BI Ramal The Fed Tahan Suku Bunga Sepanjang 2026

bisnis.com
6 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Bank Indonesia (BI) memproyeksikan bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), belum akan melonggarkan kebijakan moneternya pada tahun ini. Suku bunga acuan AS atau Fed Funds Rate (FFR) diperkirakan akan tetap di level 3,50% hingga 3,75% hingga penghujung 2026, dengan risiko kenaikan lanjutan pada tahun berikutnya.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengungkapkan, laju inflasi di Negeri Paman Sam membuat ruang bagi The Fed untuk memangkas suku bunga menjadi sangat sempit. Alih-alih melonggar, arah kebijakan moneter global justru cenderung makin ketat.

"Suku bunga kebijakan moneter Amerika Serikat Fed Fund Rate diperkirakan juga tidak akan turun hingga akhir 2026, bahkan juga terdapat kemungkinan akan naik pada 2027 dengan inflasi yang masih tinggi di Amerika Serikat," tegas Perry dalam pengumuman hasil RDG Mei 2026, Rabu (20/5/2026).

Proyeksi higher for longer dari bank sentral AS ini tak lepas dari gambaran makroekonomi global yang masih diselimuti ketidakpastian. Bank Indonesia merevisi ke bawah prospek pertumbuhan ekonomi dunia 2026 menjadi hanya 3% akibat konflik geopolitik di Timur Tengah yang mengerek harga minyak mentah dunia.

Masalahnya, perlambatan ekonomi tersebut dibarengi dengan tekanan inflasi global yang justru meningkat ke level 4,3%. Kombinasi tersebut turut memberikan rambatan tekanan yang signifikan terhadap pasar keuangan global, terutama pada instrumen surat utang.

Perry mencatat, ekspektasi suku bunga yang tinggi telah mengerek imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS. Berdasarkan data per 19 Mei 2026, yield US Treasury tenor 10 tahun telah merangsek naik ke level 4,66%, sementara tenor 2 tahun berada di posisi 4,11%.

Baca Juga

  • Rupiah Digempur, Bank Indonesia Naikkan Bunga SRBI 6,45% dan BI Rate 50 Basis Poin
  • Breaking! Bank Indonesia Naikkan BI Rate 50 Bps Jadi 5,25%
  • Jerome Powell Ditunjuk Jadi Ketua Ad Interim The Fed sebelum Kevin Warsh Dilantik

Lebih lanjut, Perry mewanti-wanti bahwa tekanan di pasar obligasi AS ini berpotensi belum mencapai puncaknya. Kenaikan yield tersebut tidak murni didorong oleh sentimen suku bunga, melainkan juga masalah struktural fiskal di AS.

"[Imbal hasil] diperkirakan akan naik lebih tinggi didorong oleh defisit fiskal yang membesar," pungkasnya.

Kondisi eksternal yang diwarnai oleh suku bunga tinggi, kuatnya dolar AS, dan gejolak pasar obligasi global ini dipastikan akan menjadi jangkar pertimbangan utama bagi Bank Indonesia dalam merumuskan bauran kebijakan moneter ke depan, termasuk suku bunga acuan BI Rate.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Skema Puncak Ibadah Haji Armuzna
• 6 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
DPRD Surabaya Turun Tangan Mediasi Polemik Batas Wilayah RW 6 dan RW 8 Bambe
• 14 jam laluberitajatim.com
thumb
Indonesia Perkuat Infrastruktur Digital Lewat Kabel Laut Batam-Jakarta
• 23 jam lalurepublika.co.id
thumb
IHSG Ambruk ke Level Terendah, Asing Kompak Lego 10 Saham Ini
• 14 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Borong Penghargaan Nasional, Bidkeu Polda Sulsel Raih Peringkat 1 IKPA Terbaik TA 2025 dari Kapuskeu Polri
• 2 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.