Anggota DPR usulkan pengalokasian dana untuk bioskop desa

antaranews.com
13 jam lalu
Cover Berita
Jakarta (ANTARA) - Anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi Gerindra Rahmawati mengusulkan pengalokasian dana dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2027 untuk menghadirkan 1.000 layar bioskop di desa guna mendorong perkembangan usaha rumah produksi di daerah.

"Mungkin lintas mitra mungkin siapkan insentif fiskal untuk PH-PH kecil dan daerah dan alokasikan anggaran 1.000 layar bioskop desa atau dari APBN 2027. Ini saran biar PH kecil itu bisa hidup," katanya dalam Rapat Dengar Pendapat Panja Kreativitas dan Distribusi Film Nasional bersama Komisi VII DPR RI di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu.

Dia mengemukakan perlunya pemerintah mendukung pengembangan rumah produksi kecil di daerah, yang masih kesulitan mengembangkan usaha karena keterbatasan akses untuk menayangkan film buatan mereka di jaringan bioskop.

Keterbatasan akses rumah produksi untuk menayangkan film di jaringan bioskop juga dinilai dapat menghambat produksi film-film yang menampilkan potensi dan budaya daerah.

Baca juga: Rumah produksi di daerah harapkan aturan penayangan film di bioskop

Anggota Komisi VII DPR dari Fraksi Nasdem Rico Sia menyarankan pengelola rumah produksi membahas masalah produksi dan penayangan film dengan pemangku kepentingan terkait, termasuk pengelola bioskop.

"Coba deh duduk diskusi dengan para exhibitor sebelum kita bikin film, menyampaikan gagasan kita, memberitahukan apa yang kita mau buat, minta masukan dari dia," katanya.

"Dengan demikian kita sudah memenangkan satu poin bahwa dia memasukkan apa yang dia inginkan di dalam yang kita mau bikin," ia menambahkan.

Menanggapi saran itu, perwakilan dari PH Black & White Pictures menyampaikan bahwa pengelola bioskop belum sepenuhnya membuka akses diskusi bagi rumah produksi kecil.

Sementara itu, Anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi Golkar Andhika Satya Wisastho mengusulkan revisi Undang-Undang No. 33 tahun 2009 tentang Perfilman agar sesuai dengan kondisi industri perfilman sekarang.

"Saya kira kondisi di 2009 dan di 2026 ini sudah amat sangat berbeda tentang Perfilman di Indonesia, dan saat ini saya mengusulkan kalau memungkinkan ke depan Komisi VII juga bisa mengadakan terkait revisi undang-undang terkait tentang perfilman," katanya.

Baca juga: BPI sampaikan masalah keterbatasan bioskop ke DPR

Baca juga: Komisi VII DPR kemukakan perlunya badan pengatur penayangan film


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Anggota Satpol PP di Tulungagung Ikut Pesta Miras, Ternyata Bareng Pencuri
• 10 jam laludetik.com
thumb
Fenomena Jerat Asmara Gelap di Lingkaran Politikus
• 21 jam laluharianfajar
thumb
Bahlil: Ekspor Wajib Melewati BUMN untuk 3 Komoditas Utama
• 18 jam lalukatadata.co.id
thumb
Fedi Nuril Berduka, Sang Ibu Gusmawati Tutup Usia
• 21 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Momen Jam Patek Philippe hingga Audermars Piguet KW Koruptor Dimusnahkan Jaksa
• 3 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.