Mirae Asset merekomendasikan investor melakukan diversifikasi portofolio, meningkatkan porsi instrumen defensif seperti Reksa Dana Pasar Uang (RDPU).
IDXChannel - Tekanan pasar keuangan global dan domestik semakin meningkat sepanjang kuartal II-2026. Eskalasi konflik Timur Tengah, lonjakan harga minyak dunia, pelemahan rupiah hingga derasnya arus keluar dana asing dinilai membuat investor perlu lebih selektif dalam menentukan strategi investasi.
"Dinamika ekonomi global masih dibayangi memanasnya konflik Amerika Serikat dan Iran yang mendorong harga minyak Brent melampaui USD100 per barel. Gangguan distribusi minyak akibat menurunnya lalu lintas kapal di Selat Hormuz turut meningkatkan tekanan inflasi global dan ketidakpastian pasar keuangan," ungkap Senior Investment Information PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Muhammad Adityo Nugroho, Rabu (20/5/2026).
Di Amerika Serikat, inflasi April 2026 tercatat sebesar 3,8 persen, dengan rata-rata harga BBM nasional mencapai USD4,515 per galon. Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Tekanan terhadap pasar domestik juga terlihat dari pelemahan nilai tukar rupiah yang menyentuh kisaran Rp17.700 per dolar AS. Namun, kepemilikan asing pada Surat Berharga Negara (SBN) masih relatif stabil di level 12,72 persen per 13 Mei 2026.
"Di pasar saham, tekanan tercermin dari aksi jual bersih investor asing yang terus berlangsung sejak awal tahun. Nilainya mencapai Rp13,3 triliun pada Januari, Rp5,7 triliun Februari, Rp10,5 triliun Maret, Rp16,8 triliun April, dan Rp4,9 triliun hingga pertengahan Mei 2026," jelasnya.
Mirae Asset merekomendasikan investor melakukan diversifikasi portofolio, meningkatkan porsi instrumen defensif seperti Reksa Dana Pasar Uang (RDPU), serta menerapkan strategi wait and see di tengah tingginya volatilitas pasar.
(Shifa Nurhaliza Putri)





