SURAKARTA, KOMPAS - Peran Gen Z atau anak muda kian besar dalam upaya menyelamatkan lingkungan hidup di era digital seperti sekarang. Perubahan paradigma Gen Z dalam melihat persoalan lingkungan dan kemudian bertindak mengatasinya mulai dari diri sendiri dan hal-hal kecil menjadi kunci.
Hal itu merupakan salah satu pesan yang digaungkan dalam acara bertajuk Literasi Digital Kampus Sadar Lingkungan (Darling) di Universitas Sebelas Maret (UNS), Kota Surakarta, Jawa Tengah, Rabu (20/5/2026). Acara yang diikuti sekitar 1.000 mahasiswa itu diselenggarakan Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF), UNS, dan Harian Kompas/Kompas.id.
Acara dihadiri Director Communications Djarum Foundation Mutiara Diah Asmara, Wakil Rektor UNS Prof Irwan Trinugroho, dan Pemimpin Redaksi Harian Kompas/Kompas.id Haryo Damardono.
Hadir pula sebagai pembicara Program Officer BLDF Dandy Mahendra, kreator konten lingkungan Jerhemy Owen, dan Kepala Subdirektorat Green Campus and Sustainable Development Goals UNS Prof Murtanti Jani Rahayu.
Murtanti memaparkan, Gen Z memiliki peran penting dalam upaya penyelamatan lingkungan, salah satunya terkait persoalan sampah. Saat ini, banyak kota di Indonesia yang masih menghadapi persoalan besar berupa gunungan sampah di tempat pembuangan akhir (TPA).
Dia menyebut, Kementerian Lingkungan Hidup pun telah memberi sanksi kepada 270 TPA karena masih menggunakan metode open dumping atau pembuangan di lahan terbuka tanpa pengolahan. "Hal ini memunculkan potensi warisan masalah bagi generasi anak-cucu kita nanti," ujarnya.
Murtanti mengatakan, salah satu langkah yang dapat ditempuh Gen Z untuk menghadirkan solusi masalah itu adalah mengurangi sampah dari sumbernya. Hal ini, misalnya, dengan mengurangi konsumsi barang-barang yang menggunakan plastik sekali pakai, seperti untuk minuman kopi dan teh.
Sampah plastik, ujar Murtanti, masih menjadi problem besar bagi lingkungan karena butuh waktu sangat lama untuk terurai di alam. "Sedotan plastik butuh waktu 200 tahun untuk terurai, sementara botol air mineral butuh waktu 400 tahun. Bayangkan beban anak-cucu kita nanti," tuturnya.
Murtanti mengatakan, Gen Z bisa berperan dalam memutus masalah itu dengan membawa tumbler atau botol minum sendiri. Selain itu, anak muda juga dapat berperan dengan memperpanjang usia pakai barang-barang, seperti pakaian, agar tak memenuhi TPA.
Menurut Murtanti, upaya mengurangi sampah dari sumbernya merupakan cara paling efektif dalam pengelolaan sampah secara berkelanjutan. Hal ini juga sedang ditempuh sejumlah kota, termasuk oleh Pemerintah Kota Surakarta.
Saat ini kita menghadapi tantangan perubahan iklim yang kian nyata.
Di sisi lain, Murtanti menyebut, kedekatan Gen Z dengan teknologi digital dan media sosial juga bisa dimanfaatkan untuk aktif menyuarakan isu-isu penyelamatan lingkungan. "Misalnya, membuat konten ajakan sadar lingkungan," ucapnya.
Sementara itu, Director Communications Djarum Foundation Mutiara Diah Asmara mengungkapkan, saat ini, tantangan perubahan iklim menjadi kian nyata. Karena itu, diperlukan semangat kebersamaan dan gotong royong untuk mengatasinya.
BLDF pun meyakini bahwa upaya melestarikan bumi ini berada di tangan generasi muda. Karena itu, BLDF sejak 2018 telah menginisiasi gerakan Siap Sadar Lingkungan (Darling) yang berbasis media sosial.
Mutiara mengatakan, sejauh ini sudah terbentuk 4.000 Darling Squad yang tersebar di 190 universitas di seluruh Indonesia. Komunitas anak muda dan mahasiswa itu melakukan berbagai kegiatan penyelamatan dan pelestarian lingkungan hidup, seperti penanaman mangrove, penanaman pohon, dan pengolahan sampah organik.
Gerakan pengolahan sampah organik yang dilakukan di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, misalnya, berhasil mengurangi 25 persen volume sampah sehingga tak berakhir di TPA. "Ini akan terus dilakukan ke depan," tutur Mutiara.
Namun, Mutiara menambahkan, upaya pelestarian lingkungan di kalangan generasi muda juga harus diiringi dengan literasi digital yang kuat. Literasi digital yang dimaksud bukan sekadar kemampuan menggunakan media sosial, melainkan juga suatu kesadaran untuk berpikir kritis, memilah informasi, dan menggunakan teknologi secara bijak untuk menciptakan ruang digital yang sehat dan bermanfaat.
Untuk itu, BLDF bekerja sama dengan Harian Kompas memberi akses langganan Kompas.id gratis selama setahun penuh kepada 1.000 mahasiswa dan sivitas akademika UNS. "Ini merupakan kolaborasi strategis yang saling melengkapi untuk bersama-sama kita membangun kualitas sumber daya manusia dan alam Indonesia," tutur Mutiara.
Pemimpin Redaksi Harian Kompas/Kompas.id Haryo Damardono mengatakan, arus informasi yang begitu deras saat ini memunculkan tantangan bagi generasi muda dalam memilah dan memilih informasi yang baik dan berguna bagi diri sendiri. Hal ini menjadi kian kompleks di tengah era akal imitasi (artificial intelligence) seperti saat ini.
Sementara itu, Jerhemy Owen mengungkapkan, salah satu peran penting yang bisa diambil anak muda, khususnya mahasiswa, adalah berkampanye tentang lingkungan hidup di dunia digital. Hal ini bukan hanya akan memunculkan kesadaran tentang isu lingkungan di kalangan masyarakat umum, tetapi juga dapat mengubah kebijakan.
Program Officer BLDF Dandy Mahendra menyebut, hanya dengan share atau membagikan konten terkait isu penyelamatan lingkungan saja merupakan kontribusi besar yang dapat dilakukan Gen Z. ”Kesadaran itu pun akan bergulung, misal, kebiasaan memakai tumbler, memilah sampah, atau membuat biopori,” ujarnya.





