Ekonom Peringatkan Risiko Monopoli di Balik Rencana Badan Ekspor

republika.co.id
13 jam lalu
Cover Berita

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda menyoroti rencana pembentukan Badan Ekspor. Huda menduga terdapat praktik yang berpotensi menguntungkan pihak tertentu, terutama pihak yang memimpin badan tersebut.

“Praktik ini tidak berbeda jauh dengan praktik Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang memonopoli perdagangan cengkeh,” ujar Huda kepada Republika di Jakarta, Rabu (20/5/2026).

Baca Juga
  • Rumor Pembentukan Badan Ekspor Picu IHSG Anjlok, Airlangga Buka Suara
  • Pemerintah Lepas Ekspor Perdana 47 Ribu Ton Urea Indonesia ke Australia
  • Nila Indonesia Rebut Pasar Ekspor Ikan Premium Eropa-AS

Akibatnya, lanjut Huda, pengusaha tidak memiliki daya tawar ketika menjual produk ke BPPC. Huda memprediksi badan ekspor nantinya juga dapat menjadi pembeli tunggal komoditas strategis sebelum diekspor.

“Harga bisa ditentukan dan produsen tidak mempunyai daya tawar kepada badan ekspor. Ini praktik monopsoni yang akan merusak pasar dan merugikan produsen,” ucap Huda.

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Terlebih, sambung Huda, komoditas seperti Crude Palm Oil (CPO) juga melibatkan produsen dari kalangan petani yang berpotensi paling terdampak tekanan harga. Bahkan, jika komoditas tersebut berskala besar dan Indonesia menjadi pemain utama ekspor, praktik ini bisa berkembang menjadi state monopoly yang menjadi pembeli tunggal sekaligus penjual dominan di pasar global.

Huda menambahkan memang terdapat peluang meningkatkan pendapatan negara karena praktik underinvoicing dapat ditekan. Namun, ia meragukan seluruh pengusaha melakukan praktik tersebut.

“Bagaimana nasib pengusaha yang sudah taat aturan? Apakah mereka layak diberikan sanksi kebijakan serupa? Ini yang seharusnya dilihat secara komprehensif oleh pemerintah,” kata Huda.

Loading...
.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;}
sumber : Antara
@font-face { font-family: "LPMQ"; src: url("https://static.republika.co.id/files/alquran/LPMQ-IsepMisbah.ttf") format("truetype"); font-weight: normal; font-style: normal } .arabic-text { font-family: "LPMQ"; font-weight: normal !important; direction: rtl; text-align: right; font-size: 2.5em !important; line-height: 49px !important; }
Advertisement

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Cepak Bola 2026 Satukan Pencinta Sepak Bola untuk Bantu Anak Pejuang Kanker
• 7 jam lalubola.com
thumb
Ketika Piala Dunia Digelar di Tiga Negara
• 15 jam lalukumparan.com
thumb
Prabowo Sebut Kekayaan Negara Rp6.000 Triliun Bocor ke Luar Negeri: Ini Sebabkan Gaji Guru Kecil
• 7 jam lalukompas.tv
thumb
Prabowo: Beking Biasanya Seragam Hijau atau Coklat, Betul?
• 9 jam lalukompas.com
thumb
Polisi Jadikan Media Sosial Wadah Baru Pelaporan Kejahatan Jalanan
• 17 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.