REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Intonasi suara sering kali memiliki makna tersendiri dibandingkan ucapan. Etika umumnya adalah bahwa seseorang akan menggunakan intonasi yang biasa atau bahkan pelan ketika sedang berbicara dengan orang yang lebih dimuliakan, semisal pemimpin atau ulama. Orang-orang cenderung "bebas" memakai intonasi suara saat bercengkerama dengan kawan-kawannya atau orang lain yang sebayanya, baik dari segi status sosial maupun usia.
Persoalan intonasi suara juga dijelaskan dalam Alquran, yakni surah al-Hujuraat ayat 2. Asbabun nuzul ayat itu sehubungan dengan adanya orang yang menggunakan intonasi suara keras bahkan saat berbicara dengan Rasulullah SAW.
- VinFast Luncurkan VF MPV 7 Rakitan Indonesia, Ramaikan Pasar MPV Listrik untuk Keluarga
- WNI Ditangkap Israel Ini Langkah Menteri HAM
- Pramono Naik Haji, Jakarta Sementara Dipimpin Rano Karno
Arti ayat itu: "Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap yang lain, nanti (pahala) segala amalmu bisa terhapus sedangkan kamu tidak menyadari."
Seperti diriwayatkan Ibnu Jarir dari Qatadah, diceritakan sebagai berikut. Di antara para sahabat Nabi SAW, ada yang mengeraskan suara saat berbicara dengan Rasulullah SAW. Allah SWT lalu menurunkan ayat ini (QS al-Hujuraat ayat 2).
.rec-desc {padding: 7px !important;}Suatu hari, Tsabit bin Qais tampak duduk di tengah jalan. Ia tampak lemah, bahkan terisak-isak dan menangis.
Tidak lama berselang, Ashim bin Uday bin Ajlan lewat di hadapannya. Ashim lalu bertanya, “Mengapa engkau menangis?"
Tsabit menjawab, "Karena ayat ini (al-Hujuraat ayat 2 -Red). Saya sangat takut jika ayat ini turun berkenaan dengan saya. Sebab, saya adalah orang yang bersuara keras saat berbicara."
Ashim lantas melaporkan kejadian itu kepada Rasulullah SAW. Tak lama kemudian, beliau memanggil Tsabit.
"Wahai Tsabit, apakah engkau sudi hidup dalam kemuliaan dan nantinya meninggal dalam keadaan syahid?"
Segera saja Tsabit menjawab, “Ya, Rasulullah, saya senang dengan kabar gembira yang saya terima dari Allah dan Rasul-Nya ini. Saya berjanji tidak akan pernah lagi berbicara lebih keras dari suara engkau."
Maka turunlah wahyu dari Allah, yakni surah al-Hujuraat ayat 3.
اِنَّ الَّذِيۡنَ يَغُضُّوۡنَ اَصۡوَاتَهُمۡ عِنۡدَ رَسُوۡلِ اللّٰهِ اُولٰٓٮِٕكَ الَّذِيۡنَ امۡتَحَنَ اللّٰهُ قُلُوۡبَهُمۡ لِلتَّقۡوٰىؕ لَهُمۡ مَّغۡفِرَةٌ وَّاَجۡرٌ عَظِيۡمٌ
Artinya, "Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah, mereka itulah orang-orang yang telah diuji hatinya oleh Allah untuk bertakwa. Mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar."
A post shared by Republika Online (@republikaonline)




