Jakarta, ERANASIONAL.COM – Rumor mengenai pembentukan badan khusus ekspor komoditas strategis oleh pemerintah mengguncang pasar keuangan domestik dan memicu tekanan besar di Bursa Efek Indonesia pada perdagangan Selasa (19/5/2026). Isu yang berkembang cepat di kalangan pelaku pasar tersebut mendorong aksi jual di berbagai sektor, terutama saham berbasis komoditas dan energi, hingga membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok 3,46 persen ke level 6.370,68.
Di tengah gejolak pasar tersebut, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto belum memberikan penjelasan rinci mengenai kabar pembentukan lembaga baru yang disebut akan mengatur ekspor sejumlah komoditas unggulan Indonesia. Airlangga hanya meminta publik menunggu pembahasan resmi pemerintah bersama DPR RI.
“Kita tunggu besok. Besok bicara mengenai kondisi ekonomi di DPR RI,” kata Airlangga saat ditemui di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Selasa (19/5/2026).
Rumor yang beredar menyebut pemerintah tengah mempertimbangkan pembentukan badan khusus untuk mengelola dan mengatur ekspor sejumlah komoditas strategis nasional seperti batu bara, crude palm oil (CPO), hingga mineral logam. Wacana itu memunculkan kekhawatiran investor karena dinilai dapat membuka ruang pengendalian harga ekspor dan mempengaruhi fleksibilitas bisnis perusahaan.
Pelaku pasar menilai apabila ekspor komoditas diatur melalui satu lembaga khusus negara, maka potensi intervensi terhadap harga jual dan distribusi komoditas bisa meningkat. Kondisi tersebut dikhawatirkan akan berdampak langsung terhadap margin keuntungan emiten-emiten besar di sektor energi, perkebunan, hingga pertambangan.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim mengatakan pasar merespons negatif rumor tersebut karena investor khawatir terhadap kemungkinan perubahan mekanisme perdagangan komoditas strategis Indonesia.
“Kekhawatiran pelaku pasar muncul setelah beredarnya rumor bahwa pemerintah berencana mengatur ekspor komoditas melalui satu badan khusus bentukan negara,” ujar Ratna dalam riset hariannya di Jakarta.
Menurut dia, isu tersebut menimbulkan kekhawatiran bahwa perusahaan eksportir akan menghadapi pembatasan tertentu yang dapat mempengaruhi harga jual dan profitabilitas usaha. Sentimen negatif itu langsung tercermin pada tekanan besar di saham-saham sektor bahan baku, energi, serta transportasi dan logistik.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, sektor barang baku menjadi sektor dengan penurunan terdalam setelah melemah hingga 7,54 persen. Sementara sektor energi turun 6,89 persen dan sektor transportasi serta logistik terkoreksi 6,60 persen.
Tekanan jual terjadi hampir sepanjang hari perdagangan. IHSG yang dibuka di zona merah tidak mampu bangkit hingga penutupan sesi kedua. Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 612 saham mengalami penurunan, hanya 112 saham yang menguat, sedangkan 94 saham stagnan.
Nilai transaksi perdagangan tercatat mencapai Rp25,80 triliun dengan volume perdagangan sebesar 46,07 miliar saham dalam lebih dari 2,8 juta kali transaksi. Kondisi ini menunjukkan tingginya aktivitas jual investor di tengah ketidakpastian arah kebijakan pemerintah terkait tata kelola ekspor komoditas nasional.
Sejumlah saham yang mengalami pelemahan terbesar di antaranya DSNG, ELPI, TAPG, ICON, dan DFAM. Di sisi lain, saham yang masih mampu menguat antara lain LCKM, RELI, ASPR, UDNG, dan CINT.
Ratna juga menjelaskan bahwa rumor tersebut berkembang berdekatan dengan agenda penting pemerintah di DPR RI. Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan menghadiri rapat paripurna DPR untuk menyampaikan pidato mengenai Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal RAPBN 2027.
Agenda itu menjadi sorotan pasar karena untuk pertama kalinya kepala negara secara langsung menyampaikan dokumen KEM-PPKF di hadapan DPR, yang sebelumnya lazim dipaparkan Menteri Keuangan. Investor menilai pidato tersebut berpotensi memuat arah baru kebijakan ekonomi nasional, termasuk strategi penguatan devisa dan pengelolaan ekspor sumber daya alam.
Di tengah tekanan pasar saham, Airlangga mengakui pemerintah memang tengah menyiapkan langkah-langkah untuk memperkuat cadangan devisa negara dan mengoptimalkan potensi ekspor nasional. Namun ia belum menjelaskan secara spesifik bentuk kebijakan yang akan ditempuh pemerintah.
“Kebijakan itu nanti mendorong penguatan devisa kita dan optimalisasi komoditas-komoditas yang bisa didorong menjadi ekspor,” kata Airlangga.
Selain faktor domestik, tekanan terhadap pasar keuangan Indonesia juga dipengaruhi kondisi global. Airlangga menyebut permintaan dolar Amerika Serikat di dalam negeri sedang meningkat dalam beberapa pekan terakhir, terutama karena kebutuhan musim ibadah haji dan pembayaran dividen perusahaan.
“Selama bulan ibadah haji ini permintaan terhadap dolar juga tinggi. Setelah laporan keuangan, pembayaran dividen itu kebanyakan juga di bulan-bulan ini,” ujarnya.
Menurut Airlangga, kenaikan harga minyak dunia turut memperbesar tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Kenaikan harga energi global menyebabkan kebutuhan devisa impor meningkat sehingga permintaan dolar AS di pasar domestik ikut bertambah.
“Jadi memang permintaannya sedang tinggi. Ditambah harga minyak masih naik, sehingga faktor eksternalnya sangat kuat,” kata dia.
Meski demikian, pemerintah tetap optimistis kondisi ekonomi nasional akan membaik pada semester II tahun 2026. Harapan tersebut ditopang oleh potensi stabilisasi nilai tukar, perbaikan arus modal asing, serta dorongan konsumsi domestik pada paruh kedua tahun ini.
“Mudah-mudahan semester II bisa lebih baik lagi,” ujar Airlangga.
Selain mencermati isu badan ekspor komoditas, investor juga tengah menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang akan diumumkan pada Rabu (20/5/2026). Konsensus pasar memperkirakan BI akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5 persen guna menahan pelemahan rupiah dan menjaga stabilitas pasar keuangan.
Pasar juga menaruh perhatian pada data pertumbuhan kredit perbankan April 2026 yang diperkirakan meningkat menjadi 9,7 persen secara tahunan dibandingkan 9,49 persen pada Maret lalu. Pertumbuhan kredit yang tetap tinggi dinilai menjadi indikator bahwa aktivitas ekonomi domestik masih berjalan cukup solid di tengah tekanan global.
Sementara itu, bursa saham Asia bergerak bervariasi pada perdagangan Selasa sore. Indeks Nikkei tercatat melemah 0,12 persen, sedangkan Hang Seng menguat 0,48 persen. Indeks Shanghai naik 0,92 persen dan Straits Times Singapura menguat 1,51 persen. Kondisi tersebut menunjukkan tekanan di pasar saham Indonesia lebih banyak dipicu sentimen domestik dibanding faktor eksternal kawasan.





