Ojol Sumringah Program Langganan Hemat Dihapus, Pendapatan Berpotensi Naik 35%

katadata.co.id
2 jam lalu
Cover Berita

Rencana penghapusan program langganan layanan untuk pengemudi ojek online atau ojol disambut antusias oleh para driver. Mereka menilai skema tersebut selama ini membebani pengemudi karena mereka harus membayar biaya tambahan demi mendapatkan pesanan lebih banyak, tetapi tetap menerima tarif murah.

Ketua Umum Asosiasi Pengemudi Ojol Garda Indonesia, Raden Igun Wicaksono, mengatakan pihaknya sejak awal mendorong agar program-program berbayar seperti layanan hemat dan prioritas order dievaluasi hingga dihapus.

“Garda menyambut langkah tersebut secara positif dan antusias. Selama ini berbagai skema layanan hemat, prioritas, maupun program berlangganan bagi driver justru menambah beban operasional pengemudi di lapangan,” kata Igun kepada Katadata.co.id, Rabu (20/5).

Menurutnya, jika seluruh program langganan dan layanan hemat benar-benar dihapus bersamaan dengan implementasi potongan aplikator maksimal 8% persen, pendapatan bersih pengemudi berpotensi naik signifikan.

“Dengan kombinasi kedua kebijakan tersebut, Garda memperkirakan potensi kenaikan pendapatan bersih driver dapat berada pada kisaran 20% hingga 35% karena berkurangnya berbagai biaya tambahan yang selama ini harus ditanggung pengemudi,” ujarnya.

Igun menjelaskan, selama ini rata-rata pengemudi harus mengeluarkan biaya Rp 10 ribu hingga Rp 20 ribu per hari untuk mengikuti program langganan. Ini dilakukan agar tetap kompetitif mendapatkan pesanan.

“Jika dihitung mingguan hingga bulanan, nominal tersebut tentu menjadi beban ekonomi yang cukup signifikan bagi sebagian besar pengemudi,” katanya.

Lebih lanjut, Igun menilai memang akan ada konsekuensi penyesuaian biaya layanan kepada masyarakat atau pengguna. Sangat mungkin terjadi koreksi tarif atau kenaikan biaya yang harus dibayar konsumen setelah berbagai subsidi skema hemat dikurangi atau dihapus.

Namun demikian, Garda tetap optimistis tingkat kebutuhan masyarakat terhadap layanan transportasi online akan tetap tinggi. Hal ini karena layanan ojol saat ini sudah menjadi bagian dari kebutuhan harian masyarakat perkotaan maupun daerah penyangga.

“Banyak konsumen yang memang bergantung pada layanan ojol karena tidak memiliki kendaraan pribadi atau memilih membatasi penggunaan kendaraan pribadi demi efisiensi mobilitas harian,” ujar Igun.

Keluhan serupa juga disampaikan Yoga, pengemudi Gojek. Ia mengaku program GoRide Hemat yang kerap disebut pengemudi sebagai Gocek Gacor justru membuat pengemudi mendapatkan order jarak jauh dengan tarif murah.

“Kadang penumpang lokasinya jauh dari posisi saya. Belum macetnya, bensin juga kepakai banyak, tapi tarifnya paling dapat hemat. Kadang cuma Rp 12.500 atau Rp15 ribu tapi jauh dan macet,” kata Yoga.

Ia mengaku hanya sesekali mengikuti program langganan karena merasa biaya yang dikeluarkan tidak sebanding dengan keuntungan yang diterima.

“Sehari bisa Rp 15 ribu sampai Rp 20 ribu buat langganan. Habis itu nggak lagi. Jauh-jauh jemput penumpang, tapi dapatnya murah,” ujarnya.

Yoga menilai penghapusan program tersebut akan membuat persaingan antar pengemudi lebih adil. Hal ini karena tidak ada lagi sistem prioritas bagi driver yang membayar langganan.

“Kalau sudah nggak ada kan jadi adil. Nggak ada prioritas lagi. Soalnya kalau nggak langganan juga jadi sepi order,” tuturnya.

Hal senada diungkapkan Ari, pengemudi Grab. Ia berharap setelah program hemat dihapus tidak muncul lagi skema lain yang membebani mitra pengemudi.

“Sudah bayar langganan, tapi dapatnya tarif hemat juga. Jauh dapatnya, saya pusing kalau macet,” kata Ari.

Ia pun optimistis pendapatan driver akan meningkat jika biaya langganan dihapus dan potongan aplikator turun menjadi 8%.

“Jadi nggak perlu langganan lagi, kan lumayan itu. Kalau komisi juga jadi 8%, makin lumayan kita dapatnya,” ujarnya.

