TABLOIDBINTANG.COM - Indonesia tengah menghadapi ironi di era digital. Di satu sisi, tingkat adopsi artificial intelligence (AI) di Tanah Air disebut menjadi yang tertinggi di dunia. Namun di sisi lain, Indonesia diproyeksikan masih kekurangan hingga tiga juta talenta digital pada 2030.
Kondisi ini memunculkan kekhawatiran banyak orang tua mengenai kesiapan pendidikan tinggi dalam menjawab kebutuhan industri teknologi yang bergerak sangat cepat.
Tidak hanya sekadar mampu coding, industri kini membutuhkan lulusan dengan kemampuan membangun sistem AI, keamanan siber, hingga pengembangan cloud berbasis kebutuhan bisnis nyata.
Menjawab tantangan tersebut, School of Computer Science BINUS University menghadirkan pendekatan pembelajaran yang langsung terhubung dengan kebutuhan industri global.
Hasilnya, institusi ini berhasil meraih posisi kedua terbaik di Indonesia dalam QS World University Rankings by Subject 2026 untuk bidang Computer Science and Information Systems.
Pencapaian ini menjadi salah satu indikator penting bagi calon mahasiswa maupun orang tua dalam memilih kampus teknologi dengan prospek karier yang jelas.
“Kami tidak hanya berfokus pada kemampuan teknis. Kami ingin membentuk talenta yang mampu memimpin transformasi digital dan menciptakan inovasi,” ujar Derwin Suhartono melalui keterangan tertulis yang diterima tabloidbintang.com.
Kurikulum Dekat dengan Industri
Menurutnya, mahasiswa tidak hanya diajarkan teori, tetapi juga dibiasakan menghadapi persoalan nyata seperti engineer profesional sejak awal kuliah.
Mulai dari menyusun solusi teknologi, memilih pendekatan teknis, hingga mempertanggungjawabkan keputusan dalam konteks bisnis.
School of Computer Science BINUS juga mengembangkan konsentrasi seperti AI-Driven Development dan cybersecurity yang dirancang bersama lebih dari 2.200 mitra industri aktif.
Kolaborasi dengan perusahaan teknologi global seperti Apple dan Microsoft turut membuka akses mahasiswa terhadap standar industri internasional.
Tak hanya itu, mahasiswa juga didorong aktif mengikuti hackathon, innovation challenge, hingga kompetisi ICPC untuk mengasah kemampuan di bawah tekanan kompetisi global.
Bagi banyak keluarga, pertanyaan terbesar dalam memilih jurusan teknologi adalah kepastian karier setelah lulus.
BINUS mencatat sebanyak 80,1 persen lulusan sarjana sudah bekerja saat kelulusan, sementara 36,2 persen lainnya berhasil berkarier di perusahaan global.
“Industri tidak punya waktu untuk mendidik ulang lulusan baru. Yang kami pastikan adalah bahwa mahasiswa kami sudah pernah menghadapi kompleksitas itu selama kuliah, sebelum hari pertama mereka bekerja,” lanjut Derwin.
Kini, alumni School of Computer Science BINUS telah berkarier sebagai software engineer, AI engineer, data scientist, cybersecurity specialist, hingga product manager di berbagai perusahaan nasional dan multinasional di Singapura, Amerika Serikat, Belanda, hingga Australia.




