Atap ruang kelas SMAN 7 Mataram, Nusa Tenggara Barat, ambruk saat jam istirahat siang pada Selasa (19/5). Empat siswa sempat terjebak di bawah reruntuhan material bangunan.
Peristiwa tersebut terjadi ketika sebagian besar guru dan siswa sedang melaksanakan salat Zuhur berjemaah di musala sekolah. Suara dentuman keras mendadak terdengar dan sempat memicu kepanikan.
Wakil Kepala Humas SMAN 7 Mataram, Muhalim, mengatakan suara keras terdengar saat salat memasuki rakaat ketiga.
“Kami awalnya mengira suara itu berasal dari proyek bangunan di sebelah timur sekolah. Setelah dicek, ternyata atap ruang kelas ambruk,” kata Muhalim kepada wartawan.
Bangunan yang roboh diketahui merupakan gedung lama yang terdiri dari dua ruang kelas dan satu ruang perpustakaan. Pihak sekolah menyebut kondisi bangunan memang sudah tua dan mengalami sejumlah kerusakan.
Sekolah Belum Pernah Direhabilitasi
Menurutnya, struktur kayu penyangga atap telah lapuk akibat usia bangunan yang hampir 20 tahun dan belum pernah direhabilitasi. Beban genteng beton yang cukup berat diduga memperparah kondisi hingga akhirnya atap roboh.
Empat siswa yang berada di dalam ruangan saat kejadian sempat tertimpa reruntuhan. Salah satu siswa mengalami luka di bagian kepala dan langsung dilarikan ke Rumah Sakit Kota Mataram untuk mendapatkan penanganan medis.
“Sebagian siswa sudah berada di musala untuk salat Zuhur, tetapi ada beberapa yang masih berada di kelas saat jam istirahat,” kata Muhalim.
Sekolah Dibangun Swadaya Masyarakat
Dijelaskan Muhalim, gedung yang roboh diketahui dibangun secara swadaya oleh masyarakat dan orang tua siswa pada tahun 2006. Setelah gempa Lombok 2018, bangunan tersebut sempat mendapat perbaikan pada bagian plafon.
Kepala SMAN 7 Mataram, Ridha Rosalina, menyebut sebelum kejadian tidak ada tanda-tanda kerusakan serius maupun cuaca ekstrem yang mengindikasikan bangunan akan roboh.
“Pagi tadi saat jam pertama saya sempat berkeliling memantau kondisi sekolah. Plafonnya terlihat normal dan tidak ada hal mencurigakan. Tiba-tiba terdengar suara keras seperti truk membongkar batu,” ujarnya.
Pascakejadian, kata Ridha, pihaknya bersama aparat terkait langsung mensterilkan area sekitar bangunan dan memasang garis polisi untuk mencegah risiko lanjutan.
Pihak sekolah berharap bantuan renovasi segera direalisasikan agar kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung aman dan nyaman bagi seluruh siswa.
“Alhamdulillah tidak ada luka serius, hanya lecet ringan. Semua langsung dievakuasi ke puskesmas di belakang sekolah. Tiga siswa sudah diperbolehkan pulang, sementara satu siswa dirujuk ke RS Kota Mataram untuk observasi karena mengalami syok dan pusing,” katanya.





