JAKARTA, KOMPAS.TV – Pakar ekonomi yang juga analis pasar modal, Ferry Latuhihin, memperkirakan produsen akan mem-pass through atau mengalihkan beban biaya akibat harga minyak yang tinggi ke dalam produk akhir mereka pada bulan ini.
Ferry menyampaikan pendapatnya tersebut dalam dialog Sapa Indonesia Malam, KompasTV, Rabu (20/5/2026).
Awalnya, ia menjawab pertanyaan apakah target pertumbuhan ekonomi 5,8 persen hingga 6,5 persen dapat meyakinkan pasar.
“Kalau meyakinkan pasar belum kelihatan ya. Sebab tadi indeks harga-harga sama gabungan kita jatuh, meneruskan merah yang kemarin, dan dolar juga sempat pagi-pagi menyentuh Rp17.800,” tuturnya.
Baca Juga: Anies Baswedan Minta Pemerintah Serius Sikapi Masalah Ekonomi: Ini Hajat Hidup Ratusan Juta Orang
Kedua, kata dia, juga harus memperhitungkan harga minyak yang tinggi. Terlebih konflik yang terjadi di Timur-Tengah tidak diketahui kapan akan berakhir.
“Sementara harga minyak di futures market kita lihat di atas 100 ya, mungkin di spot market bisa 120, dengan ongkos transport dan asuransi bisa 140. Nah sebelum perang itu kan 60 cuman ya,” kata dia.
Menurutnya, jika mengacu pada kondisi itu, dengan asumsi perang akan berlangsung lebih dari dua tahun, dan harga minyak di atas 100 USD, maka pertumbuhan ekonomi sebesar 4,5 persen sudah cukup bagus.
“Ya saya perkirakan malah Mei ini, produsen-produsen mulai mem-pass-through harga minyak yang tinggi ke dalam produk akhirnya ya. Bukan tidak mungkin year-on-year bulan Mei ini kita pertama kali melihat yang namanya double-digit inflation,” bebernya.
Baca Juga: Prabowo Terpukul Data Ekonomi: Konsisten Tumbuh tapi Kemiskinan Naik, Kelas Menengah Menyusut
Penulis : Kurniawan Eka Mulyana Editor : Gading-Persada
Sumber : Kompas TV
- ferry latuhihin
- ekonomi
- pertumbuhan ekonomi
- harga barang
- inflasi





