Jakarta, CNBC Indonesia - Situasi keamanan di kawasan Timur Tengah kembali memanas setelah Uni Emirat Arab (UEA) mengumumkan bahwa negaranya telah menjadi sasaran gelombang serangan pesawat tanpa awak (drone) masif yang diluncurkan dari wilayah Irak dalam 48 jam terakhir.
Angkatan bersenjata negara Teluk tersebut melaporkan salah satu drone bahkan berhasil menembus sistem pertahanan udara dan memicu kebakaran hebat di dekat fasilitas pembangkit listrik tenaga nuklir komersial pertama di dunia Arab.
Mengutip laporan dari Reuters pada Rabu (20/05/2026), Kementerian Pertahanan UEA menyatakan bahwa total ada enam unit drone yang diarahkan ke wilayah mereka, di mana tiga di antaranya secara spesifik membidik Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Barakah. Meskipun militer UEA mengklaim berhasil mengintersepsi lima drone lainnya, satu drone terbukti lolos dari penangkalan dan menghantam sebuah generator listrik yang terletak di luar batas perimeter dalam pembangkit tersebut.
- Update Perang AS-Iran: Trump Makin Tertekan-PBB Tanggapi Nuklir Arab
- Rusia-China Bersatu, Ini 3 Poin Pertemuan Baru Putin-Xi Jinping
- Harapan Baru Perang AS-Iran, 2 Kapal Raksasa China Tembus Selat Hormuz
Pascaserangan udara yang menggegerkan tersebut, Otoritas Federal untuk Regulasi Nuklir UEA langsung bergerak cepat melakukan pemeriksaan radiasi secara menyeluruh di sekitar lokasi ledakan. Pihak berwenang memastikan struktur utama reaktor nuklir tidak mengalami kerusakan fatal akibat hantaman proyektil tersebut.
"Pembangkit listrik tetap aman dan tidak ada bahan radioaktif yang terlepas akibat serangan tersebut," demikian bunyi pernyataan resmi Otoritas Federal untuk Regulasi Nuklir UEA.
Meskipun demikian, insiden ini memicu kekhawatiran global yang sangat mendalam terkait potensi bencana kemanusiaan skala besar, mengingat Irak merupakan markas bagi kelompok-kelompok milisi kuat yang didukung penuh oleh Iran. Menanggapi situasi genting ini, Duta Besar UEA untuk PBB Mohamed Abushahab langsung melayangkan protes keras dalam sidang darurat Dewan Keamanan PBB di New York.
"Ini bukan insiden yang terisolasi. Ini terjadi dalam konteks regional yang lebih luas, di mana serangan lintas batas yang terus-menerus oleh satu negara dan proksinya telah mendorong kawasan ini menuju eskalasi yang meningkat dan konfrontasi yang berbahaya," tegas Abushahab di hadapan Dewan Keamanan PBB.
Mendengar laporan tersebut, negara-negara sekutu utama Iran seperti Rusia dan China secara mengejutkan berbalik arah dengan melayangkan kritik keras terhadap aktor di balik pemboman fasilitas nuklir tersebut. Kepala Badan Energi Atom Internasional (IAEA) Rafael Grossi yang turut hadir dalam pertemuan tersebut juga memperingatkan dampak mengerikan jika reaktor utama sampai mengalami hantaman langsung di masa depan.
"Dalam kasus serangan terhadap Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Barakah, hantaman langsung dapat menghasilkan pelepasan radioaktivitas yang sangat tinggi ke lingkungan," ujar Grossi memperingatkan.
Grossi menambahkan bahwa skenario hantaman yang melumpuhkan jalur pasokan daya listrik ke pembangkit tersebut dapat meningkatkan kemungkinan melelehnya inti reaktor, yang pada akhirnya memicu bencana radiasi nuklir masif di seluruh kawasan Teluk.
Di sisi lain, eskalasi penggunaan drone dari wilayah udara Irak ini dilaporkan terus meluas hingga mulai mengancam kedaulatan negara tetangga lainnya seperti Arab Saudi dan Kuwait, meskipun perjanjian gencatan senjata formal dalam perang Iran telah berlaku sejak April lalu.
Pemerintah Arab Saudi bahkan mengonfirmasi telah mengintersepsi tiga drone serupa dari Irak pada hari Minggu, sementara pihak militer Irak sendiri berkilah bahwa sistem pertahanan udara mereka sama sekali tidak mendeteksi adanya aktivitas peluncuran drone dari dalam wilayah hukum mereka.
(tps/luc) Add as a preferred
source on Google



