Setiap kali mendapat nilai sempurna, seorang anak disambut dengan tepuk tangan dan seruan, “Kamu memang pintar sekali!” Namun pada hari ketika nilainya menurun sedikit, wajahnya muram dan suaranya pelan. Ia takut pulang, takut kehilangan kalimat manis yang biasa ia dapat. Apakah Anda pernah mengalami situasi yang saya ceritakan itu? Jika ya, ada baiknya saya sarankan untuk mengambil jeda dan belajar memahami bahwa memuji anak tak perlu gegap gempita dan heboh. Sebab, pujian yang semula niatnya baik, bisa menjadi jebakan yang halus.
Saat yang lain, kita kerap memuji anak-anak dengan sebutan, “anak cantiknya mama”, “kamu anak yang soleh”, atau “anak ganteng”. Sepertinya pujian semacam ini tampak wajar dan baik-baik saja. Namun, jika kita mau belajar lebih jauh, sejatinya, pujian yang menyasar sifat anak-anak merupakan sesuatu yang kurang pas. Dalam jangka yang panjang, anak-anak akan mengidentifikasi nilai dirinya sebatas pada sifat yang yang sering disebut itu. Anak-anak jadi kurang mampu melihat pentingnya proses melalui kinerja produktif yang diupayakan.
Tampaknya kita hidup di zaman yang penuh pujian. Diri yang apa adanya acap hilang oleh gairah untuk menampilkan citra diri dari sudut pandang terbaik. Setiap pencapaian kecil anak sering diumumkan ke publik, di media sosial, di sekolah, bahkan di ruang keluarga. Kita ingin anak-anak tumbuh percaya diri, tapi tanpa sadar kita membangun kepercayaan diri yang rapuh, yang hanya berdiri di atas kata-kata manis orang lain. Sebagai orang tua atau pendidik, kita sering berpikir bahwa memuji anak adalah bentuk kasih sayang. Kita ingin anak merasa dihargai. Namun jangan lupa, tanpa kewaspadaan kita akan jatuh pada tindakan yang disebut dengan bias pujian, yaitu kecenderungan memberi pujian dengan cara yang justru salah sasaran. Bias ini muncul ketika pujian tidak lagi menumbuhkan, melainkan menekan.
Dalam psikologi perkembangan, pujian memang dikenal sebagai penguatan positif. Ia bisa memperkuat perilaku baik dan membangun motivasi. Carol Dweck dalam teorinya tentang growth mindset, tidak semua pujian berdampak baik. Pujian yang menekankan bakat bawaan, seperti “Kamu pintar sekali!” cenderung menumbuhkan fixed mindset, keyakinan bahwa kecerdasan bersifat tetap dan tidak dapat diubah.
Sebaliknya, pujian yang berfokus pada proses, seperti “Kamu sudah berusaha keras ya, hebat kamu tidak menyerah,” menumbuhkan growth mindset, pandangan bahwa kemampuan dapat berkembang melalui latihan dan ketekunan. Anak yang menerima jenis pujian ini cenderung lebih tahan menghadapi tantangan dan tidak mudah menyerah ketika gagal.
Sayangnya, praktik pola pengasuhan kita seringkali masih terjebak dalam langgam lama. Kita lebih mudah memuji hasil ketimbang mengapresiasi kinerja anak sewaktu mencoba dan belajar hal baru. Kita acap kali merasa senang ketika anak menjadi juara, bukan ketika ia belajar bangkit dari kegagalan. Akibatnya, anak belajar bahwa cinta dan penerimaan datang dari keberhasilan. Padahal, hadiah cinta semestinya hadir karena sang buah hati menampilkan keberanian untuk mencoba.
Bias pujian juga kerap datang menyelinap dalam bentuk yang lebih halus, bias gender dan sosial. Anak laki-laki sering dipuji karena prestasinya, sementara anak perempuan karena sifat manis dan kepatuhannya. Sejak dini, mereka belajar bahwa ada peran yang “disukai” dan “tidak disukai” oleh orang dewasa. Dan dari sana, lahirlah pola pikir yang membatasi potensi diri.
Padahal, pujian yang sehat adalah yang menegaskan nilai diri anak, bukan labelnya. Mengatakan “Kamu tekun belajar” lebih bermakna daripada “Kamu pintar.” Menyebut “Kamu bijak karena berani meminta maaf” lebih membangun daripada “Kamu anak baik karena patuh.” Pujian yang baik tidak meninabobokan, melainkan membangunkan kesadaran.
Dalam praktik sehari-hari, kita bisa mulai dengan bertanya pada diri sendiri, untuk siapa sebenarnya pujian itu? Apakah untuk anak agar ia tumbuh kuat dan berani? Atau malah untuk diri kita sendiri, agar tampak berhasil mendidik anak? Kadang tanpa sadar, kita menjadikan pujian sebagai cara menjaga citra keluarga, bukan sebagai sarana membimbing pertumbuhan jiwa anak.
Pujian seharusnya menjadi bahasa kasih, tak elok jika menjadi alat kontrol. Ia bisa menjadi jembatan antara anak dan orang tua, jika diucapkan dengan tulus dan tepat. Misalnya, ketika anak gagal dalam lomba, kita bisa berkata, “Aku bangga kamu sudah berani tampil, meskipun belum menang.” Kalimat sederhana itu memberi ruang bagi anak untuk menghargai proses, bukan hanya hasil.
Kita juga perlu berhenti menilai setiap pencapaian anak dengan ukuran publik. Tidak semua keberhasilan perlu dipamerkan. Anak perlu belajar bahwa kebahagiaan sejati tidak bergantung pada validasi dari luar. Pujian yang paling bermakna justru yang diucapkan dengan lembut, di ruang pribadi, tanpa kamera dan penonton.
Menjadi orang tua atau pendidik berarti juga belajar menahan diri, menahan keinginan untuk selalu memberi penilaian, bahkan dalam bentuk pujian. Sebab tak selalu, anak butuh kata-kata “hebat”, tapi cukup tatapan hangat yang mengatakan, “Aku tahu kamu berusaha, dan aku bangga padamu.”
Memuji kinerja/proses/pengalaman semisal, “Ayah bangga kamu sudah membereskan mainan” akan lebih bijak ketimbang memuji dengan kata sifat seperti, “kamu pintar”, “kamu ganteng”, atau “kamu hebat”. dengan fokus pada kinerja, orang tua atau guru mengajarkan anak bahwa nilai dirinya tidak ditentukan oleh seberapa tinggi nilainya, seberapa cepat ia menang, atau seberapa banyak ia dipuji. Nilainya terletak pada keberaniannya untuk terus belajar, jatuh, dan bangkit lagi. Anak menjadi pribadi yang tangguh.
Kesadaran penting sebagai orang tua atau guru adalah mendidik anak bukan tentang seberapa sering kita berkata manis, tapi seberapa jujur kita mengajarkan makna dari setiap simpul kehidupan. Maka, berhentilah memuji dengan cara yang salah. Pujilah dengan kesadaran, dengan cinta, dan dengan niat menumbuhkan, bukan menghanyutkan jiwa anak-anak dalam arus kesenangan yang meninabobokan. Karena setiap pujian yang bijak adalah benih karakter yang kita tanam di hati anak, dan dari sanalah masa depan tumbuh.





