Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Said Abdullah, mendorong Bank Indonesia (BI) mengambil langkah tegas melalui kenaikan suku bunga acuan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada Rabu (20/5/2026) siang ini.
Said menekankan kondisi global saat ini masih penuh tekanan, terutama akibat kebijakan moneter Amerika Serikat yang diperkirakan tetap ketat dalam waktu cukup lama.
“Situasi global sedemikian rupa, bahkan kita jangan pernah berharap suku bunga Amerika akan turun dalam waktu dekat,” ujar Said kepada wartawan di Jakarta.
Menurutnya, tekanan eksternal tersebut berpotensi terus membebani rupiah sehingga diperlukan respons kebijakan moneter yang lebih agresif dari bank sentral.
Oleh karena itu, Said berharap Bank Indonesia dalam rapat dewan gubernur dapat mempertimbangkan kenaikan suku bunga acuan secara signifikan.
"Dan saya berharap BI hari ini dalam rapatnya bisa naik di 50 atau 75 basis poin untuk tahan gejolak rupiah kita," ungkap dia.
Sebelumnya pengamat komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi, mengatakan peluang kenaikan suku bunga acuan berpotensi terjadi pada Juni 2026. Menurut dia, BI dapat menaikkan BI Rate sekitar 25 basis poin (bps) hingga 50 bps.
Baca Juga: Rupiah Melemah, Naikkan Suku Bunga Bisa Jadi Bumerang
Baca Juga: BI Diproyeksi Naikkan Suku Bunga hingga 50 Bps di Juni 2026
“Ada kemungkinan besar Bank Sentral Indonesia kemungkinan dalam pertemuan di bulan Juni ini akan menaikkan suku bunga,” kata Ibrahim dalam keterangannya, Jakarta, Jumat (15/5/2026).
Ia menjelaskan, pelemahan rupiah dipicu meningkatnya kebutuhan dolar AS di dalam negeri, terutama untuk membayar impor minyak mentah. Kondisi tersebut dinilai memberikan tekanan tambahan terhadap stabilitas nilai tukar rupiah.





