Kota Bandung telah lama dikenal dengan ragam kuliner dan keindahan fesyennya. Namun, kisah lain muncul dari kandang milik Dwi Sejahtera Perkasa (DSP) Farm di lereng Cilengkrang. Enam tahun berturut-turut, sapi-sapi berbobot lebih dari 1 ton milik mereka rutin terpilih menjadi hewan kurban Presiden Republik Indonesia.
Tahun ini, DSP Farm kembali dipercaya menyediakan tiga sapi kurban Presiden RI. Dua ekor adalah Tampomas, sapi simental cross berbobot 1,31 ton dan Pamor, sapi simental seberat 1,25 ton. Keduanya akan dikirim ke Jakarta.
Satu ekor lainnya adalah sapi simental bernama Cervo berbobot 1,231 ton. Cervo disiapkan untuk kurban di Masjid Al Ukhuwah, Kota Bandung.
“Alhamdulillah bisa terpilih dan dipercaya lagi,” kata pemilik DSP Farm Vandry Dwitama saat ditemui di Bandung, Rabu (20/5/2026).
Vandry mendirikan DSP Farm tahun 2021. Peternakan itu berdiri di lahan seluas 2 hektar milik keluarga yang diubah dari sawah menjadi kandang.
Dari awalnya hanya memelihara sapi bobot standar di bawah 1 ton, kini mereka fokus memelihara sapi besar yang beratnya lebih dari 1 ton. Saat ini, DSP Farm memiliki sekitar 20 sapi berbobot di atas 1 ton, 10 sapi berbobot 700-900 kilogram.
Setahun menekuni sapi besar, tak terduga, Vandry ditawari ikut seleksi agar ternaknya dipilih jadi kurban Presiden RI. Seleksi menentukan sapi terbesar dan tersehat itu diawasi ketat dinas peternakan di daerah, Kementerian Pertanian, hingga Rumah Tangga Kepresidenan.
Saat itu, belum banyak peternak memelihara sapi besar di Jabar, apalagi Kota Bandung. Sapi besar masih didominasi peternak Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Hasilnya di luar dugaan. Dua sapi milik Vandry yang bobotnya di atas 1 ton ternyata terpilih. Tradisi itu berjalan hingga tahun ini.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Bandung Gin Gin Ginanjar mengatakan, prestasi Vandry dan DSP Farm kembali membuktikan Kota Bandung punya daya saing tinggi mengembangkan peternakan berkualitas.
Perlakuan itu dibutuhkan karena sapi berbobot lebih dari 1 ton memiliki risiko kesehatan lebih tinggi dibanding sapi biasa
Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), hanya ada 1.228 sapi pedaging di Kota Bandung pada 2024. Jumlahnya jelas secuil dari total 336.389 sapi di Jabar. Sebagian besar sapi berbobot di bawah 1 ton.
”Meski populasi tidak banyak, kualitas ternak dari Kota Bandung terbilang unggul dibandingkan daerah sentra peternakan di Indonesia,” katanya.
Menurut Gin Gin, sapi-sapi DSP Farm dipilih setelah melewati tes kesehatan sapi dan pemeriksaan laboratorium ketat. Mulai dari air liur, sampel darah, hingga sampel kotoran hewan.
“Ini adalah untuk keenam kalinya sapi dari Bandung menjadi pilihan Presiden,” kata dia.
Namun, Vandry mengatakan, prestasi itu adalah buah perjalanan panjang. Memelihara sapi berbobot jumbo bukan sekadar soal rajin memberi makan. Kekuatan kaki, kesehatan rumen, hingga tingkat stres hewan ternak menjadi perhatian utamanya.
Dengan alasan itu pula, DSP Farm dibangun di kontur lereng ketimbang lahan datar. Menurut Vandry, sapi berbobot besar membutuhkan kaki dan jantung yang kuat untuk menopang tubuhnya. Aktivitas di medan naik-turun, kata dia, membantu memperkuat otot kaki dan jantung sapi.
“Sapi di sini harus rutin jalan-jalan, setidaknya dua bulan sekali,” kata Vandry.
Selain itu, asupan gizi juga dijaga detail. Vandry menambahkan magnesium dan kalsium untuk menjaga kekuatan tulang dan kaki sapi.
Hal itu dibarengi pemantauan ketat seperti kesehatan rumen, cacing hati, hingga pencegahan penyakit seperti penyakit mulut dan kuku (PMK) dan LSD (Lumpy Skin Disease). ”Seluruh sapi di DSP Farm telah mendapat vaksinasi dari pemerintah,” katanya.
“Perlakuan itu dibutuhkan karena sapi berbobot lebih dari 1 ton memiliki risiko kesehatan lebih tinggi dibanding sapi biasa,” kata dia.
Namun, perhatian Vandry tidak berhenti pada fisik. Ia juga menjaga kondisi psikologis sapi-sapinya. Sapi berukuran besar, misalnya, cenderung menyukai lingkungan tenang. Suara keras dan kondisi bising dapat membuat sapi stres dan lebih banyak berbaring.
“Perlakuan kita harus benar-benar halus,” ujar Vandry yang terbiasa memanggil sapi-sapinya dengan sebutan “sayang”.
Pendekatan modern itu tidak lepas dari latar belakang Vandry. Ia merupakan lulusan strata dua manajemen yang pernah bekerja sebagai analis perbankan pada 2012-2019. Pengalaman itu membuatnya terbiasa menghitung ongkos produksi secara rinci, mulai dari pakan hingga distribusi.
Rumput hijau untuk kebutuhan sapi didatangkan dari Sumedang, sedangkan ampas gandum berasal dari Jakarta. Menurut Vandry, ketersediaan pakan menjadi tantangan tersendiri karena Kota Bandung tidak memiliki banyak lahan hijau untuk peternakan besar.
Meski begitu, Vandry mengakui tidak semua sapi berkembang sesuai harapan. Ia mencontohkan Pieter, sapi Belgian Blue miliknya yang sempat dijagokan menjadi sapi kurban Presiden tahun ini.
Dengan tubuh kekar dan bobot lebih dari 1 ton, Pieter sebenarnya cukup menonjol. Namun, posturnya dianggap kurang tinggi dibanding sapi lain di kandang DSP Farm.
“Insyaallah tahun depan Pieter yang bakal tampil,” kata Vandry.





