Geliat Repair Culture, Saat Tren Jam Tangan Vintage Selamatkan Servis Jam Pinggir Jalan

kompas.com
2 jam lalu
Cover Berita

DEPOK, KOMPAS.com - Di tengah perkembangan teknologi digital dan maraknya penggunaan smartwatch maupun telepon genggam sebagai penunjuk waktu, keberadaan tukang servis jam tangan pinggir jalan masih tetap bertahan di sejumlah sudut kota.

Lapak-lapak kecil servis jam masih mudah ditemukan di sejumlah tepi jalan.

Di tempat sederhana itulah para tukang servis jam memperbaiki arloji lama milik pelanggan.

Jam tangan lama yang sudah kusam, jarumnya berhenti bergerak, atau kacanya mulai tergores tetap dipertahankan pemiliknya.

Baca juga: Warga Antre Beli Parfum dan Jam Tangan, Bukan Tanda Ekonomi Baik?

Sebagian memilih memperbaiki dibanding membeli baru karena jam tersebut menyimpan cerita sebagai hadiah, hingga penanda perjalanan hidup.

Sosiolog Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rakhmat Hidayat menilai profesi tukang servis jam tetap bertahan karena masih ada masyarakat yang membutuhkan keterampilan yang tidak bisa sepenuhnya digantikan teknologi.

Menurut Rakhmat, nilai sentimental menjadi salah satu alasan terbesar seseorang tetap mempertahankan jam tangan lama meski sudah rusak atau usang.

Ia menilai barang tertentu tidak hanya dipandang dari fungsi, tetapi juga memiliki makna emosional yang kuat bagi pemiliknya.

Baca juga: Menjaga Jarum Tetap Bergerak, Kisah 2 Tukang Servis Jam Bertahan di Tengah Zaman Digital

“Nah jam tangan bisa menjadi kenang-kenangan dari orang tua, hadiah dari orang penting atau simbol momen tertentu dalam hidup seseorang,” kata Rakhmat saat dihubungi, Selasa (19/5/2026).

Karena itu, banyak orang memilih memperbaiki jam lama agar kenangan yang melekat pada barang tersebut tetap terjaga.

Selain itu, Rakhmat bilang, perbaikan jam tangan, terutama jam mekanis dan model lama, membutuhkan ketelitian yang hanya bisa dilakukan orang dengan keahlian khusus.

“Jadi ini juga kan kalau kita lihat banyak jam tangan terutama yang mekanis atau model lama membutuhkan perbaikan yang teliti dan dikerjakan secara manual oleh orang-orang yang ahli,” ujar dia.

Baca juga: Pura-pura Servis Jam, Pasutri di Semarang Sikat HP Samsung S23 Ultra

Ia menjelaskan, selama masih ada barang yang perlu diperbaiki dan ada orang yang memiliki keterampilan tersebut, profesi tukang servis jam akan terus hidup di tengah masyarakat.

Tren Barang Klasik Dinilai Membuat Profesi Ini Tetap Hidup

Rakhmat menilai profesi tukang servis jam masih memiliki masa depan meski jumlahnya tidak sebanyak dulu.

Menurut dia, saat ini mulai muncul tren penggunaan barang klasik, barang koleksi, hingga budaya memperbaiki barang atau repair culture.

“Dalam masyarakat modern muncul tren seperti minat pada barang klasik, barang berkualitas dan budaya memperbaiki barang atau repair culture,” katanya.

“Nah selama masih ada orang yang menggunakan jam tangan mekanis jam mahal atau jam koleksi jasa servis tetap dibutuhkan,” sambung dia.

Baca juga: Sejarah yang Melingkar di Pergelangan Tangan: Alasan Jam Tangan Vintage Tak Pernah Kehilangan Detak

Minat Generasi Muda Mulai Berkurang

Meski begitu, Rakhmat mengakui minat generasi muda terhadap profesi berbasis keterampilan manual kini tidak sebesar dulu karena banyak yang lebih tertarik pada pekerjaan berbasis teknologi maupun digital.

Namun, ia menilai profesi seperti tukang servis jam tetap memiliki peluang dilanjutkan generasi muda apabila keterampilan tersebut diajarkan dengan baik dan memiliki prospek usaha yang jelas.

“Jadi jika keterampilan ini diajarkan dengan baik dan didukung dengan peluang usaha profesi seperti ini menurut saya tetap bisa menarik bagi generasi muda ini kan tapi kan ini tergantung dari konteksnya,” kata dia.

Rakhmat juga menilai keberadaan tukang servis jam tangan menjadi gambaran bagaimana usaha kecil mampu bertahan di tengah perubahan zaman.

Menurut dia, usaha kecil biasanya lebih fleksibel dan mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan masyarakat sekitar.

Baca juga: Heboh Antrian Pembeli Jam Tangan AP x Swatch, Apa Istimewanya?

“Jadi usaha kecil biasanya lebih fleksibel dan mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan masyarakat. Nah mereka biasanya bertahan karena memiliki pelanggan tetap dan hubungan sosial yang kuat dengan lingkungan sekitar,” ujar dia.

Servis Jam Pinggir Jalan Masih Bertahan

Keberadaan tukang servis jam tangan pinggir jalan hingga kini masih bertahan di tengah perkembangan zaman.

Lapak-lapak kecil di pinggir jalan masih didatangi pelanggan dari berbagai kalangan usia.

Salah satunya terlihat di lapak sederhana milik Safrizal (74) di Jalan Pitara Raya, Pancoran Mas, Depok.

Safrizal mengaku telah menjalani profesi sebagai tukang servis jam selama kurang lebih empat dekade.

Baca juga: Maia Pakai Jam Tangan Ratusan Juta saat Hadir di Pesta El-Syifa di Bali, Apa Istimewanya?

Sebelum membuka lapak servis, ia sempat bekerja sebagai kondektur bus.

Namun pekerjaan itu ditinggalkannya karena merasa terlalu lelah harus pulang larut malam setiap hari.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Tanpa memiliki dasar keahlian khusus, Safrizal belajar memperbaiki jam secara otodidak dengan cara membongkar sendiri bagian-bagian mesin jam lalu menghafal kembali posisi setiap komponennya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kali Meluap usai Hujan Deras, Klender Kembali Tergenang
• 5 jam laludetik.com
thumb
Temui Baleg DPR, Massa Guru Swasta Dijanjikan UU Atur Standar Minimal Gaji
• 47 menit laludetik.com
thumb
Prabowo Sebut Rp15.400 Triliun Menguap Lewat Praktik Ekspor Culas: Ini yang Menyebabkan Gaji ASN Kecil
• 5 jam lalutvonenews.com
thumb
Polemik Pembangunan Lapangan Padel di Bekasi Disebut karena Miskomunikasi
• 9 jam lalukompas.com
thumb
Perindo Perkuat Struktur di Deli Serdang, Targetkan Konsolidasi hingga Akar Rumput
• 1 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.