JAKARTA, DISWAY.ID-- Presiden Prabowo Subianto menyoroti kondisi ekonomi nasional yang dinilainya belum mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara merata meski pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun terakhir tergolong stabil.
Dalam pidatonya, Prabowo menyebut ekonomi Indonesia tumbuh rata-rata 5 persen per tahun selama tujuh tahun terakhir.
BACA JUGA:Yura Yunita dan Raisa Jadi Srikandi di Pagelaran Sabang Merauke 2026, Angkat Tema Perjuangan Wanita
Namun, menurut dia, pertumbuhan tersebut justru tidak sejalan dengan kondisi kelas menengah dan angka kemiskinan.
“Pertumbuhan kita dalam tujuh tahun terakhir memang baik, 5 persen tiap tahun. Selama tujuh tahun kali 5 persen, pertumbuhan kita 35 persen. Harusnya kita tambah kaya 35 persen,” kata Prabowo di DPR RI, Rabu, 20 Mei 2026.
Ia mengaku terkejut setelah menerima berbagai data ekonomi beberapa minggu setelah menjabat sebagai presiden. Menurutnya, angka kemiskinan justru meningkat sementara kelompok kelas menengah mengalami penurunan.
BACA JUGA:Mengenal Indonesia Walk For Peace 2026, Perjalanan Spiritual Sambut Waisak
“Tapi apa yang terjadi? Angka rakyat kita yang miskin tambah. Dari 46,1 persen naik jadi 49 persen. Yang kelas menengah turun,” ujarnya.
Prabowo mempertanyakan mengapa pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak diikuti peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Ia meminta semua pihak, mulai dari partai politik, organisasi masyarakat, hingga akademisi dan pakar ekonomi, untuk menjawab persoalan tersebut secara ilmiah dan objektif.
BACA JUGA:Event Jakarta Fair 2026 di JIExpo Kemayoran 11 Juni-12 Juli, Siap-Siap Eksplor Kuliner hingga Konser
“Saya bertanya kepada semua partai politik, semua ormas, semua pakar dan guru besar, bagaimana bisa pertumbuhan 35 persen tapi kelas menengah menurun, kemiskinan meningkat?” jelasnya.
Menurut Prabowo, persoalan tersebut kemungkinan disebabkan oleh arah sistem ekonomi nasional yang dinilainya belum tepat.
Ia menilai jika sistem yang ada terus dipertahankan, Indonesia berpotensi menjadi bangsa yang lemah dan penuh ketakutan dalam menghadapi tekanan ekonomi global.
“Kalau kita teruskan sistem seperti ini, tidak mungkin kita jadi bangsa yang makmur. Kita akan menjadi bangsa yang lemah, bangsa yang selalu takut. Takut kurs dolar, takut BBM enggak cukup, takut ini takut itu. Bangsa yang takut, bangsa yang elitnya takut,” ujar Prabowo.
- 1
- 2
- »





