Hari ini pukul 09.00 WIB, tepat 28 tahun silam, Presiden ke-2 RI Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya. Pengumuman dilakukan di Istana Merdeka, Jakarta, pada 21 Mei 1998. Presiden Soeharto yang telah memimpin selama 32 tahun mundur dari jabatannya akibat desakan rakyat. Gerakan rakyat ini dipelopori mahasiswa dengan melakukan aksi unjuk rasa selama berbulan-bulan terkait kondisi ekonomi dan politik yang kian pelik. Mundurnya orang nomor satu Orde Baru ini disambut gegap gempita oleh seluruh elemen masyarakat.
Headline Kompas pada 21 Mei 1998, bertepatan saat Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya, menampilkan judul ”Selamat Datang Pemerintahan Baru” dengan foto utama Sultan Hamengku Buwono X memberikan maklumat di hadapan satu juta penduduk Yogyakarta dan sekitarnya pada 20 Mei 1998. Isi maklumat tersebut mengajak masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta dan seluruh rakyat Indonesia mendukung Gerakan Reformasi.
Peristiwa bersejarah Republik ini, saat Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya, dimuat di Kompas yang terbit pada 22 Mei 1998 secara detail. Begini selengkapnya:
Pengalihan kekuasaan yang bersejarah itu berlangsung 10 menit di credentials room Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (21/5/1998), yang didahului gelombang aksi reformasi dari ribuan mahasiswa, yang didukung para cendekiawan, tokoh masyarakat, purnawirawan, dan ibu-ibu rumah tangga di berbagai kota di negeri berpenduduk 202 juta jiwa ini.
Acara peletakan jabatan Presiden berlangsung pukul 09.00 WIB di Istana Merdeka. Sekitar pukul 08.25 WIB, Wakil Presiden BJ Habibie tiba di halaman samping Istana Merdeka. Lima menit kemudian, sekitar pukul 08.30 WIB, Presiden Soeharto tiba didampingi putri sulungnya, Siti Hardijanti Rukmana (Tutut). Lalu 10 menit kemudian, Ketua MPR/DPR Harmoko beserta empat wakil ketua, yakni Syarwan Hamid, Abdul Gafur, Fatimah Achmad, dan Ismail Hasan Metareum, tiba. Menyertai pimpinan MPR/DPR adalah Sekjen DPR Afif Ma’roef.
Soeharto dan Tutut tiba dengan pengawalan kepresidenan seperti biasanya. Mobil yang ditumpangi bernomor polisi B-1. Tutut tidak lagi mengenakan lencana menteri, Najaka. Para menteri Kabinet Pembangunan VII yang hadir adalah Muladi (Menteri Kehakiman), Alwi Dahlan (Menteri Penerangan), Saadillah Mursjid (Menteri Sekretaris Negara), dan Jenderal TNI Wiranto (Menteri Pertahanan dan Keamanan/Panglima ABRI).
Beberapa saat kemudian, Habibie datang diiringi konvoi pengawalan Pasukan Pengamanan Presiden. Kendaraan yang digunakan adalah Mercedes hitam berkemudi kiri bernomor polisi B-2.
Sebelum mengumumkan pengunduran dirinya, Soeharto yang didampingi BJ Habibie mengadakan pertemuan silaturahmi selama lima menit dengan pimpinan MPR/DPR, termasuk Sekjen DPR Afif Ma’roef, di Ruang Jepara, Istana Merdeka.
Pada pukul 09.00 WIB, Soeharto di muka mikrofon menyatakan, ”Sejak beberapa waktu terakhir, saya mengikuti dengan cermat perkembangan situasi nasional kita, terutama aspirasi rakyat untuk mengadakan reformasi di segala bidang kehidupan berbangsa dan bernegara. Atas dasar pemahaman saya yang mendalam terhadap aspirasi tersebut, dan terdorong oleh keyakinan bahwa reformasi perlu dilaksanakan secara tertib, damai, dan konstitusional.”
