CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Sepak bola modern telah lama mengikis batas-batas geopolitik, dan panggung sebesar Piala Dunia FIFA menjadi saksi nyata bagaimana talenta global melintasi tanah kelahiran demi merengkuh trofi emas paling bergengsi di bumi.
Sepanjang sejarahnya, tercatat ada 22 pemain kelahiran luar negeri yang berhasil keluar sebagai juara dunia bersama negara yang mereka bela.
Kisah migrasi prestasi ini sejatinya sudah bermula sejak hampir satu abad silam. Tujuh pemain imigran pertama tercatat sukses membantu Italia meraih kejayaan di tanah mereka sendiri pada Piala Dunia 1934.
Empat di antaranya merupakan pilar andalan kelahiran Argentina, yakni Attilio Demaria, Enrique Guaita, Luis Monti, dan Raimundo Orsi.
Tiga lainnya adalah Anfilogino Guarisi yang lahir di Brasil, Felice Borel asal Prancis, serta Mario Varglien yang lahir di wilayah Austria-Hongaria (kini Kroasia).
Dari deretan nama tersebut, Luis Monti menorehkan tinta emas yang sulit ditandingi hingga hari ini.
Setelah tampil membela tanah kelahirannya, Argentina, dan kalah 4-2 dari Uruguay di final edisi perdana tahun 1930, Monti hijrah ke Eropa dan berganti seragam Italia.
Monti pun sukses menjadi satu-satunya pemain dalam sejarah sepak bola yang pernah tampil di dua laga final Piala Dunia untuk dua negara yang berbeda.
Seiring berjalannya waktu, kontribusi pemain kelahiran luar negeri yang menjadi tulang punggung tim juara kian mentereng.
Publik tentu tidak akan lupa pada kokohnya lini belakang dan tengah Prancis saat menjuarai Piala Dunia 1998, yang dikomandoi oleh Marcel Desailly kelahiran Ghana dan Patrick Vieira yang lahir di Senegal.
Jerman juga menikmati berkah serupa saat merengkuh trofi keempat mereka di Brasil pada 2014 lalu.
Dua mesin gol andalan Die Mannschaft kala itu, sang top skor sepanjang masa Piala Dunia Miroslav Klose serta penyerang kidal Lukas Podolski, sama-sama lahir di Polandia sebelum akhirnya bermigrasi dan memilih membela panji Jerman.
Jauh sebelum itu, bek legendaris Italia yang terkenal dengan gaya bertahan tanpa kompromi saat menjuarai Piala Dunia 1982, Claudio Gentile, juga lahir di luar semenanjung Italia, tepatnya di Tripoli, Libia.
Kini, menjelang bergulirnya Piala Dunia 2026 yang akan dihelat di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, sejarah baru berpotensi tercipta di partai puncak yang dijadwalkan berlangsung di Stadion New York New Jersey (MetLife Stadium).
Sejumlah talenta muda berbakat kini membidik peluang untuk menambah daftar panjang para jawara dunia yang lahir di luar negeri.
Di kubu juara bertahan Argentina, nama-nama seperti Nico Paz dan Mateo Pellegrino yang lahir di Spanyol, serta Giuliano Simeone—putra dari pelatih legendaris Diego Simeone—yang lahir di Italia, berpeluang besar masuk ke dalam skuad asuhan Lionel Scaloni.
Sementara itu, Prancis juga memiliki Michael Olise yang lahir di Inggris serta penyerang tajam Marcus Thuram yang lahir di Italia, saat sang ayah, Lilian Thuram, berkarier di Serie A.
Potensi lahirnya jawara dunia dari tanah seberang tidak berhenti di sana. Sejumlah negara kandidat juara lainnya juga diperkuat oleh para pemain diaspora yang memegang peran sentral.
Brasil memiliki gelandang kreatif Andreas Pereira yang lahir di Belgia. Tim nasional Inggris diperkuat oleh bek tangguh Marc Guehi yang lahir di Pantai Gading, sedangkan Jerman memiliki bek solid Waldemar Anton yang lahir di Uzbekistan.
Di sudut lain Eropa, Portugal juga mengandalkan duo pilar utama mereka yang lahir di luar negeri, yakni penjaga gawang utama Diogo Costa yang lahir di Swiss, serta gelandang Matheus Nunes yang lahir di Brasil.
Jika salah satu dari negara-negara raksasa ini berhasil mengangkat trofi di Amerika Utara, maka daftar 22 pemain "perantau" yang merajai dunia dipastikan akan segera bertambah.
Sumber: FIFA




