Jakarta, VIVA – Dalam menjalankan usaha, setiap pedagang tentu menginginkan dagangannya ramai pembeli, memperoleh keuntungan yang halal, serta dipenuhi keberkahan. Di tengah persaingan usaha yang semakin ketat, sebagian orang bahkan tergoda mencari jalan pintas demi menarik pelanggan dan meningkatkan penghasilan, termasuk mempercayai praktik-praktik yang bertentangan dengan ajaran agama seperti pesugihan.
Padahal dalam Islam, rezeki diyakini datang dari Allah SWT dan harus diperoleh melalui cara yang baik serta halal. Selain melakukan usaha secara lahiriah seperti menyusun strategi pemasaran, menjaga kualitas barang, hingga memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan, umat Islam juga dianjurkan memperkuat ikhtiar batin melalui doa.
Salah satu doa yang kerap diamalkan para pedagang berasal dari Nabi Sulaiman AS. Nabi yang dikenal memiliki kerajaan besar, kekayaan melimpah, serta kemampuan luar biasa itu tetap memanjatkan doa kepada Allah SWT agar selalu diberi rasa syukur dan kemampuan menjalankan amal saleh.
Doa tersebut terdapat dalam Al-Qur’an Surah An-Naml ayat 19. Isi doanya bukan semata meminta kekayaan atau keuntungan besar, melainkan memohon agar nikmat yang diberikan Allah dapat dimanfaatkan dengan baik dan membawa keberkahan dalam hidup.
Melalui pengamalan doa ini, umat Islam diharapkan memahami bahwa keberhasilan usaha tidak hanya diukur dari banyaknya keuntungan materi, tetapi juga dari keberkahan, ketenangan hati, dan manfaat yang diberikan kepada sesama.
Berikut doa penglaris dagangan yang diajarkan Nabi Sulaiman AS dalam QS An-Naml ayat 19:
“فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِّنْ قَوْلِهَا وَقَالَ رَبِّ اَوْزِعْنِيْٓ اَنْ اَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِيْٓ اَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلٰى وَالِدَيَّ وَاَنْ اَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضٰىهُ وَاَدْخِلْنِيْ بِرَحْمَتِكَ فِيْ عِبَادِكَ الصّٰلِحِيْنَ
Fatabassama ḍāḥikam min qaulihā wa qāla rabbi auzi‘nī an asykura ni‘matakal-latī an‘amta ‘alayya wa ‘alā wālidayya wa an a‘mala ṣāliḥan tarḍāhu wa adkhilnī biraḥmatika fī ‘ibādikaṣ-ṣāliḥīn(a).
Artinya: Dia (Sulaiman) tersenyum seraya tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dia berdoa, “Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku (ilham dan kemampuan) untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan untuk tetap mengerjakan kebajikan yang Engkau ridai. (Aku memohon pula) masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.””





