CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan di pasar spot pada perdagangan Selasa (19/5/2026).
Mata uang Garuda tercatat melemah 30 poin atau 0,20 persen ke level Rp17.704 per dolar AS, setelah sehari sebelumnya ditutup turun 71 poin ke posisi Rp17.668 per dolar AS.
Pelemahan rupiah tersebut dinilai berpotensi memicu kenaikan harga pangan dan menekan daya beli masyarakat. Pengamat Ekonomi Universitas Bosowa Makassar, Firman Menne, mengatakan dampak pelemahan rupiah akan terasa langsung pada harga barang di pasaran, termasuk sektor pangan.
“Efek domino dari kenaikan nilai tukar dollar terhadap rupiah akan memicu kenaikan harga barang-barang di pasaran termasuk harga pangan,” ujar Firman kepada Celebesmedia.id, Selasa (19/5).
Kenaikan harga pangan dinilai sulit dihindari karena sebagian besar kebutuhan produksi pangan nasional masih bergantung pada barang impor, mulai dari pupuk, bahan baku industri makanan, hingga alat produksi pertanian. Ketika nilai tukar rupiah melemah, biaya impor otomatis meningkat dan pada akhirnya dibebankan kepada konsumen melalui kenaikan harga jual.
Kondisi tersebut dapat memperburuk tekanan terhadap masyarakat berpenghasilan rendah. Daya beli berpotensi menurun karena pengeluaran rumah tangga untuk kebutuhan pokok semakin besar, sementara pendapatan masyarakat belum tentu mengalami peningkatan.
Firman menjelaskan pelemahan rupiah juga berdampak terhadap sektor industri nasional yang masih bergantung pada bahan baku impor. Kenaikan biaya produksi dapat memicu inflasi dan memperlambat aktivitas usaha di dalam negeri.
“Dalam jangka pendek, pelemahan rupiah dapat menimbulkan tekanan terhadap perekonomian nasional melalui kenaikan harga barang impor, meningkatnya biaya produksi industri yang bergantung pada bahan baku luar negeri, bertambahnya beban pembayaran utang luar negeri, serta melemahnya daya beli masyarakat akibat meningkatnya inflasi,” katanya.
Selain harga pangan, tekanan rupiah juga berpotensi memengaruhi stabilitas pasar keuangan. Investor cenderung lebih berhati-hati menempatkan modalnya di negara berkembang ketika nilai tukar terus mengalami depresiasi. Kondisi ini dapat memicu perlambatan investasi dan menekan pasar saham domestik.
Di sisi lain, pelemahan rupiah sebenarnya membuka peluang bagi sektor ekspor dan pariwisata. Nilai devisa yang diterima eksportir akan lebih besar ketika dikonversi ke rupiah. Namun peluang tersebut tidak otomatis dapat dimanfaatkan apabila kondisi ekonomi domestik sedang lesu.
“Kalau kondisi ekonomi domestik lesu, tentu produktivitas menjadi rendah, sehingga sulit melakukan ekspor,” tutur Firman.
Menurutnya, pelemahan rupiah dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan domestik. Dari sisi global, penguatan dolar AS dipicu kebijakan suku bunga tinggi Amerika Serikat serta meningkatnya ketegangan geopolitik dunia, khususnya di Timur Tengah. Situasi tersebut ikut mendorong kenaikan harga minyak dunia dan meningkatkan kebutuhan devisa untuk impor energi.
Sementara dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah dipicu arus keluar modal asing atau capital outflow, tingginya permintaan dolar AS untuk pembayaran utang luar negeri dan impor, serta tantangan fundamental ekonomi nasional seperti defisit transaksi berjalan dan ketergantungan impor.
Apabila kondisi pelemahan rupiah berlangsung dalam waktu panjang tanpa penguatan fundamental ekonomi, maka dampaknya dapat semakin luas. Kepercayaan investor bisa melemah, beban fiskal pemerintah meningkat, dan tekanan inflasi berpotensi berlangsung lebih lama.
Meski demikian, situasi tersebut juga dapat menjadi momentum bagi pemerintah untuk memperkuat industri domestik dan mengurangi ketergantungan terhadap produk impor. Penguatan sektor produksi dalam negeri dinilai menjadi langkah penting agar ekonomi nasional lebih tahan terhadap gejolak nilai tukar global.




