Ebola Bundibugyo Menggila di Kongo, Risiko Global Masih Rendah

kompas.id
9 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS — Virus mematikan ebola jenis Bundibugyo menyebar cepat di wilayah timur Republik Demokratik Kongo, menewaskan sedikitnya 139 orang dan memicu hampir 600 kasus dugaan infeksi. Meski demikian, risiko penularan di tingkat global dinilai masih rendah.

Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus, Rabu (20/5/2026), mengatakan, ia sangat prihatin terhadap skala epidemi, terutama karena penyebaran kini telah mencapai kawasan perkotaan, menewaskan tenaga kesehatan, dan melibatkan mobilitas penduduk yang tinggi.

Menurut Tedros, di luar beberapa lusin kasus infeksi yang dikonfirmasi, terdapat hampir 600 kasus dugaan virus ebola Bundibugyo dan 139 kematian yang diduga terkait penyakit ini. ”Kami memperkirakan angka-angka tersebut akan terus meningkat mengingat lamanya virus beredar sebelum wabah terdeteksi,” kata Tedros.

Terdapat hampir 600 kasus dugaan virus ebola Bundibugyo dan 139 kematian yang diduga terkait penyakit ini.

Komite Darurat WHO mengonfirmasi bahwa wabah ebola adalah keadaan darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional (public health emergency of international concern/PHEIC). Namun, mereka menegaskan, situasi tersebut bukan keadaan darurat pandemi global.

Baca JugaEbola Kembali Muncul, Apa yang Harus Diwaspadai?
Terlambat dideteksi

Menurut Tedros, yang membuat wabah ini berbahaya karena virus ini telah menyebar tanpa terdeteksi selama berminggu-minggu. Otoritas kesehatan awalnya menguji sampel untuk jenis ebola Zaire, varian yang lebih umum, dan hasilnya negatif. Baru pada 14 Mei 2026, laboratorium mengonfirmasi bahwa wabah disebabkan oleh virus ebola Bundibugyo, jenis langka yang belum memiliki vaksin ataupun obat yang disetujui.

”Kami tahu skala epidemi ini jauh lebih besar,” kata Tedros.

”Dan kami memperkirakan jumlah kasus akan terus meningkat,” ucapnya lagi.

Hasil penilaian WHO menunjukkan, ancaman ebola di tingkat nasional dan regional dinyatakan tinggi. Virus telah menyebar dari Kongo ke Uganda, dengan dua kasus terkonfirmasi, termasuk satu kematian di ibu kota Kampala.

Pemerintah Kongo menyebut pasien pertama meninggal pada 24 April di kota Bunia. Namun, jenazahnya dipulangkan ke Mongbwalu, wilayah pertambangan padat penduduk di Provinsi Ituri. ”Itu menyebabkan wabah meningkat,” kata Menteri Kesehatan Kongo Samuel Roger Kamba, seperti dilaporkan AFP.

Baca JugaEbola Meluas, WHO Rapat Darurat

Keterlambatan deteksi membuat rantai penularan tak terkendali. Sistem pengawasan kesehatan dikritik gagal bekerja. ”Sistem pengawasan kami tidak berfungsi,” kata ahli virus Kongo, Jean-Jacques Muyembe. ”Ada yang salah dalam proses pengujian. Karena itulah kita berakhir dalam situasi bencana ini.”

Saat ini kasus telah muncul di Bunia, Goma, Butembo, Nyakunde, dan Mongbwalu, wilayah yang dihuni lebih dari satu juta orang. Rumah sakit mulai kewalahan menghadapi lonjakan jumlah pasien.

Organisasi kemanusiaan Médecins Sans Frontières (MSF) mengatakan fasilitas kesehatan di Bunia sudah tidak memiliki ruang isolasi. ”Setiap rumah sakit yang kami hubungi mengatakan mereka penuh dengan kasus yang dicurigai ebola. Tidak ada tempat lagi,” kata Trish Newport dari MSF.

Krisis diperburuk oleh konflik bersenjata di Kongo timur. Sebagian wilayah berada di bawah kendali kelompok pemberontak M23 yang didukung Rwanda, membuat distribusi bantuan dan pengawasan wabah menjadi jauh lebih sulit.

Krisis diperburuk oleh konflik bersenjata di Kongo timur.

WHO memperkirakan wabah ini masih akan berlangsung setidaknya dua bulan ke depan. ”Kami bahkan belum menemukan pasien nol,” kata Anne Ancia, Kepala Tim WHO di Kongo.

Serial Artikel

Berpacu dengan Ebola Langka, Memburu Obat dan Vaksin di Tengah Wabah

Para ilmuwan berpacu melawan waktu dengan virus ebola langka yang menyebar di Afrika, sementara dunia belum memiliki vaksin ataupun obatnya.

