BEKASI, KOMPAS.com - Aroma khas rebusan kedelai masih tercium dari sebuah rumah produksi tahu di Gang Mawar VI, Kelurahan Margahayu, Kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi, Selasa (19/5/2026).
Di bangunan sederhana yang berdiri di tepi kali itu, Dian Purnama (30) tetap menjalankan usaha tahu milik keluarganya yang telah bertahan selama puluhan tahun.
Sejak pagi, Dian bersama keluarganya sibuk mengolah ratusan kilogram kedelai menjadi ribuan potong tahu yang dipasarkan ke sejumlah pasar di Bekasi.
Baca juga: LBH Nilai Tim Pemburu Begal Tak Efektif Kurangi Angka Kejahatan di Jakarta
Namun, di balik aktivitas produksi yang terus berjalan, Dian menghadapi tantangan berat akibat kenaikan harga kedelai impor yang dipicu melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
“Untuk menyeimbangkan produksi, saya lebih pilih mengurangi keuntungan. Kalau dinaikkan harganya takut enggak masuk ke pasaran,” ujar Dian saat ditemui Kompas.com di lokasi produksi.
Menurut Dian, kenaikan harga kedelai mulai terasa sejak dua hingga tiga bulan terakhir. Bahkan, harga bahan baku utama pembuatan tahu itu kini nyaris naik 10 persen dibanding sebelumnya.
“Sebelumnya harga kedelai sekitar Rp 10.000 per kilogram, sekarang sudah hampir Rp 11.000 per kilogram,” kata dia.
Meski biaya produksi terus membengkak, Dian memilih tidak menaikkan harga jual tahu. Ia khawatir pelanggan akan beralih ke produsen lain apabila harga tahu ikut naik.
“Jadi lebih baik mengurangi keuntungan saja. Yang penting masih ada keuntungan sedikit,” ujar Dian.
Baca juga: Harga Kedelai Naik Imbas Dollar AS Menguat, Perajin di Bekasi Terpaksa Kecilkan Ukuran Tempe
Saat ini, tahu produksinya dijual dengan harga Rp 500 hingga Rp 600 per potong. Dalam sehari, Dian mengolah sekitar 150 kilogram kedelai dengan proses produksi selama kurang lebih empat jam, mulai dari merebus, menggiling, hingga mencetak tahu siap jual.
Hasil produksi tersebut dipasarkan ke Pasar Baru, pasar kaget, hingga pembeli yang datang langsung ke rumah produksinya.
Namun, di tengah kondisi ekonomi yang semakin mahal, daya beli masyarakat ikut menurun. Dian mengaku para pedagang langganannya juga mulai mengeluhkan sepinya pembeli.
“Pedagang juga bilang pembeli mulai sepi karena sekarang semuanya serba mahal. Permintaan di pasar juga jadi menurun,” kata dia.
Sebelum harga kedelai melonjak, omzet usaha tahu milik keluarganya bisa mencapai sekitar Rp 1 juta per hari. Kini, omzet tersebut disebut turun hingga 30 persen.
Meski demikian, Dian tetap memilih bertahan. Baginya, usaha tahu itu bukan sekadar bisnis, melainkan sumber penghidupan utama keluarga yang telah dijalani turun-temurun.





