Penekanannya adalah pemerintah ingin mempermudah akses kepemilikan hunian layak dan terjangkau bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
IDXChannel - Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) kembali merumuskan wacana kebijakan cicilan atau tenor rumah subsidi yang diperpanjang sampai 40 tahun. Penekanannya adalah pemerintah ingin mempermudah akses kepemilikan hunian layak dan terjangkau bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
“Sesuai arahan Presiden, kami sedang mempersiapkan berbagai kebijakan agar tenor cicilan rumah subsidi bisa sampai 40 tahun sehingga cicilan menjadi lebih ringan dan terjangkau bagi masyarakat,” ujar Menteri PKP Maruarar Sirait (Ara) dalam keterangan tertulis, Selasa (19/5/2026).
Sebagai simulasi, Ara menjelaskan bahwa saat ini KPR rumah subsidi dengan harga untuk wilayah Jawa dan Sumatera sebesar Rp166 juta tenor 20 tahun memiliki cicilan rata-rata sekitar Rp1.058.000 per bulan.
"Dengan cicilan saat ini, masih banyak buruh, petani, pekerja informal, dan masyarakat di daerah dengan UMP rendah yang kesulitan membeli rumah,” ujar dia.
Namun, apabila tenor diperpanjang hingga 40 tahun, cicilan diperkirakan turun menjadi sekitar Rp773.000 per bulan. Dengan nominal cicilan tersebut, Ara mengatakan harga yang ditawarkan lebih realistis bagi masyarakat.
“Kalau cicilan bisa turun menjadi sekitar Rp773 ribu per bulan, maka peluang masyarakat berpenghasilan rendah untuk memiliki rumah akan semakin besar. Ini membuka akses yang lebih luas agar masyarakat bisa memiliki rumah layak huni sekaligus mempercepat pengurangan backlog perumahan,” kata Ara.
Dia menambahkan soal skema tenor 40 tahun tersebut bersifat opsional dan disesuaikan dengan kemampuan masyarakat. Sebab, cicilan berjangka empat dasawarsa ini bergantung pada pilihan dan kemampuan masyarakat sendiri, dan tidak ada aturan baku dari pemerintah untuk memaksa.
"Masyarakat tetap bisa memilih tenor sesuai kemampuan keuangannya. Kami ingin anak muda, pekerja informal, buruh, petani, dan masyarakat berpenghasilan rendah memiliki kesempatan lebih besar untuk memiliki rumah,” kata dia.
(NIA DEVIYANA)





