JAKARTA, KOMPAS.TV - Presiden Prabowo Subianto menyebut kekayaan Indonesia bocor ke luar negeri hingga 343 miliar dolar AS atau sekitar Rp6.000 triliun selama kurun 22 tahun terakhir.
Prabowo menilai kebocoran anggaran yang besar tersebut menjadi alasan kesejahteraan masyarakat Indonesia tak kunjung meningkat.
Prabowo lantas menjelaskan Indonesia sebetulnya tidak pernah merugi dalam neraca ekspor-impor. Menurutnya, Indonesia mencatatkan keuntungan ekspor kumulatif mencapai 436 miliar dolar AS atau sekitar Rp7.700 triliun selama kurun 2004-2025.
Akan tetapi, pada periode yang sama, kekayaan negara yang mengalir ke luar negeri (outflow) mencapai sekitar Rp6.000 triliun.
"Ini yang menyebabkan gaji-gaji guru kecil, gaji-gaji aparat penegak hukum kecil, gaji-gaji ASN kecil," kata Prabowo saat berpidato dalam Rapat Paripurna DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (20/5/2026),
"Ini yang membuat anggaran selalu tidak cukup, anggaran tidak kuat, dan sebagainya. Selama 34 tahun apa yang terjadi? Yang terjadi adalah apa yang disebut under invoicing."
Baca Juga: Prabowo: Indonesia Terapkan Ekonomi Jalan Tengah, Ambil yang Terbaik dari Sosialisme dan Kapitalisme
Menurut Prabowo, praktik under invoicing membuat Indonesia merugi hingga 900 miliar dolar AS atau sekitar Rp15.400 triliun dalam 34 tahun.
"900 miliar dolar kita hilang, bayangkan kalau 900 miliar dolar kita nikmati, kita pakai, negara apa kita ini?" kata Prabowo.
Lebih lanjut, Presiden Prabowo menyebut pengusaha-pengusaha Indonesia melakukan manipulasi menjual komoditas di negara lain dengan harga lebih rendah dari harga pasar, sehingga keuntungan sebenarnya tidak tercatat di Indonesia.
Penulis : Ikhsan Abdul Hakim Editor : Tito-Dirhantoro
Sumber : Kompas TV
- prabowo subianto
- pidato ekonomi prabowo
- under invoicing
- kekayaan negara bocor
- pidato prabowo