Dikatakan, ”Demi terpeliharanya persatuan dan kesatuan bangsa serta kelangsungan pembangunan nasional, saya telah menyatakan rencana pembentukan Komite Reformasi dan mengubah susunan Kabinet Pembangunan VII. Namun demikian, kenyataan hingga hari ini (21 Mei 1998) menunjukkan Komite Reformasi tersebut tidak dapat terwujud karena tidak adanya tanggapan yang memadai terhadap rencana pembentukan komite tersebut. Dalam keinginan untuk melaksanakan reformasi dengan cara-cara sebaik-baiknya tadi, saya menilai bahwa dengan tidak dapat diwujudkannya Komite Reformasi, maka perubahan susunan Kabinet Pembangunan VII menjadi tidak diperlukan lagi.”
”Dengan memperhatikan keadaan di atas, saya berpendapat sangat sulit bagi saya untuk dapat menjalankan tugas pemerintahan negara dan pembangunan dengan baik. Karena itu, dengan memperhatikan ketentuan Pasal 8 UUD 1945 dan secara sungguh-sungguh memperhatikan pandangan pimpinan DPR dan pimpinan fraksi-fraksi yang ada di dalamnya, saya memutuskan untuk menyatakan berhenti dari jabatan saya sebagai presiden, terhitung sejak saya bacakan pernyataan ini pada hari ini, Kamis 21 Mei 1998,” ujar Soeharto.
Soeharto mengemukakan, ”Pernyataan saya berhenti dari jabatan sebagai Presiden RI saya sampaikan di hadapan saudara-saudara pimpinan DPR dan juga adalah pimpinan MPR pada kesempatan silaturahmi.”
Ditegaskan, sesuai dengan Pasal 8 UUD 1945, Wakil Presiden Prof Dr Ir BJ Habibie yang akan melanjutkan sisa waktu jabatan Presiden/Mandataris MPR 1998-2003.
”Atas bantuan dan dukungan rakyat selama saya memimpin negara dan bangsa Indonesia ini, saya ucapkan terima kasih dan minta maaf bila ada kesalahan dan kekurangan-kekurangannya. Semoga bangsa Indonesia tetap jaya dengan Pancasila dan UUD 1945,” kata Soeharto.
Ia mengemukakan, ”Mulai hari ini (21 Mei 1998) pula, Kabinet Pembangunan VII demisioner, dan kepada para menteri, saya ucapkan terima kasih. Oleh karena keadaan tidak memungkinkan untuk menyelenggarakan pengucapan sumpah di hadapan DPR, maka untuk menghindari kekosongan pimpinan dalam menyelenggarakan pemerintahan negara, kiranya Saudara Wakil Presiden sekarang juga akan melaksanakan pengucapan sumpah jabatan presiden di hadapan Mahkamah Agung.”
Setelah itu, Habibie maju ke depan mikrofon yang sama dan mengucapkan sumpah. Seusai mengucapkan sumpah, Soeharto mendatangi Habibie dan menjabat tangannya.
Tatkala meninggalkan halaman Istana Merdeka, pengawalan untuk Soeharto masih seperti ketika datang. Namun Mercedes hitam yang ditumpangi Soeharto tak lagi bernomor polisi B-1, tetapi B 2044 AR. Ajudannya masih seperti ketika datang, yakni Kolonel (Kav) Issantoso dan Kolonel (Pol) Sutanto. Dalam iringan konvoi Soeharto, tampak mobil Land Rover defender dengan bintang tiga merah, dan di dalamnya duduk Panglima Kostrad Letjen TNI Prabowo Subianto.
Sementara itu Presiden ke- 3 RI , BJ Habibie ketika meninggalkan istana, duduk di mobil yang sama sewaktu tiba. Hanya nomor pelatnya telah berubah, bukan lagi B-2, dan bukan pula B-1, tetapi pelat besar berwarna dasar merah dengan tulisan Indonesia I. Sampai Kamis (21/5/1998) malam, jalan di depan Istana Merdeka masih ditutup dengan rintangan pagar kawat berduri dan kendaraan militer.
