Aral Bisnis Kendaraan Niaga Listrik Kalista dan ESTI di Wilayah Rural

bisnis.com
2 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Perusahaan penyedia ekosistem kendaraan listrik komersial Kalista, yang dinaungi Grup Indika Energy, memandang transisi menuju logistik hijau di Indonesia masih memiliki peluang besar, meskipun tantangan infrastruktur dan investasi awal masih membayangi pelaku usaha.

Direktur Utama Kalista Group Albert Aulia Ilyas mengatakan, penggunaan kendaraan niaga listrik saat ini masih didominasi di kawasan perkotaan. Kondisi tersebut sejalan dengan kesiapan infrastruktur pengisian daya yang lebih berkembang di wilayah urban.

Meski demikian, penggunaan kendaraan niaga listrik di wilayah pedesaan atau rural area masih relatif terbatas. Padahal, aktivitas logistik nasional juga menjangkau wilayah nonperkotaan dengan kebutuhan distribusi yang terus meningkat.

Oleh karena itu, Kalista mulai menyiapkan strategi untuk memperluas dukungan infrastruktur kendaraan listrik niaga hingga ke wilayah rural area.

“Nah, untuk kesiapan infrastruktur di rural area, apabila memang diperlukan dan hitung-hitungan secara bisnis masuk, salah satu solusi yang diberikan Kalista adalah membantu menyiapkan infrastrukturnya,” ujar Albert di Jakarta, Rabu (20/5/2026).

Selain menyiapkan infrastruktur, Kalista juga menjalankan berbagai strategi untuk mendorong pelaku usaha beralih ke kendaraan listrik niaga. Salah satunya melalui edukasi dan pembuktian langsung terkait efisiensi biaya operasional yang diperoleh dari penggunaan armada listrik.

Baca Juga

  • Grup Indika (INDY) Incar Pasok Bus Listrik TransJakarta Lewat Kalista
  • Grup Indomobil Foton Gandeng Kalista Perluas Ekosistem EV Niaga
  • Ikon Konservasi TNTN Riau, Anak Gajah Tari Kalista Lestari, Mati Mendadak

Apalagi, lonjakan harga minyak dunia hingga menembus US$100 per barel akibat konflik di Timur Tengah mulai meningkatkan tekanan biaya operasional sektor logistik. Kondisi tersebut dinilai mendorong pelaku usaha lebih terbuka terhadap kendaraan niaga listrik.

“Apalagi dengan situasi sekarang, dampak ke bisnis dan finansial akan terlihat sekali. Biasanya kalau [beban] itu sudah mulai terasa, para pelaku usaha akan lebih terbuka untuk melakukan transisi ke kendaraan listrik,” jelasnya.

Kendati demikian, Albert menilai percepatan transisi menuju logistik hijau tetap membutuhkan dukungan pemerintah, baik melalui insentif kendaraan maupun percepatan pembangunan infrastruktur pengisian daya.

“Kalau melihat benchmark di beberapa negara, percepatan adopsi EV memang biasanya didukung subsidi dan pembangunan infrastruktur. Kalau ingin transisi berjalan cepat, kedua hal tersebut memang penting,” ujar Albert.

Saat ini, pemerintah tengah menyiapkan skema Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) yang direncanakan berlaku mulai Juni 2026 untuk kendaraan listrik murni. Selain itu, pemerintah juga memprioritaskan insentif lebih besar bagi kendaraan listrik berbasis baterai nikel sebagai bagian dari strategi hilirisasi nasional.

Sebelumnya, pemerintah juga telah menerbitkan berbagai stimulus kendaraan listrik melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 12/2025, mulai dari fasilitas PPN DTP hingga pembebasan bea masuk impor completely built up (CBU) kendaraan listrik.

Efisiensi Operasional Jadi Daya Tarik

Di sisi lain, gejolak harga bahan bakar minyak (BBM) akibat ketegangan geopolitik global mulai mendorong pelaku industri mempercepat adopsi kendaraan listrik untuk mendukung operasional logistik.

Salah satunya dilakukan oleh perusahaan tekstil PT Ever Shine Tex Tbk. (ESTI), atau Evershine Group yang mulai mengimplementasikan kendaraan listrik untuk distribusi operasional perusahaan melalui kerja sama dengan Kalista.

Direktur Ever Shine Group, Michael Sung mengatakan penggunaan armada kendaraan listrik niaga mampu memangkas biaya operasional secara signifikan dibandingkan kendaraan konvensional.

