara BNPB, BMKG, dan pemerintah daerah.

Menurutnya, informasi potensi cuaca buruk harus benar-benar diterjemahkan menjadi langkah kesiapan di lapangan, bukan hanya sebatas peringatan administratif.

“Peringatan dini harus aktif sampai level desa. Informasi cuaca ekstrem harus cepat diterima masyarakat dan diikuti langkah konkret dari aparat daerah, mulai dari kesiapan personel, jalur evakuasi, hingga langkah mitigasi di wilayah rawan,” tutur Azis.

Azis juga mendorong BNPB memastikan distribusi logistik siap pakai tersedia di daerah yang memiliki risiko tinggi terhadap banjir, longsor, maupun bencana hidrometeorologi lainnya.

Pasalnya, keterlambatan distribusi bantuan masih menjadi persoalan yang kerap terjadi saat bencana melanda.

“Logistik jangan baru digerakkan ketika bencana sudah besar. Daerah rawan harus memiliki kesiapan stok dan akses distribusi yang jelas agar penanganan darurat bisa lebih cepat,” katanya.

Selain itu, Azis juga menekankan pentingnya simulasi kebencanaan dan edukasi rutin kepada masyarakat agar budaya sadar bencana semakin kuat. Menurutnya, mitigasi harus menjadi bagian penting dalam sistem penanggulangan bencana nasional.

“Edukasi dan simulasi harus dilakukan secara rutin, bukan hanya ketika terjadi bencana besar. Masyarakat perlu dibiasakan memahami langkah penyelamatan diri dan pola evakuasi saat situasi darurat terjadi,” serunya.(chi/jpnn)


Redaktur & Reporter : Yessy Artada


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Merawat Ruang Bermain Anak di Tengah Arus Digital
• 9 jam lalukompas.id
thumb
Sinar Mas Land dan UD IMPACT Luncurkan AI Entrepreneurship Academy di BSD City, Perkuat Talenta dan Ekosistem Entrepreneurship Berbasis AI
• 3 jam lalutvonenews.com
thumb
Rumah ASN Kemenimipas di Bekasi Dibangun Pakai Limbah PLTU dan PLN
• 9 jam laludetik.com
thumb
Ratusan Mahasiswa dan Pelajar Belajar Sistem Pemerintahan Lewat Kunjungan ke Istana Kepresidenan
• 6 jam lalupantau.com
thumb
Jurnalis Indonesia Ditahan Militer Israel, Komdigi: Keselamatan Pers Harus Jadi Perhatian
• 16 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.