Pergantian presiden tampaknya tak terlalu menjadi perhatian warga di seputar Jakarta. Tidak terlihat adanya luapan kegembiraan berlebihan atau konvoi-konvoi warga berkeliling kota menyambut presiden baru. Tampaknya warga tidak begitu peduli akan peristiwa besar itu.
Di seluruh penjuru kota, suasana tampak normal. Walau hari libur, lalu lintas kendaraan cukup ramai, seperti dipantau Kompas di Jl Jend Sudirman, Jl MH Thamrin, Jl Kwitang, Jl Kramat Raya, Jl Salemba, Jl Gajah Mada, Jl Manggadua, Jl Gunung Sahari, Jl Jatinegara Timur, Jl Otista, Jl Dewi Sartika, Jl Kalibata, Jl Pasar Minggu, kawasan Mampang Prapatan. Beberapa warga terlihat bergerombol di pinggir jalan, antara lain di Jl Gunung Sahari, Jl Otista, tetapi tidak membicarakan presiden baru.
Mereka hanya sedang menunggu angkutan umum. Pemantauan Kompas, hari Kamis (21/5/1998), sebagian besar jalan-jalan yang diblokir pasukan maupun kendaraan tempur sehari sebelumnya, sudah tidak terlalu mencolok. Hanya di beberapa ruas jalan, terutama di kawasan Monas, pasukan masih berjaga-jaga dengan ketat dan masih diblokade. Sedangkan di jembatan Semanggi dan sepanjang Jl Jend Sudirman, Jl MH Tamrin, kawasan Pasarsenen, pasukan masih terlihat berjaga-jaga walau terlihat tidak ketat.
Kerumunan massa yang bergembira menyambut pengunduran diri Presiden Soeharto justru hanya terlihat di Gedung DPR/MPR dan sekitarnya. Para mahasiswa yang mengerumuni pesawat televisi di lobi Lokawirasabha DPR berteriak dan berjingkrak kesenangan begitu mendengar Presiden Soeharto mundur. Setelah berjingkrak dan bersalam-salaman. Mereka berlarian ke tangga utama DPR sambil menyanyikan lagu Sorak-sorak Bergembira.
Seiring berkumandangnya lagu kebangsaan Indonesia Raya, mereka menaikkan bendera Merah Putih setengah tiang menjadi satu tiang penuh. Jaket almamater yang berwarna-warni dilepaskan, karena mereka beranggapan bahwa aksi telah berubah menjadi pesta rakyat. Bahkan, belasan mahasiswa mengekspresikan kegembiraan dengan menceburkan diri ke kolam air mancur di halaman depan Gedung DPR/MPR.
Seorang mahasiswi Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) meneteskan air mata setelah mendengar berita mundurnya Soeharto. "Saya bahagia sekali," ujarnya singkat sambil terus menangis. Sementara Ari, mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Indonesia mengatakan, perjuangan mereka belum tuntas.
"Setelah Pak Harto turun, masih ada masalah, siapa yang akan menggantinya. Lagi pula, tidak hanya orangnya yang diganti, tapi sistem juga perlu diperbaiki," tegasnya. Hal senada diungkapkan Anton, mahasiswa Universitas Dr Moestopo, dan Eki, mahasiswa Fakultas Sastra UI.
Sementara Iwan yang tinggal di Cengkareng, Jakarta Barat mengatakan, ia tidak mau ketinggalan momen bersejarah ini. "Begitu saya mendengar Presiden mengundurkan diri, saya pergi ke Gedung DPR," ujarnya. Untuk itu dia rela berjalan kaki dari perempatan Slipi sampai ke Gedung DPR yang berjarak sekitar dua kilometer. Iwan tidak mengalami kesulitan memasuki gedung DPR yang dijaga ABRI dan mahasiswa. "Saya hanya menunjukkan KTP (Kartu Tanda Penduduk) saja, lalu boleh masuk," katanya.
