JAKARTA, KOMPAS.com — Keputusan GoTo menghentikan skema langganan GoRide Hemat disambut positif oleh sejumlah mitra pengemudi Gojek.
Mereka menilai program tersebut justru membebani driver dan memicu kecemburuan di antara sesama mitra.
Salah satu driver, Hendra Susilo (35), mengaku mendukung penuh penghapusan skema tersebut karena dinilai tidak efektif bagi pengemudi di lapangan.
Baca juga: Rosan Akui Danantara Sudah Mulai Beli Saham GOTO demi Kesejahteraan Ojol
“Ya sebenarnya sih ya intinya GoRide Hemat dihapus saya dukung gitu pasti. Enggak efektif sebenarnya sih. Jemputnya juga jauh kadang-kadang. Kasihan driver. Belum kalau misalnya kita terima gitu, sampai sana kadang di-cancel juga sama customer, ya kan?” ucap Hendra saat ditemui Kompas.com di kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu (20/5/2026).
Menurut Hendra, skema tersebut tidak selalu memberi keuntungan bagi pengemudi meski mereka telah membayar biaya langganan.
Pendapat serupa disampaikan driver lainnya, Bilal (33). Ia menilai program GoRide Hemat berpotensi menciptakan perlakuan berbeda di antara para driver.
Baca juga: Kereta Bandara Anjlok, Penumpang Tekor karena Beralih ke Ojek Online
“Oke sih kalau kata saya ya. Karena kalau layanan itu masih diaktifin atau masih bisa diikuti, itu jatuhnya kalau menurut saya pilih kasih ya,” kata Bilal kepada Kompas.com di lokasi yang sama.
Bilal mengatakan, sistem prioritas order dalam program tersebut membuat hubungan antardriver menjadi kurang sehat.
“Jadi nanti kita sesama driver kayak diadu gitu lho, maksudnya kayak ‘Ah gua enggak ikut, lu ikut, lu mulu yang dapat.’ Jadi nanti kita ada timbul kecemburuan sosial. Padahal kita kan sama-sama rekan di jalan ya,” tutur dia.
Selain itu, biaya langganan yang harus dibayar driver juga dianggap menjadi tambahan beban, terutama ketika order sedang sepi.
Baca juga: Bahlil Hadiahi 4 Ibu Pengemudi Ojek Online Umrah
“Itu bayar Rp 20.000 untuk sepuluh trip. Berat lah bagi kita. Belum tentu kita gacor. Ya kan? Bisa jadi anyep kayak sekarang nih enggak dapat-dapat orderan. Tapi kalau program itu dihapus, menurut saya worth it sih,” tambahnya.
Sebelumnya, GoTo memastikan akan menghentikan skema langganan GoRide Hemat yang selama ini diterapkan kepada mitra pengemudi Gojek.
Direktur Utama GoTo Hans Patuwo mengatakan, keputusan tersebut akan berlaku dalam waktu dekat setelah perusahaan melakukan evaluasi terhadap program yang berjalan beberapa bulan terakhir.
Program langganan GoRide Hemat awalnya diuji coba secara terbatas sejak November 2025 sebelum diperluas ke seluruh Indonesia pada Februari 2026.
Dalam skema tersebut, mitra driver diwajibkan membayar biaya langganan untuk mendapatkan akses ke tarif atau struktur pendapatan tertentu, termasuk prioritas order.
Namun, setelah berjalan tiga bulan secara nasional, GoTo menilai program tersebut perlu disesuaikan demi menjaga keseimbangan dan kesejahteraan mitra pengemudi.
“Setelah berjalan tiga bulan, kami melakukan kajian mendalam dan menemukan bahwa skema langganan ini perlu keseimbangan yang lebih baik bagi kesejahteraan mitra pengemudi,” jelas Hans dalam konferensi pers di Kantor GoTo, Jakarta, Selasa (19/5/2026).
Dengan penghentian skema langganan itu, mekanisme bagi hasil GoRide Hemat akan disamakan dengan layanan GoRide reguler.
Ke depannya, mitra driver akan dikenakan potongan sebesar 8 persen per perjalanan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang




