Purbaya Happy Defisit APBN Susut Jadi 0,6% PDB di April, Ini Sebabnya!

cnbcindonesia.com
11 jam lalu
Cover Berita
Foto: Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa saat menyampaikan pemaparan dalam konferensi pers APBN KiTa Edisi Mei 2026 di kantor pusat Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Selasa (19/5/2026). (Tangkapan Layar Youtube/Kementerian Keuangan RI)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah mengklaim kinerja APBN hingga 30 April 2026 menunjukkan fondasi fiskal yang tetap kuat, dengan pendapatan yang tumbuh positif, belanja yang ekspansif namun terukur, serta defisit yang tetap terkendali untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

APBN mencatat defisit sebesar Rp164,4 triliun atau sekitar 0,64% terhadap PDB. Besaran defisit masih dalam batas yang terjaga sesuai target yang ditetapkan serta mencerminkan peran APBN sebagai instrumen stabilisasi sekaligus katalis pertumbuhan ekonomi.


Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan kinerja defisit APBN membaik dibandingkan Maret 2026 yang defisit Rp 240,1 triliun atau setara 0,93% terhadap PDB. Defisit bisa diperkecil karena keseimbangan primer surplus Rp 28 triliun per 30 April 2026.

Baca: Bersiaplah: Prabowo Paparkan 'Calon' APBN 2027, BI Rate Naik Hari Ini?

"Realisasi sampai April 2026 defisitnya tinggal Rp 164,4 triliun atau 0,64% dari PDB. Kemarin waktu keluar di Maret 2026 0,93%. Analis bilang kalau pukul rata defisitnya bisa 3,6%. Hitungannya nggak begitu, kalau cara mereka (Analis) begitu, itu hitungan ajaib," paparnya dalam konferensi pers APBN KITA, Selasa (19/5/2026).

Adapun, menurut Purbaya, kondisi fiskal saat ini membaik. Pasalnya, keseimbangan primer sudah surplus lagi Rp 28 triliun. Dia yakin ke depan mungkin akan terus membaik.

Sebagai catatan, surplus keseimbangan primer adalah kondisi di mana total pendapatan negara lebih besar daripada belanja negara, tanpa memperhitungkan pembayaran bunga utang. Ini juga berarti bahwa pemerintah tidak lagi menarik utang untuk menambal utang lama.

Jika keseimbangan primer terus surplus, maka beban utang negara secara bertahap akan lebih terkendali karena pemerintah tidak lagi berutang hanya untuk menutupi kekurangan kas operasional.

Baca: Breaking! Defisit APBN Rp164,4 Triliun di Akhir April 2026

Realisasi Pendapatan Negara mencapai Rp918,4 triliun atau 29,1% dari target APBN 2026. Capaian ini tumbuh positif sebesar 13,3% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Kinerja ini terutama didorong oleh penerimaan pajak yang mencapai Rp646,3 triliun dengan pertumbuhan 16,1% (yoy), penerimaan kepabeanan dan cukai sebesar Rp100,6 triliun yang tumbuh 0,6% (yoy),serta PNBP sebesar Rp171,3 triliun yang juga tumbuh 11,6% (yoy).

Sementara itu, Belanja Negara terealisasi sebesar Rp1.082,8 triliun atau 28,2% dari pagu APBN. Belanja Negara mengalami pertumbuhan sebesar 34,3% (yoy). Belanja Pemerintah Pusat (BPP) sebesar Rp826 triliun, ditopang oleh peningkatan belanja Kementerian/Lembaga (K/L) maupun non-K/L. Sementara itu, Transfer Ke Daerah (TKD) terealisasi Rp256,8 triliun atau 37,1% dari target APBN.


(haa/haa) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:
Video: Gaji Ke-13 - Subsidi EV Jadi Jurus Dongkrak Ekonomi Q2-2026

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kementerian HAM Dorong Perlindungan WNI dalam Misi Kemanusiaan Gaza
• 15 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Rumah di Cengkareng Kebakaran, 2 Orang Terluka Bakar
• 22 jam laludetik.com
thumb
Borneo FC Belum Kibarkan Bendera Putih, Fabio Lefundes Minta Bantuan Persijap Gagalkan Rencana Pesta Juara Persib di GBLA
• 6 jam laluharianfajar
thumb
OPINI: Gamang Pebisnis Tambang
• 9 jam lalubisnis.com
thumb
KDM Tegaskan Jawa Barat Tak Akan Berganti Nama Jadi Tatar Sunda
• 15 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.