Hingga Kamis (21/5/1998) sore, suasana di depan gedung wakil rakyat itu masih marak. Puluhan kendaraan masih parkir seenaknya, baik di pinggir Jalan Gatot Subroto maupun di dalam jalan tol. Ribuan warga masih setia menyaksikan aksi "pendudukan" gedung MPR/DPR oleh mahasiswa.
Di Jl Gatot Subroto, hanya dua dari empat lajur yang bisa dilalui kendaraan. Itu pun pengendara harus hati-hati karena kendaraan yang diparkir sangat tidak beraturan dan warga menyeberang di sembarang tempat. Di jalan tol, lalu lintas juga tersendat karena banyaknya kendaraan yang diparkir dan penyeberang jalan.
Tetapi di luar kawasan Gedung MPR/DPR, suasana Jakarta tampak lengang. Di pusat pertokoan yang selamat dari amuk massa pekan lalu, seperti Megamal Pluit, Pasarsenen, Pasarbaru, Manggadua, sama sekali tidak terlihat adanya kesibukan. Toko-toko masih tutup.
Sementara itu, pusat rekreasi warga Jakarta, Taman Impian Jaya Ancol juga lengang meskipun sejumlah muda-mudi terlihat menikmati udara pantai. Dunia Fantasi yang biasanya dipadati pengunjung pada hari-hari libur, kemarin tutup. Sekitar 10 keluarga dengan anak-anaknya harus kecewa menatap loket-loket Dunia Fantasi yang tertutup.
Di Bogor, pengunduran diri Soeharto dari jabatan presiden disambut dengan memotong sapi dan kambing, masing-masing sembilan ekor. Sapi dan kambing itu dipotong selama tiga hari berturut-turut dan dagingnya dibagikan kepada masyarakat sekitarnya di daerah Perumahan Bogor Baru.
Warga yang memotong kambing dan sapi itu adalah Ki Gendeng Pamungkas, paranormal yang tinggal di daerah Bogor Baru, Kotamadya Bogor. Ki Gendeng Pamungkas mengatakan, penyembelihan hewan itu sebagai kaul.
Di Tangerang, kendati kegembiraan terpancar dari sejumlah warga, setelah Soeharto menyatakan berhenti, situasi Kotamadya/Kabupaten Tangerang masih lengang. Jalan-jalan sepi dari mobil pribadi maupun angkutan umum. Sedangkan toko-toko sebagian besar tutup.
Di kota-kota kecamatan di wilayah pantai utara Tangerang, seperti Pakuhaji, Teluknaga, dan Mauk, tak ada perubahan suasana ketika ada pengumuman Soeharto berhenti sebagai presiden.
Seorang pemilik warung makanan ringan yang ditemui di Tanjunganom, Kecamatan Pakuhaji, Kamis (21/5/1998) sekitar pukul 13.00, mengaku belum tahu Soeharto mengakhiri jabatannya sebagai presiden, dan tak tahu siapa penggantinya. "Habis saya tidak punya televisi," katanya.
Sebagai gambaran, beberapa hari menjelang Soeharto lengser, di Jakarta dan beberapa kota besar di Indonesia dilanda kerusuhan dan penjarahan di pusat-pusat ekonomi yang menyebabkan timbulnya korban jiwa. Selain itu demonstrasi mahasiswa menuntut Soeharto mundur mencapai puncaknya dengan pendudukan Gedung MPR/DPR. Kondisi itu dipicu semakin memburuknya kondisi ekonomi akibat krisis moneter yang melanda Indonesia sejak 1997 dan semakin menguatnya konsolidasi nasional para mahasiswa untuk menumbangkan Orde Baru yang telah berkuasa selama 32 tahun.





