Liputan6.com, Jakarta - Malam di Laut Mediterania Timur terasa lebih dingin dan mencekam dari biasanya. Di atas gelombang yang tenang, sekelebat bayangan tak diundang terus mengintai dari langit. Drone-drone militer Israel rupanya sudah mengunci pergerakan kapal misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) sejak matahari tenggelam.
Nahas, firasat buruk itu menjadi kenyataan saat fajar menyingsing, Senin (18/5/2026). Pagi itu, sekitar pukul 08.00 waktu setempat, ketegangan pecah di tengah laut. Dua kapal perang Israel tiba-tiba muncul, memburu konvoi kapal kemanusiaan yang hendak menembus blokade Gaza.
Advertisement
Herman Budianto, salah satu relawan Indonesia yang berada di lokasi kejadian, mengingat betul detik-detik mendebarkan tersebut.
"Jadi pagi, kejadiannya pagi sekitar jam 8 jam 9 waktu di sini ya. Kita lihat kalau malam sih sudah kelihatan drone selalu mengawasi kalau turun, tapi kalau ini tiba-tiba kelihatan ada dua kapal perang (Israel)," kisah Herman saat dihubungi Liputan6.com, Selasa (19/5/2026).
Suasana seketika berubah riuh penuh kepanikan. Menyadari bahaya besar mengintai, kapal-kapal dalam rombongan GSF langsung membubarkan diri, melempar arah demi menghindari kejaran. Namun, militer Israel bergerak cepat. Mereka menurunkan sejumlah perahu karet taktis berkecepatan tinggi demi menyergap kapal-kapal relawan.
"Mereka menurunkan perahu-perahu karet ya untuk mengejar target-target yang bisa dijangkau oleh mereka itu tadi," lanjut Herman.