Sementara itu, pengemudi lain bernama Ingga berharap kebijakan tersebut menjadi awal perubahan yang lebih adil bagi seluruh ekosistem ojol. Ini termasuk layanan pesan-antar makanan.

Apalagi Ingga juga terkadang mengambil pekerjaan sebagai antar makanan di ShopeeFood. “Semoga ini jadi awal buat perubahan yang lebih adil buat semua ojol. Saya juga berharap potongan 8% bisa diterapkan di layanan lain seperti ShopeeFood,” kata Ingga.

Ingga bercermin pada kebijakan Bonus Hari Raya (BHR) tahun ini. ShopeeFood juga mengikuti kebijakan tersebut. Ia merasa seharusnya Shopee bisa mengikuti kebijakan yang sama, yaitu potongan komisi 8%.  

Pelaksanaan Perpres Nomor 27 Tahun 2026

Setelah Presiden Prabowo Subianto mengumumkan agar aplikator mengenakan potongan komisi maksimal 8% untuk mitra pengemudi, sejumlah aplikator memberikan responsnya. Pengumuman itu disampaikan Prabowo pada peringatan May Day pada 1 Mei 2026. 

PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), yang memiliki layanan ride hailing Gojek, menyatakan siap mematuhi aturan pemerintah yang membatasi aplikator untuk mengambil komisi dari mitra pengemudi menjadi 8%.

“Gojek akan menjalankan arahan Bapak Presiden terkait Perpres Nomor 27 Tahun 2026. Kami berkomitmen untuk menyesuaikan skema bagi hasil,” kata Direktur Utama atau CEO GOTO Hans Patuwo, dalam konferensi pers di Kantor Gojek GoTo,  Jakarta, Selasa (19/5).

Menurut Hans, kebijakan itu merupakan perubahan yang cukup besar untuk perusahaan. Dia mengatakan, pendapatan Gojek dari layanan GoRide yang selama ini banyak dikenal dengan nama Gojek akan mengalami penurunan.

Hans juga mengungkapkan Gojek akan menghapus program langganan GoRide Hemat bagi mitra pengemudi. Ia mengatakan keputusan ini diambil setelah melakukan evaluasi program tersebut.

“Gojek akan menghentikan skema langganan (GoRide Hemat) untuk mitra driver,” kata Hans dalam konferensi pers di Kantor GoTo, Selasa (19/5).

Hans menjelaskan, program tersebut diuji coba pada November 2025 dan diperluas sejak Februari 2026. Setelah berjalan tiga bulan dan kajian menyeluruh, perusahaan menemukan bahwa skema langganan ini perlu keseimbangan yang lebih baik bagi kesejahteraan mitra pengemudi.

“Oleh karena itu, kami memutuskan untuk menghentikan program langganan tersebut, efektif dalam waktu dekat,” ujarnya.

Langkah yang sama juga diambil Grab Indonesia. Grab Indonesia menyatakan akan menutup program langganan Akses Hemat bagi mitra pengemudi transportasi roda dua atau GrabBike. CEO Grab Indonesia Neneng Goenadi menyatakan keputusan ini diambil karena perusahaan menilai perlu adanya penyesuaian.

“Penutupan program langganan ini dilakukan karena Grab Indonesia menilai diperlukan penyesuaian yang lebih baik lagi,” kata Neneng dalam pernyataan tertulis yang diterima pada Rabu (20/5).

Neneng menjelaskan, penutupan program langganan ini juga dilakukan untuk menciptakan ekosistem yang berkelanjutan bagi seluruh pihak.

Meski program langganan Akses Hemat bagi pengemudi akan dihapus, Neneng menyatakan layanan itu tetap tersedia bagi konsumen. Namun Grab akan menyesuaikan tarif GrabBike Hemat.

“Grab Indonesia menegaskan bahwa layanan GrabBike Hemat untuk konsumen akan tetap tersedia dengan penyesuaian biaya yang dilakukan secara terukur, dengan tetap mengutamakan keterjangkauan bagi masyarakat,” ujarnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Dugaan Korupsi Chromebook, Pakar Nilai Jejak Mens Rea Terlihat dari Regulasi
• 6 jam laluokezone.com
thumb
Indonesia Pantau Warga yang Terlibat Misi Kemanusiaan di Gaza
• 18 jam lalurepublika.co.id
thumb
Unismuh Makassar Sosialisasikan Pengusulan Jabatan Fungsional Dosen
• 12 jam laluharianfajar
thumb
1.067 Lulusan SMK dan Kursus Asal Jawa Timur Dilepas Magang ke Luar Negeri
• 6 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Ajukan Praperadilan, Tim Kuasa Hukum Andrie Yunus Pertanyakan Mandeknya Kasus di Kepolisian
• 8 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.