Baca Artikel
Tingkat penularan dan vaksin

Ketua Panel Komite Darurat WHO Lucille H Blumberg menekankan bahwa penularan ebola terjadi melalui kontak langsung dengan darah dan cairan tubuh orang yang terinfeksi, yang kemungkinan terjadi pada pasien yang meninggal pada 5 Mei di Bunia, ibu kota provinsi Ituri, setelah keluarganya memutuskan untuk mengganti peti mati.

”Jadi, ini bukan kontak biasa, ini bukan penularan melalui udara. Saya pikir kita perlu menyadari hal itu. Dan ini berkaitan dengan pembatasan perjalanan, yang tidak didukung berdasarkan rekomendasi (Peraturan Kesehatan Internasional) IHR,” tegasnya.

Blumberg menggarisbawahi tantangan dalam mengendalikan wabah mengingat krisis kemanusiaan yang sedang berlangsung di antaranya tantangan keamanan. Selain itu juga populasi yang sangat mobile dan kedekatan dengan banyak perbatasan.

”Sumber daya, personel tambahan… penelitian dan pengembangan tindakan penanggulangan sangat dibutuhkan,” ujar Blumberg.

Kongo kini menunggu pengiriman vaksin eksperimental dari Amerika Serikat dan Inggris yang dikembangkan peneliti Universitas Oxford untuk berbagai jenis ebola. ”Kami akan mulai memberikan vaksin dan melihat efektivitasnya,” kata Muyembe.

Baca JugaEbola, dari Kongo ke Uganda

Namun, para ahli mengingatkan bahwa vaksin yang benar-benar siap pakai masih membutuhkan waktu. Untuk sementara, langkah paling penting adalah memutus rantai penularan melalui pelacakan kontak, isolasi pasien, pemakaman aman, dan peningkatan kebersihan.

Unicef telah mengirim lebih dari 15 ton bantuan darurat berupa sabun, disinfektan, alat pelindung diri, tablet pemurni air, dan tangki air ke wilayah terdampak.

Ebola merupakan penyakit yang sangat menular melalui cairan tubuh seperti darah, muntah, atau air mani.

Ebola merupakan penyakit yang sangat menular melalui cairan tubuh seperti darah, muntah, atau air mani. Gejalanya meliputi demam tinggi, muntah, diare, nyeri otot, hingga pendarahan internal. Dalam wabah besar Afrika Barat satu dekade lalu, lebih dari 11.000 orang meninggal.

”Ebola adalah penyakit yang berkaitan dengan belas kasih,” kata Craig Spencer dari Universitas Brown, yang pernah selamat dari ebola.

”Banyak orang tertular karena mereka merawat anggota keluarga yang sakit,” ucapnya.

Kini, di timur Kongo, negara yang sudah lama dilanda perang dan krisis kemanusiaan, wabah itu kembali menguji sistem kesehatan yang rapuh, sementara waktu terus berjalan lebih cepat daripada respons yang tersedia.

Antisipasi di Indonesia

Direktur Pascasarjana Universitas Yarsi, Tjandra Yoga Aditama, mengatakan, ebola pernah beberapa kali dinyatakan sebagai PHEIC. ”Ketika saya masih bertugas sebagai Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, ebola juga pernah dinyatakan PHEIC,” katanya.

Salah satu kekhawatiran terhadap penyakit ini adalah angka kematiannya yang tinggi. ”Angka kematian (case fatality rates) ebola Bundibugyo ini berkisar 30 persen sampai 50 persen, berdasar pada wabah yang sebelumnya sudah pernah terjadi,” katanya.

Baca JugaWabah Ebola di Kongo dan Uganda Jadi Kedaruratan Global, Indonesia Tingkatkan Kewaspadaan

Menurut Tjandra, ada beberapa hal yang perlu dilakukan negara terjangkit dan sekitarnya sesudah suatu penyakit dinyatakan sebagai PHEIC. Tindakan itu meliputi pembentukan dan memberangkatkan tim gerak cepat ke lokasi, pengiriman obat dan alat kesehatan, memperkuat surveilans, serta melakukan konfirmasi laboratorium.

Selain itu, perlu pelaksanaan program pengendalian infeksi. mendirikan pusat pengobatan yang aman, dan melibatkan masyarakat secara aktif. Sementara itu, negara-negara lain yang jauh dari sumber wabah perlu waspada. ”Kita di Indonesia tentu perlu mengawasi perkembangan yang ada dan melakukan kesiapan yang diperlukan,” ujarnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Peringati Harkitnas, Bank Mandiri Perkuat Kepedulian Sosial Bagikan 2.800 Paket Sembako di Makassar
• 7 jam laluharianfajar
thumb
Selamat Datang Pemerintahan Baru
• 4 jam lalukompas.id
thumb
Simak selengkapnya harga tiga jenama emas Pegadaian Kamis pagi ini
• 10 jam laluantaranews.com
thumb
Harga Komoditas: Minyak Mentah Ambles 5,7 Persen, Timah Melonjak 4,6 Persen
• 9 jam lalukumparan.com
thumb
Fatayat NU Sikapi Dugaan Pencabulan di Kampus di Blitar, Minta Kasus Diselidiki
• 23 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.