“Di luar biaya maintenance dan lain-lain yang ditanggung Kalista, total saving bisa mendekati 70% dibanding kendaraan konvensional. Jadi memang cukup signifikan dari sisi biaya,” ujar Michael pada kesempatan yang sama.

Selain efisiensi biaya, perseroan juga mencatatkan penurunan emisi yang cukup signifikan. Berdasarkan pengukuran perusahaan pada rute Jakarta—Bandung pulang pergi, penggunaan kendaraan listrik mampu menekan emisi sekitar 35%—41%.

Adapun, Ever Shine Group sebelumnya mulai mengadopsi kendaraan listrik sebagai respons atas tantangan kenaikan harga BBM yang terjadi di pasar domestik. Sebanyak 6 unit truk listrik disiapkan untuk mendukung distribusi produk di wilayah Jakarta dan Bandung kepada sejumlah pelanggan, seperti Uniqlo, Atalon, Shopee, Gojek, Grab, Torch, hingga Eiger.

"Sebelumnya, kami sudah melakukan uji coba bersama Kalista untuk dua tipe truk yang digunakan, dengan hasil yang sangat positif, tercatat, kami bisa menghemat biaya bahan bakar hingga 40%," ujar Michael.

Dalam implementasinya, Kalista juga mengintegrasikan armada kendaraan listrik tersebut dengan Fleet Management System (FMS) milik perusahaan melalui K-Move Dashboard untuk memantau operasional secara real-time.

Peremajaan Armada Logistik

Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) memandang kendaraan niaga listrik berpotensi menjadi solusi untuk memodernisasi armada logistik nasional yang saat ini masih didominasi kendaraan berusia tua.

Ketua Umum Aptrindo Gemilang Tarigan mengatakan, kendaraan niaga listrik dapat menjadi alternatif rasional menuju logistik hijau di tengah lonjakan biaya operasional akibat kenaikan harga BBM.

Saat ini, sektor logistik nasional menghadapi tantangan besar dari sisi efisiensi armada. Dari total sekitar 6,4 juta unit truk nasional, mayoritas masih menggunakan mesin berbahan bakar fosil dengan usia operasional yang relatif tua.

Kondisi tersebut terlihat dari komposisi armada, di mana hanya sekitar 21% truk yang berusia di bawah lima tahun, sedangkan sekitar 65% lainnya telah beroperasi lebih dari 20 tahun.

Situasi tersebut membuka peluang penetrasi kendaraan listrik, terutama di kawasan dengan mobilitas terbatas seperti pelabuhan yang memiliki tingkat polusi cukup tinggi akibat dominasi truk diesel.

Secara teknis, kendaraan listrik tidak menghasilkan emisi gas buang langsung di area operasional sehingga dinilai cocok untuk kawasan pelabuhan yang selama ini menghadapi persoalan polusi udara.

Gemilang menilai kawasan pelabuhan dapat menjadi titik awal yang ideal untuk peremajaan armada melalui penggunaan truk listrik.

"Populasi umur truk di pelabuhan berada pada angka 30–40 tahun. Kondisi ini membuka peluang penggunaan truk listrik sebagai solusi peremajaan armada," ujar Gemilang.

Meski menawarkan efisiensi jangka panjang, adopsi kendaraan niaga listrik masih menghadapi tantangan besar dari sisi investasi awal. Harga satu unit truk listrik saat ini diperkirakan mencapai sekitar 2,5 kali lipat dibandingkan truk diesel konvensional, sehingga membutuhkan belanja modal yang jauh lebih besar bagi pelaku usaha.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Aston Villa Juarai Liga Europa usai Hajar Freiburg 3-0, Unai Emery Ungkap Peran Penting Suporter
• 3 jam lalukompas.tv
thumb
Respons Kemenkes soal Dharma Pongrekun Gugat UU Kesehatan ke MK
• 3 jam laludetik.com
thumb
Qodari Beberkan Alasan Prabowo Perketat Ekspor
• 2 jam lalueranasional.com
thumb
Arsenal akan Lakukan Parade Juara Liga Inggris pada 31 Mei
• 10 jam lalumetrotvnews.com
thumb
PT Vale Tingkatkan Investasi Lingkungan Sebesar 54,3 Persen Menjadi US$43,79 Juta Sepanjang Tahun 2025
• 15 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.