jpnn.com - Sekretaris Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/Sekretaris Utama BKKBN Prof. Budi Setiyono menyampaikan Indonesia tengah berada di persimpangan sejarah pembangunan. Dalam dua dekade ke depan, bangsa ini akan menikmati momentum bonus demografi, yakni kondisi ketika jumlah penduduk usia produktif lebih besar dibanding usia nonproduktif.
Momentum tersebut sering disebut sebagai "Jendela Emas" yang dapat mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi, peningkatan produktivitas nasional, hingga penguatan daya saing Indonesia di tingkat global.
BACA JUGA: Ingatkan Pemerintah Buka Mata Hadapi Masalah Serius, Anies Singgung soal Obat Tidur
"Namun, bonus demografi tidak otomatis menjadi berkah. Dia hanya akan memberikan manfaat apabila ditopang oleh kualitas sumber daya manusia yang sehat, cerdas, dan produktif. Di sinilah persoalan stunting menjadi tantangan serius yang tidak boleh dipandang sebagai isu kesehatan semata," kata Prof. Budi saat bertemu awak media di Kantor Kemendukbangga/BKKBN, Jakarta, Rabu (20/05/2026).
Dia menjelaskan bahwa stunting adalah ancaman nyata terhadap masa depan bangsa. Anak-anak yang mengalami stunting tidak hanya menghadapi hambatan pertumbuhan fisik, tetapi juga berisiko mengalami gangguan perkembangan kognitif, rendahnya kemampuan belajar, hingga menurunnya produktivitas saat memasuki usia kerja.
BACA JUGA: Prof Tedi Usulkan P3K PW Diintegrasikan Menjadi PPPK Penuh, Begini Argumentasinya
"Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menghambat kemampuan negara dalam memanfaatkan bonus demografi secara optimal," ujar Prof. Budi.
Oleh karena itu, perhatian terhadap persoalan stunting harus terus dijaga dan diperkuat. Penurunan angka stunting bukan sekadar target statistik pemerintah, melainkan investasi strategis untuk memastikan lahirnya generasi unggul Indonesia.
BACA JUGA: Polda Metro Jaya Bentuk Tim Pemburu Begal, Reza Indragiri Mengkritisi
"Jika hari ini kita gagal melindungi anak-anak dari stunting, maka kita sedang mempertaruhkan kualitas generasi produktif di masa depan," ucapnya menegaskan.
Prof. Budi menyebut persoalan stunting juga tidak dapat diselesaikan melalui pendekatan sektoral semata. Penanganannya membutuhkan kolaborasi lintas sektor dan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
Menurutnya, faktor penyebab stunting sangat kompleks, mulai kurangnya asupan gizi, kesehatan ibu dan anak, sanitasi lingkungan, akses air bersih, pola pengasuhan, hingga kondisi sosial ekonomi keluarga. Karena itu, upaya pencegahan harus dilakukan sejak dini, bahkan sejak fase sebelum kehamilan.
"Edukasi kepada calon pengantin, pemenuhan gizi ibu hamil, pemberian ASI eksklusif, pemantauan tumbuh kembang anak, hingga penguatan literasi keluarga menjadi bagian penting yang tidak dapat dipisahkan," tuturnya.
Kemendukbangga/BKKBN menginisiasi Program GENTING (Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting) yang sudah dilaksanakan sejak 2025. Program ini menghadirkan pendekatan kolaboratif dengan melibatkan masyarakat, dunia usaha, komunitas, dan berbagai pemangku kepentingan untuk mendampingi keluarga berisiko stunting.
GENTING tidak hanya berbicara tentang bantuan material, tetapi juga membangun kesadaran kolektif bahwa pencegahan stunting adalah tanggung jawab bersama. Pendekatan gotong royong seperti ini menjadi penting karena persoalan stunting memiliki dimensi sosial yang kuat. "Negara tentu memiliki peran utama, tetapi keberhasilan penanganan stunting juga sangat ditentukan oleh solidaritas sosial masyarakat," lanjut Prof. Budi.
Keberlanjutan program GENTING bergantung kepada dukungan luas publik. Sebab, upaya membangun generasi unggul tidak dapat dilakukan secara instan ataupun bersifat jangka pendek. Konsistensi kebijakan, kesinambungan pendampingan keluarga, serta penguatan partisipasi publik menjadi kunci utama agar penurunan stunting berjalan efektif dan berkelanjutan.
Indonesia tidak boleh kehilangan momentum bonus demografi hanya karena lalai membangun kualitas manusianya sejak dini. Negara-negara yang berhasil memanfaatkan bonus demografi adalah negara yang mampu memastikan generasi mudanya tumbuh sehat, terdidik, dan produktif. Sebaliknya, negara yang gagal mengatasi persoalan dasar kesehatan dan kualitas manusia justru akan menghadapi beban sosial-ekonomi yang lebih besar di masa depan.
"Pada akhirnya, perang melawan stunting adalah perjuangan menjaga masa depan Indonesia," ujar Prof Budi.
Dia menambahkan bahwa setiap anak yang tumbuh sehat dan bebas stunting merupakan modal pembangunan yang nilainya jauh melampaui angka-angka ekonomi. Dari merekalah lahir generasi yang akan menentukan arah kemajuan bangsa.
"Karena itu, menjaga komitmen terhadap penanganan stunting berarti menjaga harapan Indonesia untuk benar-benar menjadi bangsa maju pada saat bonus demografi mencapai puncaknya," kata Prof. Budi.(fat/jpnn)
Redaktur & Reporter : M. Fathra Nazrul Islam




